"Hati pun bagaikan seputih embun yang memberi kesejukan dan menundukkan amarah dikala manusia menggunakan akal pikirandalam menjawab kegelisahan hidup," ujar Ngatawi Al-Zastro pada acara ngabuburit bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan dengan tema "Dakwah Sunan Bonang; Menata Hati Menata Kehidupan," pada hari Minggu (9/5) Pukul 17.00 WIB
Menurutnya, menata hati bukan perkara yang mudah, tetapi jika berhasil melakukannya maka hidupnya akan menjadi tenang, bekerja menjadi ikhlas, dan hidupnya barokah serta indah. Lantaran hati berfungsi sebagai sebuah sistem yang akan menentukan baik buruknya kehidupan.
“Saat ini menata hati bukan masalah yang mudah. Jika mensyukuri apa yang dianugerahkan Allah Swt, pekerjaan dijalankan dengan ikhlas, maka hidup akan tenang. Hati disini, substansinya adalah sebagai motor, penggerak, dinamisator, evaluator, itu adalah hati kita," Jelas Zastrow.
Zastrow juga menuturkan, dakwah yang penting adalah dakwah yang mampu mengajak para pendengarnya untuk sama-sama menata hati, sebagaimana halnya dakwah yang dilakukan Sunan Bonang.
"Sebagaimana kita tahu bagaimana saat ini banyak sekali tarekat-tarekat yang membantu manusia dalam membersihkan dan menata hati. Begitu juga dengan Sunan Bonang. Pendekatan spiritual yang di kemas lewat seni dan budaya sudah banyak terabadikan dalam karyanya," ujarnya.
Baca Juga: Muhammadiyah Kecam Tindakan Israel Usir Jamaah di Masjid Al Aqsa
"Strategi yang dipakai oleh Sunan Bonang dalam berdakwah adalah melalui lagu riyadhoh, lagu spiritual dengan pendekatan tasawuf. Maka buku-buku yang di tulis oleh Sunan Bonang intinya banyak yang berbicara tentang tasawuf, tentang menata hati,” lanjut Zastrow
Salah satu buku yang ditulis oleh Sunan Bonang terkait upayanya dalam menata hati masyarakat, yaitu buku Suluk Wuragil. Suluk Wuragil ini adalah suluk guidance untuk menghidupkan hati manusia supaya kehidupan di dunia bisa tertata dengan baik.
Zastrow juga menuturkan, hal yang paling penting lagi adalah harus menempuh segala usaha dalam upaya menghidupkan dan menata hati. Misalnya dengan cara berdzikir, membaca Qur'an, dan shalat malam.
"Semangat yang bisa kita tarik adalah semangat menata hati, kuncinya adalah menata hati. Makanya orang itu bisa radikal karena hatinya mati, orang bisa menjadi intoleran karena hatinya beku. Jadi kalau hatinya hidup, maka hati ini bisa menangkap nur ilahi," pungkas Zastrow.