← Beranda
Masjid Amir Hamzah di TIM: Ruang Dialog Intelektual, Berkali-kali Dibongkar, hingga Jejaknya Kian Pudar
Rian AlfiantoSabtu, 28 Februari 2026 | 15.58 WIB
Jemaah saat melaksanakan shalat di Masjid Amir Hamzah di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Ramadhan selalu menjadi momen yang tepat untuk menengok kembali jejak masjid-masjid bersejarah di Indonesia. Di Jakarta, perhatian publik kerap tertuju pada Masjid Istiqlal atau masjid-masjid tua di kawasan Kota Tua.

Namun di jantung kesenian ibu kota, berdiri sebuah masjid yang kisahnya tak kalah menarik-bahkan sarat dinamika perubahan zaman.

Adalah Masjid Amir Hamzah di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini. Masjid ini bukan sekadar ruang ibadah. la pernah menjadi ruang dialog intelektual, tempat perjumpaan seniman dan ulama, sekaligus saksi perubahan wajah Jakarta. Ironisnya, jejak sejarahnya justru pelan-pelan memudar seiring pembongkaran dan revitalisasi yang berulang kali terjadi.

Masjid ini bukan sekadar fasilitas ibadah di pusat kesenian. Ia lahir dari kritik seorang khatib, dirancang oleh arsitek pembaru, dinamai penyair religius, dan pernah menjadi ruang dialektika pemikir Islam modern.

Lahir dari Kritik di Ruang Teater

Ketika TIM diresmikan pada 10 November 1968, belum ada masjid permanen di dalam kawasan tersebut. Shalat Jumat digelar di ruang Teater Baru. Suatu hari, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, ikut menunaikan ibadah Jumat di sana.

Dalam khotbahnya, K.H. Mukhlas Rowi mengkritik kompleks kesenian sebesar TIM yang tak memiliki masjid. Sejarawan JJ Rizal dalam kesempatan yang lalu kepada JawaPos.com pernah menceritakan kembali momen tersebut.

“Dalam salah satu kesempatan itu, saat K.H. Mukhlas Rowi memberi khotbah, ia mengkritik kompleks bangunan TIM yang besar dan penting tetapi tidak memiliki masjid. Bang Ali yang terkenal galak bukan marah, tetapi sebagai pejabat gubernur justru berterima kasih telah diingatkan khatib,” ujar JJ Rizal.

Ia melanjutkan, “Setelah kelar sembahyang Jumat, itu Bang Ali menyetujui usulan TIM mempunyai masjid.”

Dari situ, proses perencanaan dimulai. Ajip Rosidi selaku Ketua Dewan Kesenian Jakarta saat itu diminta menyiapkan konsep dan anggaran. Ia lalu menghubungi arsitek Ahmad Noe'man, sosok yang sebelumnya merancang Masjid Salman ITB, masjid kampus tanpa kubah pertama di Indonesia.

Masjid Amir Hamzah akhirnya diresmikan pada 7 Januari 1977. Nama itu dipilih untuk mengenang Amir Hamzah, penyair nasional yang religius dan dikenal lewat sajak 'Padamu Jua'. Penamaan ini terasa selaras: masjid di pusat kesenian yang memakai nama sastrawan besar.

Tanpa Kubah, Sarat Gagasan

Rancangan Ahmad Noe’man untuk Masjid Amir Hamzah mengikuti semangat pembaruan seperti pada Masjid Salman ITB: tanpa kubah. Gagasan ini sempat menuai kritik karena dianggap keluar dari tradisi arsitektur masjid Nusantara.

JJ Rizal menuturkan, perdebatan tentang kubah juga pernah terjadi saat Noe’man mempresentasikan desain Masjid Salman kepada Presiden Soekarno. “Dalam Islam yang penting ‘apinya’,” demikian logika yang dikutip JJ Rizal dari pandangan Noe’man. Maksudnya, esensi spiritual lebih penting dari pada simbol bentuk.

Garis-garis vertikal dalam desain dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, sementara garis horizontal melambangkan relasi antarmanusia. Masjid Amir Hamzah menjadi simbol Islam yang dinamis, terbuka terhadap dialog, dan kontekstual dengan lingkungan seni di sekitarnya.

Meski kapasitasnya hanya sekitar 250 jamaah, masjid ini pernah berfungsi sebagai 'laboratorium kerohanian' di tengah 'laboratorium seni' TIM. Tokoh-tokoh seperti Hamka, Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, hingga Nurcholish Madjid pernah mengisi ceramah di sana.

Para sastrawan seperti Taufik Ismail dan Zawawi Imron pun turut mewarnai diskusi keagamaan di ruang tersebut. Masjid kecil itu pernah menjadi titik temu antara iman, intelektualitas, dan kebudayaan.

Dibongkar dan Direlokasi

Namun perjalanan masjid ini tak lepas dari dinamika pembangunan kota. Pada akhir 2013, bangunan lama Masjid Amir Hamzah dibongkar dalam rangka penataan ulang kawasan TIM. Kebijakan ini memicu polemik karena menyangkut bangunan yang memiliki nilai sejarah.

Masjid sempat direlokasi ke basement Planetarium pada 2014–2017. Tak lama kemudian, revitalisasi total TIM kembali membuat masjid terdampak. Aktivitas ibadah bahkan dipindahkan ke basement selama proses pembangunan berlangsung.

Wajah baru Masjid Amir Hamzah akhirnya diresmikan kembali pada 3 Juli 2020 oleh Gubernur Anies Baswedan. Desain modern-industrial karya Andra Matin menghadirkan konsep ramah lingkungan dengan kolam ikan mengelilingi bangunan.

Secara visual, masjid ini tampil minimalis, terbuka, dan kontekstual dengan arsitektur baru TIM. Namun perubahan fisik yang berulang juga membawa konsekuensi: memori sejarahnya semakin sulit dilacak.

Generasi Baru yang Tak Lagi Mengenal Sejarahnya

Edi Junaedi, Pengurus Masjid Amir Hamzah, mengakui bahwa tidak semua jamaah memahami sejarah panjang masjid ini.

“Selain dosen dan pengajar atau pekerja di IKJ yang sudah senior, banyak mahasiswa saat ini tak tahu sejarah Masjid Amir Hamzah,” ujar Edi ditemui JawaPos.com di sekitar area masjid.

Menurut Edi, perubahan lokasi dan bentuk bangunan membuat kesinambungan cerita terputus. Ditambah lagi, prasasti asli yang ditandatangani Ali Sadikin tidak lagi dipajang di area yang mudah dilihat pengunjung.

Padahal, bagi mahasiswa Institut Kesenian Jakarta yang setiap hari beraktivitas di sekitar masjid, memahami sejarah tempat ini bisa menjadi bagian dari kesadaran akan hubungan antara agama dan kebudayaan.

Selasar Masjid Amir Hamzah di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Selasar Masjid Amir Hamzah di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

Ramadhan dan Upaya Merawat Ingatan

Di bulan Ramadhan, Masjid Amir Hamzah kembali ramai oleh jamaah untuk salat tarawih dan kajian. Namun di balik keramaian itu, tersimpan pertanyaan tentang bagaimana sejarahnya dirawat.

Masjid ini menyimpan narasi unik: lahir dari kritik di ruang teater, dirancang arsitek pembaru, menjadi ruang diskusi tokoh-tokoh besar, lalu berkali-kali dibongkar demi menyesuaikan wajah kota.

Jika tak didokumentasikan dan dikenalkan kembali, sejarah itu bisa benar-benar pudar. Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk tak sekadar beribadah, tetapi juga menelusuri jejak masa lalu.

Mengunjungi Masjid Amir Hamzah hari ini bukan hanya tentang menikmati arsitektur modernnya. Ia juga tentang menyadari bahwa di tempat itu pernah menyala 'api' gagasan, api yang semestinya tetap dijaga agar tak padam oleh zaman.

EDITOR: Kuswandi