← Beranda
Naik Pangkat, Begini Profil Brigjen Iswan Nusi yang Menguasai Teknologi AI
Bintang PradewoSenin, 30 Maret 2026 | 14.13 WIB
Brigjen TNI Iswan Nusi saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto. (Istimewa)

JawaPos.com – Brigjen Iswan Nusi bukanlah sosok yang muncul dari ruang hampa. Rekam jejaknya sebagai Komandan Distrik Militer (Dandim) menempatkannya pada titik paling konkret dalam fungsi militer di Indonesia komando teritorial. 

Di posisi ini, seorang perwira berhadapan langsung dengan realitas masyarakat, dinamika sosial, hingga potensi konflik yang tidak selalu berbentuk "perang terbuka". 

"Dalam peran tersebut menuntut saya punya ketegasan, ketenangan, dan kemampuan mengambil keputusan cepat di tengah situasi yang cair," kata Iswan Nusi kepada awak media, Senin (30/3).

Baca Juga: Pergerakan Arus Balik di Tol Trans Jawa telah Melandai

Selain itu, Iswan juga pernah menjadi Komandan Batalyon 764/lamba Baua Kaimana, Papua. Pekerjaannya selama disana pun sangat berisiko.

"Karena medan yang dihadapi bukanlah peluru, melainkan kerumitan koordinasi lintas sektor demi menjaga stabilitas wilayah," lanjutnya.

Iswan menambahkan ia pernah mengemban amanah di bidang penerangan militer. Di era disrupsi informasi saat ini, posisi tersebut menjadi sangat krusial. 

"Seorang perwira seperti saya dituntut memiliki kemampuan membaca situasi bukan hanya secara fisik di lapangan, tetapi juga di ruang publik dan media digital," ucapnya.

"Saya juga perlu menguasai teknologi terbaru termasuk AI," sambung Jendral yang sudah malang melintang di dunia internasional.

Baca Juga: Gunung Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Mulai Diangkut, Puluhan Truk Dikerahkan!

Kemampuan komunikasi strategis Iswan kini menjadi bagian integral dari spektrum kepemimpinan modern. Bagaimana militer membangun narasi dan kepercayaan publik adalah bentuk pertahanan di dimensi yang berbeda.

Puncak dari pengayaan pengalaman Iswan Nusi adalah pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI). Di lembaga pendidikan tertinggi TNI ini, seluruh pengalaman lapangan dan manajerial disatukan ke dalam kerangka berpikir yang lebih strategis.

"Di sinilah seorang perwira diuji kemampuannya untuk memahami kompleksitas keputusan di tingkat makro," ujar Iswan Nusi.

Sesko TNI menjadi kawah candradimuka bagi para perwira untuk bertransformasi dari pemimpin taktis menjadi pemikir strategis yang mampu melihat tantangan pertahanan negara secara holistik.

Jika sebagian publik masih memandang karier militer semata-mata dari pengalaman tempur, maka realitas di tubuh TNI menunjukkan cakrawala yang jauh lebih luas. 

Baca Juga: Akses Menuju Setu Babakan Rusak Parah, DPRD DKI: Malu, Ini Wajah Budaya Betawi!

Kepemimpinan militer yang tangguh dibentuk oleh kombinasi tiga pilar utama: pengalaman lapangan, kematangan sistem, dan keberlanjutan pembelajaran

Brigjen TNI Iswan Nusi adalah cermin dari kombinasi tersebut. Pada akhirnya, seorang perwira tidak dinilai hanya dari apa yang terlihat di permukaan, melainkan dari panjangnya proses dan kedalaman pengalaman yang telah ia jalani sepanjang pengabdiannya.

Iswan Nusi baru saja naik pangkat menjadi Brigjen, sebelumnya ia berangkat Kolonel Infantri. Berkat prestasinya itu, Iswan pun naik pangkat dan kini menjabat sebagai Asops (Asisten Operasi) Kodam Jaya.

Membaca Dinamika Kenaikan Pangkat di Tubuh TNI

Baca Juga: Pemprov DKI Perketat Aturan HP di Sekolah, Buntut Berlakunya PP Tunas dan Pembatasan 8 Platform Digital

Kenaikan pangkat Iswan Nusi dari Kolonel Infantri hingga menjadi Brigjen sempat jadi sorotan publik. Namun, hal tersebut banyak yang tidak melihat prestasinya selama ini.

Disisi lain, banyak pihak yang juga tidak tahu menahu tentang proses birokrasinya, hingga akhirnya banyak muncul persepsi miring tentang TNI.

Kenaikan pangkat Brigjen Iswan Nusi menjadi contoh terbaru dari fenomena ini. Diskursus publik segera bergerak liar ke arah relasi personal, mengabaikan mekanisme institusional yang sebenarnya mendasari keputusan tersebut. 

Di titik inilah muncul persoalan mendasar: apakah masyarakat sedang mengkritisi sistem secara objektif, atau sekadar bereaksi terhadap persepsi yang telanjur terbentuk?

Dalam tradisi militer modern, khususnya di Indonesia, promosi perwira tinggi tidak berdiri di atas keputusan individual semata. 

Promosi adalah hasil dari mekanisme kolektif yang melibatkan berbagai pertimbangan berlapis, mulai dari rekam jejak jabatan, pengalaman operasional di lapangan, hingga keberhasilan menyelesaikan pendidikan strategis seperti Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI).

Baca Juga: 12 Tahun Transjakarta Beroperasi, Pramono Anung: Cetak Dampak Ekonomi Rp73,8 Triliun: Digunakan 1,4 Juta Penumpang per Hari

Jalur-jalur ini bukan sekadar formalitas administratif. Ia adalah bagian dari sistem seleksi ketat yang menentukan kesiapan seorang perwira untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. 

Dalam konteks ini, publik semestinya diajak melihat apakah terdapat anomali dalam perjalanan karier sang perwira. 

EDITOR: Bintang Pradewo