← Beranda
Dorong Intervensi Nyeri Dicover BPJS, ISAPM Gelar Indoanalgesia Summit 2026 dan Cetak Rekor MURI
Mohamad Nur AsikinRabu, 16 September 2026 | 19.42 WIB
Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia untuk Manajemen Nyeri (ISAPM) menyelenggarakan pertemuan ilmiah internasional berskala besar bertajuk Indoanalgesia Official Summit 2026 di Surabaya. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia untuk Manajemen Nyeri (ISAPM) menyelenggarakan pertemuan ilmiah internasional berskala besar bertajuk Indoanalgesia Official Summit 2026 di Surabaya pada 10 hingga 13 September 2026. 

Mengusung tema besar "Together, Alleviate Pain Suffering", konferensi ini dihadiri lebih dari 400 dokter spesialis lintas disiplin, akademisi, hingga delegasi dari 5 negara guna membahas masa depan manajemen nyeri di Indonesia.  

Presiden ISAPM, Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI, Subsp. M.N(K), FIPP, menegaskan bahwa agenda ilmiah ini dirancang untuk merobohkan empat kesenjangan utama pelayanan nyeri di tanah air, yakni disparitas geografis, standardisasi kompetensi tenaga medis, regulasi pembiayaan, serta edukasi publik. Ia menyoroti pentingnya integrasi berbagai keahlian klinis secara menyeluruh di tingkat rumah sakit.  

"ISAPM melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu yang mencakup dokter spesialis anestesi, neurologi, bedah saraf, ortopedi, hingga rehabilitasi medik untuk memastikan pemerataan standar kompetensi penanganan nyeri di seluruh wilayah Indonesia," terang Dr. Ristiawan. 

Melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan sesi simposium regulasi yang melibatkan figur pemangku kebijakan kesehatan nasional, ISAPM secara aktif menyusun rekomendasi strategis terkait reformasi sistem pembiayaan medis. 

Baca Juga: Perkuat Literasi Program JKN, BPJS Kesehatan Jalin Sinergi dengan Keuskupan Agung Jakarta

Salah satu agenda mendesak yang diperjuangkan adalah integrasi teknologi intervensi nyeri minimal invasif ke dalam tanggungan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).  

"Kami merumuskan langkah advokasi agar prosedur intervensi nyeri dapat terakomodasi dalam jaminan BPJS Kesehatan. Mengingat sekitar 80 persen kedatangan pasien ke rumah sakit dipicu oleh keluhan nyeri, ekspansi program pendidikan subspesialis nyeri terus kami dorong agar manfaat pelayanan ini terjangkau hingga ke kawasan pelosok tanah air," pangkasnya.  

Ketua Panitia Indoanalgesia Summit 2026, dr. Mirza Koeshardiandi, Sp.An-TI, Subsp.I.N.(K), FIPM, FIPP, DABRM, menjelaskan bahwa simposium ini mengadopsi standar dan keilmuan mutakhir global, termasuk dari Korea Selatan. Ia menekankan esensi utama tatalaksana nyeri yang tidak hanya berorientasi simtomatik, melainkan mengobati akar penyebab biologisnya.  

"Manajemen nyeri bertujuannya mengobati nyeri sebagai sebuah penyakit. Penanganan nyeri tidak hanya berfokus pada penghilangan rasa sakit, tetapi juga mengembalikan fungsi hidup pasien secara utuh agar dapat kembali beraktivitas normal, baik untuk bekerja menafkahi keluarga, menjalankan peran rumah tangga, maupun bersekolah," kata dr. Mirza.  

Lebih lanjut, dr. Mirza memaparkan efektivitas metode kedokteran regeneratif serta tindakan terpandu teknologi radiologi modern untuk menggantikan pembedahan konvensional dan konsumsi analgesik kimia berkepanjangan.  

"Melalui metode regeneratif dan intervensi tanpa operasi bedah terbuka, kondisi seperti robekan tendon joint maupun saraf terjepit dapat ditangani secara presisi dengan bantuan pemindaian ultrasound untuk merangsang pemulihan jaringan dari dalam tanpa memicu efek samping organ," jelasnya.  

Penyelenggaraan akbar yang juga menghadirkan pameran klinik nyeri Pain Clinic Expo pertama di tanah air ini ditutup dengan torehan prestasi dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). ISAPM resmi dianugerahi rekor berkat keberhasilannya menggelar 11 lokakarya hands-on yang mencakup kadaver, ultrasonografi (USG), hingga fluoroskopi, menjadikannya rangkaian simposium manajemen nyeri terbanyak dalam satu gelaran. 
 
Direktur MURI, Awan Raharjo, mengapresiasi tingginya dedikasi komunitas medis dalam memperkuat keahlian klinis dan kapabilitas layanan intervensi nyeri di tanah air.  

"Ini adalah sebuah rangkaian kegiatan ilmiah di bidang manajemen nyeri yang diprakarsai pertama kalinya oleh ISAPM. Pada penyelenggaraan kali ini, dengan menghadirkan simposium internasional yang mencakup 11 topik, ini menjadi rangkaian simposium terbanyak di Indonesia," ujar Awan Raharjo.  

Awan menegaskan bahwa rekor MURI ini pantas disematkan atas sumbangsih nyata dalam mendongkrak profil medis kedokteran Indonesia di kawasan regional.  

"Lembaga MURI menyaksikan bahwa simposium internasional ini sungguh mendapat atensi dan wajib hukumnya bagi MURI untuk diapresiasi setinggi-tingginya. Kegiatan ini adalah komitmen ISAPM dalam mengembangkan pendidikan, kompetensi, inovasi, dan kolaborasi multidisiplin. Ini wadah silaturahmi, pembelajaran peningkatan keterampilan klinis, serta ruang berbagi pengalaman. Perkembangan dunia anestesi di Indonesia sudah luar biasa dan menjadi leading sector di Asia Tenggara. Kami meyakini spesialis anestesi Indonesia ke depannya akan menjadi kiblat bagi perkembangan dunia anestesi global," pungkasnya.

EDITOR: Mohamad Nur Asikin