← Beranda
Mengenal Santo Sebastian (255-288): Selamat dari Persekusi Pertama dengan Tubuh Penuh Panah, dan Menjadi Pelindung Tentara
Alberta Dionny NatanuelSenin, 27 Juli 2026 | 03.06 WIB
Lukisan “Martyrdom of Saint Sebastian” oleh Il Sodoma (1525) 

JawaPos.com - Seorang tentara hidup dengan mengikuti perintah atasan mereka. Perintah itu biasanya untuk melindungi dan membantu rakyat, atau melawan musuh. Namun bagaimana jika musuh yang dimaksud adalah orang-orang tercinta tentara tersebut. 

Tentunya tentara yang melawan perintah atasan akan segera dicabut dari tugasnya, diberhentikan, atau lebih parahnya dihukum atas tindakannya. Terkadang hukuman yang didapatkan bisa berupa hukuman penjara, tapi ada tentara yang mendapatkan hukuman lebih parah. 

Salah satu tentara yang mengalami hal ini adalah Santo Sebastianus (255-288), martir dari Perancis Kuno. 

Kehidupan awal

Dilansir dari Catholic.org, tidak banyak dokumentasi tentang kehidupan awal Sebastianus. Ada asumsi ia berasal dari Perancis Selatan dan bersekolah di Milan. 

Dilansir dari Arthunkal Basilica, ia terlahir dari orang tua Kristen yang berasal dari Milan, tapi tinggal di Narbonne, Languedoc, Prancis. 

Sebastianus sangat bertalenta dan mencintai negaranya, karena itu ia tertarik untuk bergabung ke militer Kekaisaran Roma pada tahun 283 dan dengan cepat bergabung menjadi tentara pelindung kaisar. Pada saat itu kekaisaran dipimpin oleh Kaisar Diokletianus. 

Kaisar Diokletianus memiliki karir militer yang cemerlang dan berhasil mengomando penuh kekaisaran. Pemikiran ini ia ambil dari mencontoh raja-raja Persia.

Dua diakon

Saat menjadi penjaga kaisar, ada saudara kembar, Markus dan Marsellain, yang dikurung karena menolak untuk membuat kurban kepada dewa-dewi Roma. Kedua saudara tersebut adalah diakon Gereja Kristen. 

Orang tua dari kedua bersaudara tersebut mengunjungi mereka dan menyuruh mereka untuk keluar dari gereja demi keselamatan mereka. 

Namun, Sebastianus berhasil meyakinkan kedua orang tua tersebut untuk bergabung ke gereja. Selama bekerja sebagai tentara, Sebastianus berhasil merekrut banyak orang ke dalam gereja, termasuk sesama tentara. Akibatnya ia ketahuan sebagai orang Kristen dan dilaporkan kepada Kaisar Diokletianus. 

Pada tahun 286 ia dilaporkan dan ditangkap. Pada saat itu sang kaisar terkenal akan persekusinya terhadap umat Kristen, bahkan membunuh mereka. 

Hukuman mati dan pertemuan dengan Santa Irene

Dilansir dari situs Gereja St. Andreas Kadekoya, ketika dikurung, Sebastianus dengan tegas menolak untuk mengingkari imannya. Lalu ia disiksa dengan sangat kejam. 

Setelah itu, kaisar memerintahkan untuk Sebastianus diikat di sebuah tiang yang biasa digunakan untuk latihan panah. 

Kaisar memerintahkan agar para pemanah menembaki Sebastianus dengan panah. Setelah itu tubuhnya dipenuhi panah, hampir seperti bulu babi. 

Para tentara mengira Sebastianus langsung mati dari panah-panah itu, maka mereka membuang Sebastianus.

Namun, Irene dari Roma menemukannya dan menyadari bahwa Sebastianus masih bernapas. Maka ia menyembunyikannya dan mengobatinya. 

Setelah membaik, Irene membujuk Sebastianus untuk melarikan diri agar tidak lagi disiksa oleh para tentara dan orang-orang kekaisaran. Tapi Sebastianus bukanlah orang yang seperti itu.

Sebastianus malah pergi menunjukkan dirinya kepada kaisar untuk menghentikan penganiayaannya kepada umat Kristen lain. 

Terkejut dan marah melihat bahwa Sebastianus selamat. Merasa apabila orang-orang mengetahui bahwa Sebastianus selamat, maka banyak orang mulai mempercayai Yesus. Dengan cepat Kaisar Diokletianus memerintahkan tentaranya untuk menangkap Sebastianus dan menyiksanya sampai mati. 

Memastikan bahwa Sebastianus mati, tubuhnya dibuang ke kali umum. Jenazahnya diambil dan dimakamkan di katakombe di bawah Roma oleh seorang perempuan bernama Lucina. 

Sebastianus meninggal sebagai martir Kristus pada tanggal 20 Januari tahun 288. 

Warisan

80 tahun kemudian, sekitar tahun 367, jenazahnya dipindahkan ke basilika di Roma oleh Paus Damasus I. Sisa jenazahnya dipindahkan dan dibagi-bagi kepada sebuah komunitas biarawan di Perancis. Sebagian tengkoraknya dikirimkan ke sebuah biara di Jerman pada tahun 934. 

Sekarang Santo Sebastianus dikenal sebagai pelindung dari wabah. Orang-orang percaya bahwa ia dapat melindungi umat Kristen dari wabah karena simbolisasi ia selamat dengan dipenuhi panah. 

Santo Sebastianus juga menjadi pelindung para tentara, pemanah, atlet dan mereka yang mengharapkan kematian suci. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho