JawaPos.com - Kematian adalah suatu kepastian yang tidak bisa dihindari oleh setiap manusia. Karena itu, mempersiapkan bekal sebelum mati menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan.
Dalam Islam, kita selalu diingatkan agar senantiasa memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok, yakni kehidupan setelah kematian.
Mempersiapkan bekal sebelum mati berarti menjalani hidup dengan penuh kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.
Kesadaran akan pentingnya bekal sebelum mati mendorong seseorang untuk menjalani hidup lebih bermakna. Waktu tidak lagi dihabiskan untuk hal-hal sia-sia, melainkan untuk aktivitas yang bernilai ibadah dan kebaikan.
Baca Juga: Ramadhan 2026, Ben Kasyafani Kerap Shalat Tarawih di Masjid Bersama Ibunda
Berikut kultum hari ini, Rabu (4/3), tentang Makna Pulang Kampung Sejati, dibawakan Aan Rukmana, Dosen Universitas Paramadina, Jakarta.
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Nabi Muhammad, wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Amma bakdu.
Seluruh pemirsa JawaPos sekalian yang dirahmati Allah.
Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hingga hari ini, kita masih diberikan kesempatan untuk merasakan nikmat iman dan nikmat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.
Jika kita merenung sejenak, sesungguhnya hidup ini amat singkat, bahkan teramat singkat.
Rasanya baru kemarin kita berpuasa bersama kedua orang tua di kampung halaman. Pergi ke musala, ke masjid, melaksanakan shalat tarawih dan berbagai ibadah malam lainnya.
Namun tanpa terasa, usia kita terus bertambah. Dua puluh tahun berlalu, tiga puluh tahun, empat puluh tahun. Bahkan mungkin kini kita sudah memiliki anak, bahkan cucu. Begitulah hidup. Cepat berlalu tanpa terasa.
Namun meskipun singkat, hidup ini akan menjadi sangat bernilai jika kita mengisinya dengan amal kebaikan. Hidup akan mulia ketika kita memuliakannya dengan ibadah, dengan pengabdian, dengan ketaatan kepada Allah.
Tetapi pertanyaannya, bagaimana mungkin kita bisa memuliakan hidup ini jika kita tidak sadar ke mana kita akan kembali?
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan orang-orang beriman agar mereka benar-benar menyadari bahwa pada akhirnya kita semua akan pulang ke hadirat-Nya. Kesadaran inilah yang membuat hidup menjadi terarah. Kesadaran inilah yang membuat Ramadhan menjadi begitu berarti.
Setelah sebulan penuh berpuasa, kita biasanya akan memasuki momen Idul Fitri. Idul Fitri bukan sekadar hari raya, tetapi momentum “kembali kepada fitrah.” Kembali menjadi hamba yang bersih, yang suci, yang lebih dekat kepada Allah.
Secara sosiologis, Idul Fitri identik dengan mudik, pulang kampung. Orang-orang berbondong-bondong kembali ke kampung halaman. Berbagai bekal dipersiapkan, berbagai usaha dilakukan, demi satu tujuan: bisa pulang.
Namun ada satu hal yang tak boleh kita lupakan. Pulang kampung yang sejati bukan hanya kembali ke rumah orang tua. Pulang kampung yang sejati adalah pulang ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika untuk mudik kita menyiapkan bekal dengan sungguh-sungguh, maka seharusnya untuk "mudik" menuju akhirat kita lebih sungguh-sungguh lagi mempersiapkannya bekalnya. Bukan pakaian baru, bukan oleh-oleh, tetapi amal saleh, keikhlasan, taubat, dan kebaikan yang kita lakukan sepanjang hidup.
Semoga Ramadhan ini menjadi momentum bagi kita untuk mempersiapkan perjalanan pulang yang sesungguhnya.
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya dan mengumpulkan kita dalam rahmat-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.