← Beranda
Kronologi Jatuhnya Pesawat Hercules C-130 Turki di Langit Georgia: Tragedi di Tengah Misi Penerbangan
Rian AlfiantoRabu, 12 November 2025 | 21.02 WIB
Detik-detik pesawat angkatan udara Turki jatuh terekam kamera. (East2West)

JawaPos.com - Langit di atas perbatasan timur Georgia pada Selasa (11/11) sore waktu setempat berubah mencekam. Sebuah pesawat angkut militer C-130E Hercules milik Angkatan Udara Turki tiba-tiba terlihat kehilangan kendali, terpecah menjadi beberapa bagian di udara, sebelum tubuh utamanya berputar jatuh dengan sayap masih menempel dan menghantam tanah dengan keras.

Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan detik-detik mengerikan saat pesawat itu jatuh dari ketinggian, diikuti ledakan besar dan gumpalan asap hitam pekat membumbung ke langit. 

Di dalamnya terdapat 20 orang, termasuk awak dan personel militer Turki, yang tengah dalam perjalanan dari Ganja, Azerbaijan, menuju Turki.

Kronologi Penerbangan Terakhir TUAF543

Menurut data penerbangan dari Flightradar24, pesawat dengan kode panggilan TUAF543 itu lepas landas dari Bandara Internasional Ganja sekitar pukul 2:19 siang waktu setempat. Sekitar 30 menit kemudian, sinyal terakhir pesawat terekam pada pukul 2:49 siang (10:49 malam UTC).

Dalam catatan radar, C-130E itu sempat berbelok ke arah timur laut melintasi Waduk Mingechevir, kemudian naik hingga ketinggian 15.000 kaki, sebelum kembali berbelok ke arah barat laut dan akhirnya menuju wilayah udara Georgia. 

Pesawat mencapai ketinggian jelajah 24.000 kaki pada pukul 10:41 UTC, hanya beberapa menit sebelum hilang dari pantauan radar.

Tak lama setelah itu, potongan video dari warga setempat menunjukkan pesawat tersebut sudah dalam kondisi terpecah di udara, bagian badan tengah dan sayap terlihat meluncur cepat ke tanah, disertai kilatan asap putih yang diduga berasal dari kebocoran bahan bakar. Beberapa detik kemudian, ledakan besar terdengar dari kejauhan.

Upaya Penyelamatan dan Respons Internasional

Otoritas Georgia melaporkan bahwa lokasi jatuhnya pesawat berada sekitar lima kilometer dari perbatasan Azerbaijan, di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau. Tim penyelamat dan militer kedua negara langsung dikerahkan untuk mencapai titik jatuh pesawat.

“Pesawat kami yang mengalami kecelakaan membawa 20 personel, termasuk awak penerbangan. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung,” ujar Kementerian Pertahanan Turki dalam pernyataan resminya, dikutip dari RFE/RL.

Presiden Recep Tayyip Erdogan turut menyampaikan duka mendalam dalam pidatonya di Ankara. “Insya Allah, kita akan melewati musibah ini dengan sekuat tenaga. Semoga arwah para syuhada kita diterima di sisi Tuhan,” katanya, seperti dilaporkan Reuters.

Dari Baku, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, sekutu utama Turki, juga mengirimkan ucapan belasungkawa kepada pemerintah dan rakyat Turki atas tragedi tersebut.

Pesawat Tua yang Telah Dimodernisasi

Menurut data FlightGlobal, Angkatan Udara Turki hingga awal 2025 masih mengoperasikan 18 unit C-130 varian B dan E, pesawat angkut legendaris buatan Lockheed yang telah digunakan sejak beberapa dekade lalu.

Selama beberapa tahun terakhir, seluruh armada C-130 Turki menjalani program modernisasi ERCIYES, yang memperbarui sistem avionik, navigasi, serta tampilan kokpit agar setara dengan pesawat generasi baru. 

Pesawat yang jatuh di Georgia diketahui sudah termasuk dalam versi yang telah dimodernisasi dan bahkan merupakan unit bekas milik Arab Saudi.

Selain itu, Turki juga baru saja membeli 12 unit C-130J bekas Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF), yang resmi pensiun dari dinas aktif pada 2023.

Hingga kini, penyebab pasti jatuhnya pesawat belum diketahui. Investigasi sedang dilakukan oleh tim gabungan dari Turki dan Georgia. 

Namun, gambar-gambar dari lokasi kejadian menunjukkan kerusakan total, mengindikasikan bahwa pesawat kemungkinan mengalami kegagalan struktural besar di udara sebelum jatuh.

Tragedi ini menjadi salah satu insiden penerbangan militer paling tragis di awal 2025, sekaligus mengingatkan dunia akan risiko tinggi yang dihadapi pesawat angkut militer yang telah berusia puluhan tahun, meski sudah diperbarui dengan teknologi modern.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah