← Beranda
Bukan Bikin Drakor, Indonesia-Korsel Perkuat Kerja Sama lewat Pengembangan Jet Tempur
Syahrul YunizarSenin, 18 Mei 2026 | 20.24 WIB
Pesawat tempur KF-21 Boramae yang dikembangkan bersama oleh Indonesia dan Korsel menegaskan kemitraan strategis kedua negara. (Korean Aerospace Industries)

 

JawaPos.com - Hubungan baik antara Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel) berlangsung melalui berbagai kerja sama. Termasuk diantaranya pada bidang industri pertahanan seperti pengembangan dan produksi pesawat atau jet tempur KF-21 Boramae yang sampai saat ini masih terus bergulir.

Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Santo Darmosumarto, kerja sama tersebut menegaskan bahwa Korsel adalah salah satu mitra strategis utama dalam kebijakan luar negeri Indonesia, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.

Santo menyampaikan, hubungan kedua negara memiliki dimensi strategis yang semakin luas. Mulai dari ekonomi, industri pertahanan, hingga penguatan stabilitas kawasan. Bagi Indonesia, Korsel bukan sekadar mitra ekonomi, melainkan sudah berkembang menjadi special strategic partner dengan hubungan historis yang kuat.

”Korea Selatan selalu menjadi negara strategis bagi Indonesia. Tidak hanya karena investasi dan perdagangan, tetapi juga kerja sama yang bersifat historis, termasuk pengalaman demokratisasi, governance, hingga pembelajaran pembangunan ibu kota baru,” kata dia dalam acara sosialisasi lomba menulis Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) pada Senin (18/5).

Lomba bertema Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM tersebut sejalan dengan jalinan hubungan baik antara kedua negara. Santo menjelaskan bahwa dalam arsitektur geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompetitif, Indonesia dan Korsel dipandang memiliki posisi serupa sebagai middle power yang berperan menjaga keseimbangan kawasan.

Bersama Australia, kedua negara tersebut pernah dikenal dalam konsep kerja sama negara menengah dengan akronim KIA atau Korea, Indonesia, Australia, sebuah kelompok negara yang memiliki perspektif sejalan dalam menjaga stabilitas regional di Kawasan Indo-Pasifik.

”Negara-negara middle power dapat menjadi motor kerja sama kawasan sekaligus penyeimbang di tengah dinamika kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, maupun Jepang,” ujarnya.

Pejabat yang pernah bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kamboja itu menyampaikan bahwa, setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul beberapa waktu lalu, pemerintah menegaskan tidak ada perubahan dalam cara Indonesia memandang Korsel.
Santo menyatakan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Indonesia untuk memastikan Korsel tetap berada di halaman pertama diplomasi ekonomi dan strategis Indonesia. Kunjungan itu juga menjadi sinyal kuat dari Indonesia.

”Kunjungan presiden membawa sinyal yang sangat jelas bahwa Korea Selatan tetap menjadi destinasi penting bagi Indonesia, baik dalam investasi, perdagangan, industrialisasi, maupun kerja sama pertahanan,” bebernya.

Proyek strategis pesawat tempur KF-21 Boramae adalah salah satu simbol penting kemitraan strategis kedua negara. Menurut Santo, kerja sama tersebut memiliki arti strategis bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia. Kerja sama itu, lanjut dia, harus dilihat dalam kerangka integrasi yang lebih luas.

Sebagaimana telah disampaikan kepada publik, saat ini Indonesia menjalin kerja sama pertahanan dengan berbagai negara besar seperti Prancis, Turki, dan Tiongkok. Karena itu, tantangan utama bukan sekadar memiliki banyak mitra, melainkan memastikan seluruh sistem pertahanan nasional dapat terintegrasi.

”Yang penting adalah bagaimana berbagai kerja sama dari banyak sumber itu bisa menjadi satu sistem yang integratif dan berfungsi secara keseluruhan bagi pertahanan nasional,” ucap dia menegaskan.

Lomba yang diselenggarakan oleh ISDS, ucap Santo, memiliki relevansi yang semakin besar di tengah era informasi digital yang serba cepat dan minimalis. Dia juga menyoroti bahwa kreativitas intelektual manusia tetap memiliki peran penting di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI).

Di tempat yang sama, CEO sekaligus Co-Founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) Dwi Sasongko, menilai penyelenggaraan lomba menulis tersebut merupakan bagian dari pendekatan diplomasi publik yang relevan di era hubungan internasional modern.

”Melalui kompetisi menulis ini, kami ingin membuka ruang partisipasi publik agar masyarakat dapat memahami dinamika kerja sama strategis tersebut secara lebih kritis, sekaligus ikut berkontribusi dalam membangun gagasan yang konstruktif bagi kepentingan nasional,” ucap Dwi.

Lomba menulis ISDS sudah dimulai sejak 17 April dan akan berakhir pada 7 Juni 2026. Lomba tersebut bisa diikuti seluruh kalangan masyarakat yang sudah berusia 17 tahun ke atas. Info selengkapnya tentang lomba tersebut bisa diperoleh melalui laman https://bit.ly/Lomba-RI-Korsel. Pengumuman 18 pemenang akan dilakukan pada pertengahan Juni 2026.

EDITOR: Estu Suryowati