JawaPos.com - Gereja Katolik memiliki banyak sekali orang suci yang juga dikenal sebagai pelindung gereja. Mereka memiliki peran besar dalam gereja melalui banyak hal yang kemudian menjadi hal untuk mengingat mereka.
Orang-orang ini mungkin semasa hidupnya adalah misioner, martir, penyebar agama, pelayan umat dan gereja, atau peran besar lainnya sesuai dengan kisah hidup mereka.
Seorang biarawan atau biarawati dapat menjadi pelindung gereja pula, apabila mereka memiliki peran besar terhadap gereja.
Seperti Santa Theresia dari Lisieux (1873-1897), ia juga dikenang sebagai Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus serta Bunga Kecil Yesus.
Kehidupan awal
Dilansir dari Society of the Little Flower, Theresia lahir dengan nama Marie Francoise Therese Martin di Alencon, Prancis, pada 2 Januari 1873. Ia juga adalah anak terakhir di keluarganya.
Kedua orang tuanya juga adalah orang-orang penting dalam gereja, yakni Louis Martin dan Marie Azelie (Zelie) Guerin. Mereka juga adalah santo dan santa Gereja Katolik.
Louis dan Zelie melahirkan sembilan anak, tujuh perempuan dan dua laki-laki. Namun hanya lima anak perempuan mereka yang dapat hidup hingga usia dewasa, dan semuanya menjadi biarawati.
Selain Therese, dari yang tertua ada Marie Louise, Marie Pauline, Leonie, dan Celine. Empat dari mereka kemudian menjadi biarawati di Ordo Karmel di Lisieux, sedangkan Leonie bergabung dengan Ordo Visitandine di Caen.
Therese lahir setelah kakak-kakaknya meninggal, namun dengan tubuh yang lemah. Sehingga dokter-dokternya sangat mengkhawatirkan apakah Therese dapat beranjak dewasa. Bahkan keluarganya sudah bersiap untuk menyambut kematiannya.
Tapi Therese berhasil membuktikan bahwa dokter-dokternya salah dan dapat bertumbuh besar. Ibunya mendeskripsikan masa kanak-kanaknya sebagai anak yang nakal, keras kepala, namun sangat pintar.
Dilansir dari Catholic.org, sayangnya kebahagiaan keluarga Martin ini tidak bertahan lama pula. Karena saat Therese berumur 4 setengah tahun, ibunya meninggal karena kanker payudara. Setelah itu, Louis membawa putri-putrinya pindah ke Lisieux.
Pauline, kakaknya, kemudian menjadi ibu keduanya. Tapi Therese juga harus mengalami kehilangan yang kedua kalinya ketika Pauline bergabung ke Biara Karmel lima tahun kemudian.
Pada 1881, Therese mulai bersekolah di Notre Dame du Pre oleh Biarawati Benediktin di Lisieux. Selama disana Therese tidak menyukai sekolah walaupun ia berbakat secara akademik, karena ia mengalami perundungan.
Mengalami penyembuhan
Beberapa bulan setelah Pauline bergabung menjadi biarawati, Therese jatuh sakit dengan demam yang sangat parah. Orang-orang yang mengunjunginya sampai mengira Therese tidak akan bertahan hidup.
Suatu hari, ia melihat kakak-kakaknya berdoa kepada Bunda Maria ditemani patung Maria di kamarnya. Therese ikut berdoa bersama mereka. Saat itu, ia melihat Bunda Maria tersenyum kepadanya dan tiba-tiba ia sembuh.
Pada awalnya Therese mencoba untuk merahasiakan kesembuhannya, namun orang-orang segera mengetahuinya dan menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
Bergabung dengan saudari-saudarinya
Pada 1886, kakak tertuanya, Marie, juga ikut bergabung ke Biara Karmel di Lisieux. Setahun kemudian, Leonie juga menjadi biarawati di Biara Visitation di Caen.
Hal tersebut membuat Therese sedih karena harus kehilangan dua lagi saudarinya. Namun, Therese tiba-tiba terbangun dan tersadarkan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius.
Therese meminta izin dari ayahnya untuk juga bergabung ke biara, Louis dengan senang hati memperbolehkannya. Therese baru berusia 15 tahun pada saat ini.
