← Beranda
Esports Jadi Jalan Dapat Kerja bagi Penyandang Disabilitas di Jepang
Dhimas GinanjarSelasa, 18 Agustus 2026 | 18.17 WIB
Presiden ePARA Daiki Kato (tengah, baris belakang), Shunya Hatakeyama (kiri, baris depan), dan peserta lainnya berpose dalam sebuah acara esports. (Kyodo)

JawaPos.com - Esports membuka peluang baru bagi penyandang disabilitas di Jepang untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial sekaligus memasuki dunia kerja.

Seperti dilansir Kyodo, Selasa (18/8), semakin banyak organisasi di Jepang memanfaatkan kompetisi gim untuk membantu penyandang disabilitas menunjukkan kemampuan mereka dan terhubung dengan perusahaan.

Dalam sebuah turnamen yang digelar di Tokyo Big Sight pada Mei, Shunya Hatakeyama, 32, yang mengalami distrofi otot, menghadapi lawan tanpa disabilitas dalam gim pertarungan.

Hatakeyama menggunakan pengontrol yang dioperasikan dengan dagu serta sebuah sakelar yang dipegang dengan tangan.

Di dekatnya, Naoya Kitamura, 32, yang sepenuhnya tunanetra, mengendalikan karakternya sambil mengenakan headphone dan penutup mata. Ia mengandalkan perbedaan nada serta jenis suara dalam gim untuk bermain.

Turnamen tersebut digelar dengan melibatkan ePARA, perusahaan yang berbasis di Toda, Prefektur Saitama. Perusahaan itu menyelenggarakan kompetisi esports tanpa hambatan yang terbuka bagi peserta tanpa memandang disabilitas, usia, maupun jenis kelamin.

ePARA juga memanfaatkan esports dalam program dukungan pekerjaan. Perusahaan mengundang perwakilan perusahaan untuk menyaksikan peserta bertanding dengan harapan kemampuan yang mungkin tidak terlihat dalam proses rekrutmen biasa dapat diketahui.

"Saya ingin menggali bakat tersembunyi orang-orang dan menciptakan lingkungan tempat mereka bisa berkembang," kata Presiden ePARA Daiki Kato, 45.

Kato mendirikan ePARA pada 2016 setelah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Hosei. Ia sebelumnya bekerja sebagai pejabat pengadilan sebelum kemudian beralih ke sektor kesejahteraan.

Ia mengatakan keputusan mendirikan perusahaan tersebut muncul setelah bertemu seorang penyandang disabilitas yang mampu berbicara tiga bahasa, tetapi hanya diberi pekerjaan sederhana dengan gaji ¥80.000 per bulan atau sekitar Rp8,88 juta dengan kurs Rp111 per yen.

"Saya ingin semua orang memiliki kesempatan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka," ujarnya.

Hingga Juni, ePARA memiliki tujuh karyawan. Empat di antaranya, termasuk Hatakeyama dan Kitamura, merupakan penyandang disabilitas.

Perusahaan tersebut mengatakan sekitar 10 orang telah mendapatkan pekerjaan di bidang seperti teknologi informasi dan produksi web setelah mengikuti kegiatan dukungan pekerjaan yang mereka selenggarakan.

Sejumlah peserta mengatakan pengalaman tersebut mengubah kehidupan mereka dan mempertemukan mereka dengan perusahaan yang kemungkinan tidak akan mereka temui melalui layanan penempatan kerja publik.

Inisiatif serupa juga mulai berkembang di berbagai wilayah Jepang. Pada 2019, Asosiasi Esports Prefektur Gunma menggelar apa yang mereka sebut sebagai turnamen esports pertama di Jepang yang khusus diperuntukkan bagi penyandang disabilitas.

Sejak saat itu, Japan Para e-Sports Association berdiri di Osaka. Sementara itu, Ehime Para e-Sports Tournament yang mempertemukan peserta dari berbagai fasilitas dukungan penyandang disabilitas di prefektur tersebut pertama kali digelar pada 2021.

Perkembangan tersebut berlangsung ketika Jepang masih menghadapi tantangan dalam memperluas kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

Tingkat pekerjaan wajib bagi penyandang disabilitas yang harus dipenuhi perusahaan naik dari 2,5 persen menjadi 2,7 persen pada 1 Juli tahun ini. Namun, hingga Juni 2025, kurang dari separuh perusahaan telah memenuhi ketentuan sebelumnya.

Kato berharap esports dapat membantu mengubah anggapan mengenai jenis pekerjaan yang dapat dilakukan penyandang disabilitas.

"Penyandang disabilitas tidak seharusnya dibatasi pada pekerjaan sederhana. Saya ingin membantu menciptakan masyarakat yang memberi mereka pilihan karier yang jauh lebih luas," katanya.

EDITOR: Dhimas Ginanjar