← Beranda
Sempat Berniat Gugat, Animator Junaid Miran Kini Sepakat Damai dengan Kreator Merah Putih: One for All
Aufi Rizqy AmaliaSenin, 8 September 2025 | 20.33 WIB
Jayden, Animasi 3D Karya Junaid Miran (YoTtube/Junaid Miran)

JawaPos.com — Agustus kemarin, tepatnya pada Kamis (14/8), film animasi Indonesia berjudul Merah Putih: One for All tayang di bioskop. Sayangnya, penayangan film ini menerima respons negatif dari para netizen.

Dengan biaya produksi yang mencapai Rp6,7 miliar, film animasi Merah Putih: One for All dianggap belum mampu menghadirkan kualitas animasi yang memadai dan layak untuk tayang di bioskop.

Belum lagi, setelah ditelusuri oleh banyak netizen, ternyata Merah Putih: One for All  banyak mencomot karya orang lain tanpa izin. Salah satunya yaitu karya milik animator YouTube dengan akun Junaid Miran.

Mengutip dari YouTube Junaid Miran, pada Selasa (19/8) lalu, sang animator melalui karakter 3D buatannya bernama Jayden mengunggah video berisi ungkapan kecewa, sedih, sekaligus terkejut karena karakter ciptaannya digunakan dalam film Merah Putih: One for All tanpa bayaran sama sekali.

Baca Juga: Venice Film Festival 2025 Selesai Digelar, Berikut Daftar Pemenangnya

Saat itu, Junaid menegaskan bahwa seluruh karyanya bersifat komersial dan hanya bisa dipakai setelah dibeli melalui platform khusus. Namun, dalam film tersebut, namanya bahkan tidak dicantumkan sebagai kreator salah satu karakter animasi.

Pada unggahan di YouTube miliknya pada Minggu (1/9), dengan judul YES, I’M SUING THEM — NEED YOUR HELP!, Junaid menjelaskan bahwa dorongan dari para pegiat film Indonesia membuatnya memutuskan untuk menggugat tim produksi film animasi tersebut.

Animator independen itu mengaku biaya untuk menuntut pihak dari luar negeri sangat besar, sehingga ia meminta dukungan penonton berupa donasi dengan membeli karya-karya 3D yang telah ia buat.

“Kali ini, aku secara pribadi meminta setiap orang yang menonton video ini. Tolong sumbangkan 5 dollar dengan membeli paket karya seni ini,” ujar Junaid melalaui ayden.

Baca Juga: Sukses dengan Film Sore, Ini 4 Film Favorit Yandy Laurens yang Bisa Jadi Pilihan Tontonan Akhir Pekan

“Kalau kalian pernah meninggalkan komentar ‘tuntut mereka’ atau ‘kami mendukungmu’, sekaranglah saatnya membantu aku mewujudkannya,” lanjutnya.

Dukungan pun berdatangan dari berbagai pihak. Kolom komentar videonya dipenuhi pesan semangat sekaligus donasi.

“Aku harap kamu bisa memperjuangkan karyamu. Aku akan mendukungmu,” tulis akun YouTube @bounce606 sambil memberikan donasi Rp500 ribu.

“Aku juga sudah membeli karyamu di Patreon. Good luck, Junaid! Perjuangkan keadilan!” komentar akun @andrehalim885 dengan donasi Rp50 ribu.

“Aku tidak membutuhkan aset gambarmu, tapi aku akan mendukung aksimu ini,” ujar akun @adriansiaril sembari menyumbangkan Rp100 ribu. 

Akhirnya Pilih Damai

Baru-baru ini, Junaid memutuskan untuk berdamai dengan tim produksi film animasi Merah Putih: One For All.

Dalam unggahan di kanal YouTube pribadinya, Junaid mengungkapkan bahwa Bintang Takari, selaku kreator film tersebut, sudah menghubunginya secara langsung.

"Kita telah memenangkan pertarungan ini," kata Junaid dikutip dari YouTube Junaid Miran, Kamis (4/9).

"Pencipta filmnya, Pak Bintang Takari menghubungi Junaid secara langsung," imbuhnya.

Menurut Junaid, dirinya sudah memperoleh hak dan apresiasi yang layak atas karyanya dalam film kontroversial tersebut.

Karena itu, ia merasa tidak perlu lagi melanjutkan rencana gugatan terhadap tim produksi Merah Putih: One For All.

Sebagai tindak lanjut, Junaid juga berencana mengembalikan dana yang sempat terkumpul dari penjualan karyanya. Uang tersebut sebelumnya dipersiapkan untuk membiayai langkah hukum.

Ia menjelaskan bahwa proses pengembalian dana sedang diupayakan melalui beberapa opsi, dan dirinya terbuka untuk dihubungi apabila ada kendala dalam proses tersebut.

Meski begitu, Junaid menegaskan bahwa karya yang sudah dibeli tetap menjadi milik para pembeli. Hal ini ia anggap sebagai bentuk rasa terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah memberikan dukungan.

(*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah