← Beranda
Polisi vs Pencuri: Bagaimana Deewaar (Mungkin) Memengaruhi The Raid
Mahfud IkhwanSabtu, 26 Oktober 2024 | 19.01 WIB
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

The Raid membuka mata dunia pada sinema Indonesia dan khazanah perkelahiannya.

DIKLAIM sangat dipengaruhi oleh film-film aksi Hongkong, namun ada kemungkinan ia juga berutang kepada sinema India. Rama, dalam beberapa hal, adalah Inspektur Vijay kita.

Inspektur Vijay adalah protagonis Zanjeer (std Prakash Mehra, 1973), film pertama Amitabh Bachchan sebagai polisi, setelah ia mengalami pecah telur kariernya dengan menjadi dokter pendiam di film Anand (Hrishikesh Mukherjee, 1971). Aktor yang di awal kariernya dianggap tak cukup ideal untuk film India (tubuhnya terlalu tinggi, kaku, dan wajah muram) akhirnya menemukan takdirnya sebagai jagoan.

Sejak itu nama Vijay adalah formula; ia dipakai secara berulang untuk karakter-karakter yang dimainkan Bachchan kemudian. Selama kariernya, tak kurang 23 kali Bachchan menjadi Vijay. Vijay menjadi sangat identik dengan Bachchan, dan secara umum dengan film India. Mudah disimpulkan, hampir pasti dari sinilah publik Indonesia punya idiom ”Inspektur Vijay” untuk menyebut semua karakter polisi di film India.

Namun, dari 23 Vijay, Inspektur Vijay bukanlah yang paling jagoan. Vijay sang polisi di Zanjeer boleh memulai, tapi Vijay si pencuri di Deewar-lah yang terbesar. Sementara Vijay pertama menjadikan hukum untuk menunaikan dendam, Vijay yang kedua justru melawan hukum untuk menunjukkan dendamnya.

Deewaar (Yash Chopra, 1975) berkisah tentang seorang gangster yang membesarkan adiknya menjadi polisi dan kemudian mati di tangannya. Tak hanya film paling penting dalam karier Bachchan, Deewaar juga salah satu film India paling ikonik dalam sejarah sinema mereka. Sutradara Inggris Danny Boyle menyebutnya sebagai ”kunci menuju sinema India”, dan menjadikannya referensi utama bagi Slumdog Millionaire (2008).

Film ini memantapkan tempat Amitabh Bachchan sebagai Shahenshah, raja diraja, industri film India. Juga menjadi pencipta tren ”angry young man”, yang bertahan hingga hari ini di sinema India.

Namun, dampak Deewaar dan karakter kompleks Vijay Verma tak hanya berhenti di sinema India. Menurut Anton Bitel dari British Film Institute, Angry Young Man dari Bombay kelak melahirkan Heroic Bloodshed di Hongkong, yang di sepanjang dekade ’90-an pengaruhnya menyapu Hollywood, dan boleh dikata mengubah bagaimana film aksi dibuat untuk seterusnya. Jejak-jejak pengaruh Deewaar kemudian bisa ditemukan di banyak film di seantero dunia, dalam kadar yang berbeda-beda.

***

Karena kesuksesannya, Deewaar segera dibuat ulang dalam versi Tamil, Telugu, dan Malayalam. Juga diadaptasi di Iran dan Turki. Namun, yang kelak berdampak paling signifikan adalah adaptasi Mandarin-nya, The Brothers (Hua Shan, 1979).

Di luar nuansa kungfunya, The Brothers mengikuti dengan setia alur Deewaar, termasuk mempertahankan karakter-karakter utamanya. The Brothers bahkan memasukkan detail kecil, seperti tato ”Bapakku Maling” di bahu sang saudara tua, hal yang menjadi pemantik dendamnya. Tak ketinggalan, keengganan Vijay berdoa di kuil juga ditunjukkan Zhang Zhigang.

The Brothers tak terlalu sukses di pasar, namun ia adalah jalan pembuka bagi sesuatu yang jauh lebih besar. Pada 1986, John Woo, sutradara yang kariernya sedang mentok, mengambil elemen penting The Brothers untuk menelurkan film sukses pertamanya, A Better Tomorrow. Kisah dua saudara (atau dua sahabat) yang berhadap-hadapan sebagai penjahat dan polisi, yang melibatkan adegan tembak-tembakan indah-megah sekaligus penuh darah, melahirkan apa yang disebut sebagai Heroic Bloodshed. Inilah yang kemudian jadi cap dagang sinema Hongkong sejak itu.

John Woo tak sendirian. Ada nama lain macam Tsui Hark, Ringo Lam, Andrew Lau, dan Alan Mak. A Better Tomorrow diikuti City on Fire, A Better Tomorrow II dan A Better Tomorrow III, The Killer, Bullet in the Head, Hard Boiled, hingga seri Infernal Affairs.

A Better Tomorrow kemudian kembali ke asal sumber inspirasinya ketika dikopi-paste Bollywood sebagai Aatish (1994), demikian juga Hard Boiled yang ditiru Mohra (1994). Sementara City of Fire menginspirasi Reservoir Dogs-nya Tarantino, The Killer memengaruhi Luc Besson membuat Leon: The Professional, dan Infernal Affair diadaptasi Scorsese menjadi The Departed.

***

Pengaruh sinema India pada sinema Indonesia tak terbantahkan besarnya, meskipun terlihat terbatas terutama pada film-film kelas bawah (baca: ”Ketika Bollywood Menatap”, Jawa Pos, 12/10/2024). Di pasar lebih tinggi, yang sineas dan penontonnya lebih senang terhubung dengan Hollywood (atau belakangan Jepang dan Korea), jejak Bollywood sepertinya cukup terbatas.

Tapi, terbatas bukannya sama sekali tak ada. Berkat elemen musikalnya, kita bisa temukan jejak Bollywood di Kejarlah Daku Kau Kutangkap (Chaerul Umam, 1985), peraih Citra 1986 untuk skenario terbaik. Tarian dan nyanyian Markum saat melamar Marni jelas merupakan pelesetan dari sekuen menari-menyanyi Bachchan di Laawaris (Prakash Mehra, 1981).

Kodrat (Slamet Rahardjo, 1986), pemenang Citra 1987 untuk sutradara, fotografi, dan pemeran pembantu pria, barangkali adalah film di luar musikal dan melodrama yang memiliki anasir India. Di luar apakah pengaruh itu masuk dengan sengaja atau tidak, langsung atau tidak, thriller kriminal dengan cerita membumi ini ”sangat India”. Atau, boleh dibilang ”sangat Deewaar”.

Kisah dua anak yatim alumni pesantren di Jombang, Kodrat dan Sofyan, yang berhadap-hadapan sebagai penjahat dan polisi, cukup dekat dengan kisah dua bersaudara miskin dari Bombay, Vijay dan Ravi. Tapi, apakah Deewaar secara langsung mengilhami Kodrat tak serta-merta terjawab.

Secara ritme, juga keberadaan tokoh Solihin, sahabat Kodrat sesama gangster yang dibunuh Sofyan, yang jadi motif Kodrat membalas dendam, Kodrat lebih dekat ke A Better Tomorrow dibanding Deewaar. Masalahnya, Kodrat dan A Better Tomorrow rilis di tahun yang sama. Sulit membayangkan John Woo memengaruhi Slamet.

Barangkali kuncinya ada di karakter Mustakim, pengasuh pesantren yang membesarkan Kodrat, Solihin, dan Sofyan, sekaligus yang jadi kompas moral cerita. Fungsi dan nilai Mustakim sangat dekat dengan tokoh ibu di Deewaar maupun The Brothers. Restu ibu membuat Vijay dan Zhigang bertekad mengakhiri kehidupannya sebagai gangster, sementara kematian Mustakim membuat Kodrat tobat.

The Raid (Gareth Evans, 2011), yang nyaris tanpa drama, jelas tak dibuat oleh seorang penggemar film India. Gareth Evans, dalam banyak wawancara, selalu menyebut bahwa ia tumbuh dengan film-film kungfu dan laga Hongkong. Bruce Lee, Jackie Chan, dan John Woo adalah pengaruh besar untuknya. Tak heran, ia menamai penjahatnya Mad Dog, sama seperti penjahat Woo di Hard Boiled (1992).

Dari Hard Boiled juga kira-kira, Rama dan Andi, dua saudara yang sebelumnya berseberangan memutuskan untuk bersatu guna menghadapi musuh paling berbahaya. Boleh dibilang itulah nyaris satu-satunya elemen drama di The Raid. Dan kita bisa sedikit membayangkan ia didapat dari mana. (*)

EDITOR: Ilham Safutra