← Beranda
Salai Jin dan Jejak Pasukan Elite Hiri dalam Perlawanan terhadap Portugis
Dimas ChoirulSenin, 24 Agustus 2026 | 15.52 WIB
Warga Pulau Hiri, Ternate melaksanakan tarian Salai Jin, Sabtu (22/8). (Dimas Choirul/Jawapos.com)

JawaPos.com – Di bawah atap anyaman yang diterangi cahaya lampu, untaian janur menjuntai dari langit-langit tenda. Ruang itu tampak sesak dikerumuni warga. 

Di tengah riuh warga itu, sejumlah penari mengalami kesurupan. Tubuh mereka bergerak mengikuti irama musik tradisional dan suasana yang terbangun dalam prosesi adat. 

Bagi masyarakat Ternate, ritual itu disebut tarian Salai Jin. Untuk di Pulau Hiri sendiri, tarian ini tergolong langka karena tidak digelar setiap tahun.

"Karena ini adalah peristiwa yang boleh, boleh dibilang adalah peristiwa yang cukup langka, karena acara adat ini hanya diselenggarakan empat atau lima tahun sekali ya," kata Permaisuri Kesultanan Ternate, Ratu Boki Nita Budhi Susanti kepada wartawan di Pulau Hiri, Ternate, Maluku Utara, Sabtu (22/8).

Baca Juga: Terungkap! Rakor dan Program Kerja DPP Panser Biru Siap Guncang Championship

Menurut Ratu Boki, kehadiran masyarakat dalam ritual tersebut bukan sekadar menyaksikan sebuah pertunjukan adat. Ada sejarah panjang yang hendak dirajut kembali melalui prosesi tersebut.

Salai Jin di Pulau Hiri memiliki kisah yang berbeda dibandingkan ritual serupa di wilayah lain. Tradisi tersebut dipercaya berkaitan dengan perjanjian gaib yang terjadi pada masa perjuangan Sultan Baabullah melawan Portugis.

"Salai Jin itu adalah acara untuk mengundang para jin dan para gaib, 'memole' sebutannya di sini," kata Ratu Boki.

Baca Juga: Prediksi Skor AS Roma vs Fiorentina di Liga Italia: Giallorossi Menang Tipis

Ia menjelaskan, masyarakat yang mengalami kemasukan ketika ritual berlangsung merupakan bagian dari prosesi adat.

"Jadi nanti kalau bapak ibu menyaksikan mereka semua pada kemasukan, sebetulnya itu adalah bagian dari ritual kami di sini," ujarnya.

Pulau Hiri, kata dia, sejak masa Kesultanan Ternate memiliki posisi khusus sebagai basis pasukan perang. Dalam khazanah Kesultanan Ternate, masyarakat Hiri dipercaya menjadi bagian dari pasukan inti yang berada di garis depan ketika kesultanan menghadapi ancaman.

Ibarat sekarang, lanjut Nita, pasukan tersebut mirip dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) milik TNI, atau Brigade Mobil (Brimob) milik Polri.

"Karena sampai sekarang Pulau Hiri itu bagian pasukan elit dari Kesultanan Ternate," tuturnya.

Dikatakan Ratu Boki, jejak itu pula yang hendak dihidupkan kembali melalui Salai Jin. Ritual tersebut menjadi semacam simpul yang mengikat masa kini dengan ingatan kolektif tentang perjuangan masa lampau.

"Jadi hari ini kita akan menyaksikan bersama perjanjian diulang kembali antara waktu itu dengan Sultan Baabullah, kemudian juga dengan pasukan perang yang ada di sini yaitu untuk melawan penjajah yang pada saat itu adalah Portugis," katanya.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Melemah Senin Pagi, Investor Aksi Ambil Untung Jelang Sanksi AS ke Iran

Bambu Gila dan Senjata yang Tak Kasatmata

Cerita tentang pertahanan Pulau Hiri tidak dapat dilepaskan dari Bambu Gila. Tradisi yang hingga kini masih dikenal masyarakat Maluku Utara itu menyimpan kisah tentang cara masyarakat pada masa lalu menghadapi kekuatan penjajah.

Ratu Boki lantas menggambarkan bagaimana masyarakat Maluku Utara pada masa lalu menghadapi lawan dengan persenjataan yang jauh lebih sederhana.

"Bayangkan dulu kita masyarakat Maluku Utara rata-rata melawan penjajah itu cukup dengan hanya dengan parang, kemudian dari basis-basis pertahanan itu kita hanya menggunakan Bambu Gila itu untuk menahan serangan dari lawan," ujarnya.

Dalam penuturannya, peperangan pada masa itu tidak hanya dipahami sebagai benturan fisik, tetapi juga berkelindan dengan kepercayaan terhadap kekuatan gaib.

Dalam tradisi masyarakat Hiri, kekuatan itu bahkan melekat pada pasukan perang. Ratu Boki menyebut ada filosofi yang hingga kini masih dipercaya masyarakat, yakni satu orang dapat "pecah" menjadi seribu.

"Jadi sampai detik ini boleh masih bisa diperhitungkan pasukan elit dari Keraton Kesultanan Ternate yaitu adalah Pulau Hiri," katanya.

Dari Perang Menjadi Permohonan Berkah

Namun, waktu mengubah wajah Salai Jin. Jika pada masa lampau ritual itu berkaitan dengan permohonan kekuatan untuk menghadapi peperangan, dalam perkembangannya ia menjadi bagian dari ikhtiar spiritual masyarakat.

"Salai Jin itu juga untuk memohon berkah, rahmat, perlindungan dari Yang Mahakuasa untuk menjaga tatanan dan nilai-nilai supaya masyarakat itu tidak terkena bencana ya," ujar Ratu Boki.

Baca Juga: Pre Event Road to Panser Biru Fest Digelar, Fans PSIS Padukan Musik dan Sharing Session

Bagi masyarakat Hiri yang sebagian menggantungkan hidup sebagai nelayan, ritual tersebut juga menjadi ruang untuk menitipkan harapan tentang rezeki, keselamatan, hingga pengobatan.

"Selain itu juga Salai Jin itu untuk mengobati juga orang-orang yang sakit ya, mereka akan lakukan ritual itu dan juga itu semacam permohonan ampun kepada Tuhan dan momoli di sini, yang gaib di sini," ujarnya.

Adat yang Tak Boleh Berhenti pada Satu Generasi

Di tengah perubahan zaman, tantangan terbesar Salai Jin dan tradisi lainnya justru bukan semata menjaga ritual tetap digelar. Tantangannya adalah memastikan generasi yang tumbuh dalam dunia modern masih mengenali akar budayanya.

Ratu Boki menyebut pelestarian adat merupakan pekerjaan bersama, terutama keluarga dan perangkat adat. Ia juga meminta pemerintah memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi masyarakat adat dan kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

"Dan kami juga memohon kepada pemerintah daerah khususnya dan pemerintah pusat pada umumnya agar melindungi kami masyarakat adat itu dengan undang-undang yang memang betul-betul melindungi, menjaga kelestarian budaya dan adat itu sendiri," ujarnya.

Sebab, menurut Ratu Boki, adat bukan sekadar peninggalan masa silam yang dipajang sebagai artefak kebudayaan. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, nilai, sekaligus kekuatan sosial masyarakat.

"Karena kita tahu bahwa kekuatan bangsa Indonesia itu adalah sebenarnya adalah budaya dan adat yang ada di seluruh Indonesia itu merupakan kekuatan," pungkasnya.

EDITOR: Bintang Pradewo