JawaPos.com - Kawasan Laut Merah kini dilanda ketegangan akibat insiden penembakan drone oleh kapal perang Amerika Serikat.
Kapal USS Thomas Hudner yang berpatroli di Laut Merah pada Kamis (23/11) dini hari, menembak jatuh beberapa drone serangan satu arah.
Dilansir dari aljazeera.com pada Jumat (24/11), drone-drone berbahaya itu diluncurkan oleh kelompok pemberontak Houthi dari wilayah yang mereka kuasai di Yaman.
Kelompok Houthi di Yaman menyatakan diri sebagai bagian dari “poros perlawanan” sekutu Iran.
Sebagai informasi, penembakan drone bukan hal baru di Laut Merah, terutama sejak konflik Israel-Palestina.
Kelompok Houthi telah melancarkan serangkaian serangan ke Israel dengan menggunakan rudal balistik dan drone.
Pada hari Rabu (22/11), Israel mengatakan mereka telah mencegat sebuah “rudal jelajah” yang menuju ke selatan negara itu, sebuah tembakan yang diklaim oleh pemberontak Houthi.
Juru bicara sayap bersenjata Houthi, Yahya Saree, mengatakan operasi semacam itu akan terus berlanjut, “sampai agresi Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza dan Tepi Barat berhenti.”
Baca Juga: Kelompok Houthi Yaman Lancarkan Serangan Israel dengan Drone
Kelompok Houthi juga mengancam akan menargetkan pengiriman Israel atas perang negara tersebut dengan kelompok Palestina Hamas yang menguasai Gaza.
Bahkan pada Minggu (19/11) lalu, Houthi menyandera kapal kargo di Laut Merah yang terkait dengan Israel.
Militer Israel pada hari Minggu (19/11), mengatakan penyitaan itu adalah “insiden yang sangat serius dengan konsekuensi global.”
Dan seorang pejabat militer AS mengatakan itu adalah “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.”
Disisi lain, aset AS di Timur Tengah juga mendapat kecaman sejak perang Gaza meletus pada 7 Oktober.
Pasukan AS yang dikerahkan di Irak dan Suriah telah diserang setidaknya 66 kali selama ini, menyebabkan lebih dari 60 personel terluka, kata Pentagon.
Pada hari Rabu (22/11), AS mengumumkan serangan balasan signifikan pertamanya terhadap kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak.
Serangan tersebut menyasar beberapa posisi milisi Kataib Hizbullah, juga dikenal sebagai Brigade Hizbullah, di selatan Bagdad, dan menewaskan sedikitnya delapan pejuang.
Pemerintah Irak mengutuk serangan itu sebagai "pelanggaran kedaulatan Irak yang tidak dapat diterima" dan mengatakan bahwa AS tidak berkoordinasi dengan mereka sebelumnya.
Baca Juga: Luncurkan Rudal Balistik, Milisi Yaman Pro-Iran Deklarasi Perangi Israel
Upaya agresi Houthi tersebut diduga sebagai bagian dari sikap solidaritas mereka pada perjuangan rakyat Palestina.
Mereka telah meluncurkan serangkaian drone dan rudal ke Israel sejak dimulainya perang di Gaza
Karena itu, pemerintah Israel dan AS menganggap semua tindakan provokatif Houthi di Laut Merah sebagai pelanggaran hukum internasional yang harus dihentikan segera.
Pertanyaannya kini adalah sejauh mana konflik Israel-Palestina akan terus memicu ketegangan di wilayah tersebut.
***