← Beranda
Steam Raup Rp 200,9 Triliun, Forza Horizon 6 dan Resident Evil Requiem Jadi Mesin Uang
Nanda PrayogaRabu, 15 Juli 2026 | 20.45 WIB
Forza Horizon 6. (Dok. Xbox)

 

JawaPos.com - Platform distribusi game PC milik Valve, Steam, mencatat kinerja luar biasa sepanjang paruh pertama 2026. Berdasarkan estimasi Alinea Analytics, Steam membukukan pendapatan mencapai USD 11,1 miliar atau sekitar Rp 200,9 triliun, menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah platform tersebut.

Angka tersebut tidak hanya melampaui pendapatan pada semester pertama tahun lalu, tetapi juga lebih tinggi dibandingkan total pendapatan yang diraih Steam pada akhir 2025. Tren ini mempertegas bahwa pasar game PC masih terus bertumbuh di tengah tantangan yang dihadapi industri gim secara keseluruhan.

Rhys Elliott, Head of Market Analysis Alinea Analytics, menilai ada sejumlah faktor yang mendorong lonjakan tersebut. Mulai dari semakin besarnya kontribusi pasar Tiongkok, kenaikan harga game AAA terbaru, hingga kembalinya sejumlah penerbit besar yang memilih kembali merilis game mereka melalui Steam setelah sebelumnya mengandalkan platform distribusi sendiri.

Menurut Elliott, pengaruh pasar Tiongkok menjadi salah satu faktor paling signifikan. Pada Februari 2025, sekitar 50 persen akun Steam tercatat dimiliki pengguna berbahasa Mandarin.

Baca Juga: Apple Resmi Buka Beta Publik iOS 27, Siri AI Kini Bisa Dicoba Lebih Banyak Pengguna

"Jika kita melihat dekade terakhir, situasinya menjadi sangat luar biasa. Jelas ada penurunan yang terlihat saat pasar kembali normal setelah euforia pandemi, tetapi tren jangka panjangnya terus meningkat, dengan pertumbuhan selama tujuh setengah tahun,” kata Elliott seperti dikutip dari Eurogamer, Rabu (15/7).

Data Alinea Analytics juga menunjukkan pertumbuhan Steam yang konsisten dalam satu dekade terakhir. Pendapatan pada semester pertama 2026 bahkan hampir lima kali lebih besar dibandingkan periode yang sama pada 2017.

Dari sisi penjualan game, Forza Horizon 6 menjadi penyumbang pendapatan terbesar di Steam sepanjang 2026. Kurang dari dua bulan sejak dirilis, game balap tersebut telah menghasilkan USD 197,7 juta.

Di posisi berikutnya ada Resident Evil Requiem dengan pendapatan USD 194,5 juta sejak peluncurannya pada Februari 2026. Game tersebut telah terjual sekitar 3,4 juta kopi di Steam, termasuk sekitar USD 1,3 juta yang berasal dari penjualan paket kosmetik.

Sementara itu, Crimson Desert juga mencatat debut impresif dengan pendapatan USD 190 juta sejak dirilis pada Maret 2026, menjadi awal yang menjanjikan bagi waralaba baru tersebut.

Menariknya, sejumlah game indie juga berhasil mencetak performa komersial yang kuat. Slay the Spire 2 mengumpulkan USD 141,7 juta, disusul Subnautica 2 dengan USD 133,6 juta, serta Meccha Chameleon yang meraih USD 71,3 juta.

Di saat Steam menikmati pertumbuhan pesat, kondisi berbeda justru dialami para pemilik platform konsol. Microsoft dilaporkan mengalami penurunan pendapatan bisnis game sebesar 7 persen secara tahunan, sementara proses restrukturisasi yang masih berlangsung dinilai membuat prospek pemulihan dalam waktu dekat belum terlalu menjanjikan.

Baca Juga: Sony Suntik Rp611 Miliar Demi Bersiap Hentikan Produksi Disc Game PlayStation

Sony juga menghadapi tekanan serupa. Penjualan game eksklusif PlayStation terus mengalami penurunan sejak 2020. Di sisi lain, keputusan perusahaan untuk tidak lagi membawa game eksklusif mendatang ke PC disebut turut memangkas potensi pendapatan.

Baik Sony maupun Microsoft juga disebut menghadapi kenaikan biaya perangkat keras akibat krisis pasokan RAM yang dipicu tingginya permintaan industri kecerdasan buatan (AI).

Sentimen konsumen terhadap kedua perusahaan tersebut pun disebut melemah. Sony menuai kritik setelah mengumumkan rencana menghentikan produksi cakram game pada 2028, sedangkan Microsoft masih menghadapi sorotan akibat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berdampak pada industri game.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Steam justru semakin mengukuhkan posisinya sebagai platform distribusi game PC terbesar dengan laju pertumbuhan yang masih terus meningkat.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan