JawaPos.com - World Health Organization (WHO) mengumuman bahwa influenza menjadi ancaman kesehatan global yang signifikan dengan perkiraan 290.000 hingga 650.000 kematian setiap tahunnya. Namun, cakupan vaksinasi influenza dewasa di Indonesia masih tergolong rendah, yakni hanya sekitar 0,5 per 1.000 populasi.
Angka tersebut jauh di bawah negara lain, seperti Singapura (90 per 1.000), Jepang (250 per 1.000), dan Korea (311 per 1.000). seiring perkembangan epidemiologi, WHO juga merekomendasikan penggunaan vaksin influenza trivalent (TIV) agar perlindungan lebih relevan terhadap strain virus yang beredar saat ini.
Pada populasi dewasa, influenza juga berkontribusi terhadap tingginya angka rawat inap dan penurunan produktivitas. Selain itu, risiko penyakit berat lainnya (komplikasi) diketahui meningkat pada individu lansia serta mereka yang memiliki komorbid. Kondisi ini menunjukkan bahwa influenza perlu dipandang sebagai ancaman kesehatan serius, apalagi influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang menular.
“Influenza bukan selesma (common cold). Pada pasien common cold, jarang terjadi deman dan sakit kepala. Sedangkan pada pasien influenza, sering kali demam tinggi secara tiba-tiba yang biasanya berakhir dalam 3—4 hari dan sering kali pasien mengalami sakit kepala. Kemudian, pada kelompok dewasa dan lansia, influenza dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, bahkan kejadian kardiovaskular akut,” tutur Ketua PERALMUNI (Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia), Iris Rengganis dalam keterangannya, Rabu (6/5).
"Vaksinasi influenza tahunan merupakan tindakan pencegahan utama untuk mengurangi kasus kematian dan rawat inap yang disebabkan virus influenza. Sebab pencegahan jauh lebih baik dibandingkan menunggu komplikasi terjadi,” tambahnya.
Di sisi lain, para ahli kesehatan global, termasuk WHO, tidak lagi mendeteksi sirkulasi virus B/Yamagata sejak tahun 2020, sehingga mendorong penyesuaian komposisi vaksin. Dalam hal ini, influenza quadrivalent (QIV) menjadi vaksin influenza trivalent (TIV). Perubahan rekomendasi WHO ini mencerminkan dinamika epidemiologi influenza global. Prof. Iris pun menyoroti pentingnya adaptasi terhadap perkembangan ilmiah dalam vaksinasi influenza tersebut.
“Transisi dari vaksin quadrivalent ke trivalent merupakan bentuk penyesuaian ilmiah terhadap perkembangan epidemiologi virus influenza global. Ini bukan pengurangan proteksi, melainkan optimalisasi berdasarkan galur (strain) yang saat ini benar-benar bersirkulasi. Efektivitas vaksin lebih ditentukan oleh kesesuaian galur dengan virus yang beredar, bukan semata jumlah galurnya. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap perubahan komposisi vaksin. Hal yang terpenting adalah cakupan vaksinasi terus meningkat,” jelas Iris.
Menurut Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, Sukamto, vaksin influenza sebaiknya dilakukan secara rutin setiap tahun. Hal ini penting karena virus influenza terus mengalami mutasi, sehingga komposisi vaksin juga diperbarui secara berkala. Dengan vaksinasi tahunan, perlindungan terhadap galur virus yang sedang beredar dapat tetap optimal.
"Ini khususnya penting bagi dewasa dengan faktor risiko dan kelompok lansia, sebab vaksinasi adalah investasi kesehatan jangka panjang yang sangat bernilai,” tambahnya.
Sukamto juga menyampaikan bahwa peningkatan cakupan vaksinasi influenza perlu didukung oleh pemahaman masyarakat yang lebih baik. Faktanya, banyak masyarakat yang menunda vaksinasi karena menganggap influenza bukan penyakit serius.
Padahal, bagi kelompok berisiko, vaksinasi dapat membantu mencegah komplikasi yang serius. Edukasi kesehatan juga harus terus dilakukan agar masyarakat memahami manfaat nyata vaksinasi. Dengan peningkatan kesadaran, perlindungan populasi dapat semakin kuat.
Menjawab kebutuhan tersebut, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya, PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis), berkomitmen memperkuat ketahanan kesehatan nasional dengan menghadirkan vaksin influenza trivalent.
“Kalbe melalui Kalventis ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa influenza dapat berdampak serius, khususnya pada dewasa dengan penyakit penyerta dan kelompok lansia. Vaksinasi adalah langkah perlindungan yang penting untuk mencegah komplikasi serta menekan risiko rawat inap. Sebagai perusahaan kesehatan, kami berkomitmen untuk memberikan edukasi kesehatan yang relevan bagi masyarakat dan menghadirkan vaksin influenza trivalent yang selaras dengan rekomendasi WHO,” ujar Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno.
Kalbe dan Kalventis akan terus memperkuat peran dalam mendukung edukasi kesehatan preventif di Indonesia. Di mana perlindungan kesehatan terbaik dimulai dari kesadaran dan pencegahan sejak dini.
"Melalui kolaborasi dengan komunitas, tenaga kesehatan, dan organisasi profesi kesehatan, kami ingin memperluas akses masyarakat terhadap informasi kesehatan yang akurat dan terpercaya. Upaya ini sejalan dengan komitmen kami untuk menghadirkan solusi kesehatan yang berdampak bagi masyarakat luas,” tutup Vidi.