Namun, ia ditolak oleh para tetua Karmel. Uskup Hugonin dari Bayeux, salah satu petingginya, menyuruhnya untuk kembali dan mendaftar saat ia sudah menginjak usia 21 tahun.
Uskup Hugonin menyebutkan bahwa ia tidak pernah melihat seorang ayah yang dengan sepenuh hati mendukung anaknya seperti Louis.
Usaha mendapatkan izin
Setelah ditolak di Bayeux, Therese berencana untuk menghadap langsung kepada paus. Maka pada November 1887, Louis dan kedua putrinya pergi ke Italia bersama sekelompok peziarah.
Sesuai dengan rencana peziarahan, mereka bertemu dengan Paus Leo XIII sebagai agenda terakhir mereka di Roma.
Walaupun pada saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk membuka pembicaraan dengan sang paus, karena takut akan memakan waktu terlalu lama, Therese dengan cepat menyahut kepada sang paus untuk meminta izin bergabung ke biara pada usia 15 tahun.
Terkejut dengan keteguhan Therese muda - Therese tidak mau beranjak hingga diseret keluar, Paus Leo XIII memberikan izin.
Pada April 1888, Therese akhirnya dapat bergabung ke Karmel. Namun, perjuangannya tidak berakhir di sini. Walaupun ia dapat berkumpul kembali dengan Marie dan Pauline, ia masih harus menjaga jaraknya dari kedua saudarinya. Therese hanya dapat bertemu dengan mereka pada jam rekreasi setelah makan.
Therese melaksanakan kaul sementaranya pada Januari 1889. Pada saat itu ayahnya terkena stroke dan jatuh lumpuh. Namun ia berhasil menghadiri ibadah kaulnya.
Louis akhirnya meninggal pada 1894, didampingi oleh Celine, yang kemudian bergabung menjadi biarawati di Karmel di tahun yang sama.
Kehidupan membiara
Di biara Therese tidak dapat lepas dari perundungan dari rekan-rekan biarawatinya. Terutama ketika kabar di mana ayahnya terkena stroke dan mengalami halusinasi, akibatnya Louis harus dirawat di rumah sakit jiwa.
Menjadi biarawati di Biara Karmel juga bukanlah kehidupan yang gampang. Di sana ia ditekan oleh banyak sekali peraturan yang ketat, sedangkan ia menghabiskan masa kecilnya dimanja oleh sang ayah.
Maka dari itu, ia menemukan cara untuk menjadi Katolik yang baik. Yaitu melalui pengorbanan-pengorbanan kecil. Seperti tetap ramah kepada orang-orang yang tidak ia suka, memakan apa saja yang ia dapatkan walaupun itu makanan sisa, hingga menerima tuduhan salah yang dijatuhkan kepadanya.
Walaupun ia merasa bahwa pengorbanannya ini tidak memiliki arti atau pengaruh banyak, sebenarnya banyak orang merasa bahwa tindakannya ini sangat baik.
Jatuh sakit dan meninggal
Therese didiagnosa dengan tuberkulosis pada April 1896. Ia dikurung di klinik biara, di mana ia menulis kisah hidupnya, sesuai dengan permintaan Kepada Biara Bunda Marie de Gonzague. Naskah tersebut diterbitkan dengan judul “Story of a Soul” (L'histoire d’un amé).
Sebelumnya, ia berhasil menyembunyikan penyakitnya cukup lama. Bahkan rekan-rekan biaranya tidak percaya bahwa ia sakit.
Ia menderita penyakit ini hingga akhirnya meninggal pada 30 September 1987. Ia baru berusia 24 tahun pada saat itu, dan baru menjadi biarawati selama 9 tahun.
Walaupun Therese sudah tidak ada, para biarawati Karmel mendapatkan laporan mengenai “pengorbanan-pengorbanan kecil” Therese. Bukunya itu juga menarik perhatian para peziarah ke makamnya.
Jenazahnya diekshumasi pada September 1910 dan pindahkan ke peti timah, lalu direlokasi ke makam baru. Namun, setelah dibeatifikasi, jenazahnya dikembalikan ke Biara Karmel di Lisieux hingga sekarang.
Santa Theresia dari Lisieux dikanonisasi pada 17 Mei 1925 oleh Paus Pius XI. Ia menjadi pelindung misionaris, penderita penyakit parah, tukang kebun dan bunga, anak yatim piatu, aviator, serta orang-orang terlantar. (*)