← Beranda
Emma Watson Tegaskan Tekanan Pernikahan oleh Masyarakat untuk Para Gadis Merupakan sebuah Tindakan Kejam
Risma Azzah FatinSelasa, 30 September 2025 | 01.45 WIB
Emma Watson (IMDb)

JawaPos.com – Aktris Emma Watson mengungkap pandangannya mengenai tekanan sosial untuk menikah dalam wawancara podcast On Purpose bersama Jay Shetty.

Dilansir dari laman Elle pada Senin (29/9), Watson menilai dorongan agar anak muda segera menikah sebagai tindakan yang kejam dan tidak romantis. Menurutnya, pernikahan adalah sebuah keajaiban yang tidak seharusnya dipaksakan pada usia tertentu.

Watson menekankan bahwa memaksa seseorang menikah justru meremehkan upaya menjaga hubungan jangka panjang yang sehat.

Baca Juga: Emma Watson Ungkapkan Rasa Sakit Karena Penolakan Serta Kerasnya Persaingan di Industri Hollywood

Aktris berusia 35 tahun tersebut juga menyebut tekanan menikah dapat membuat perempuan merasa tidak berharga atau seolah gagal dalam hidup.

Bagi Watson, menanti waktu yang tepat dan memahami diri sendiri jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi ekspektasi masyarakat.

Pemeran Hermione dalam seri Harry Potter itu juga menyoroti pentingnya mengenal diri sebelum membangun kemitraan hidup.

Baca Juga: Emma Watson Buka Suara Tentang Perbedaan Pendapat dengan JK Rowling Tanpa Kehilangan Rasa Hormat

Watson mengaku baru setahun terakhir merasa siap secara emosional untuk menjalin hubungan serius. Watson menilai bahwa sebelumnya ia belum memiliki visi dan tujuan hidup yang jelas untuk berbagi dengan pasangan.

Emma Watson mengaku bahagia belum menikah dan bersyukur tidak pernah bercerai karena terburu-buru.

Watson juga mengatakan pernikahan seharusnya lahir dari keinginan tulus, bukan kebutuhan atau paksaan sosial. Menurutnya, kemitraan sejati memerlukan kesadaran penuh tentang siapa diri kita dan apa yang ingin dicapai.

Pemeran Belle dalam Beauty and the Beast juga berbagi nasihat ibunya yang mengatakan bahwa keinginan bersama pasangan haruslah karena cinta, bukan kebutuhan.

Watson menilai banyak orang menikah tanpa mengenal diri sendiri sehingga keputusan diambil dari rasa butuh, bukan murni keinginan. Kini, ia merasa hidupnya sudah utuh dan siap memilih pasangan karena benar-benar menginginkan, bukan membutuhkan.

Watson menambahkan bahwa pernikahan dan cinta adalah hal berbeda yang membutuhkan komitmen mendalam.

Dimana Watson menilai cinta sejati tidak sebatas jatuh hati, melainkan kesediaan untuk membangun kemitraan, berdialog sehat, dan saling mendukung. Proses ini, katanya, jauh lebih kompleks daripada gambaran sederhana yang sering ditawarkan film.

Menurut Watson, pemahaman masyarakat tentang cinta terlalu hitam-putih dan penuh proyeksi. Ia berharap generasi muda tidak terjebak pada standar romantis semu dari film atau tekanan sosial.

Bagi Watson, mencintai seseorang adalah perjalanan penuh usaha dan pemahaman, bukan sekadar memenuhi tuntutan pernikahan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho