JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Selasa (20/10), setelah sebelumnya ditutup melemah sebesar 19 poin menjadi Rp 18.046 per dolar AS pada perdagangan Senin (19/10).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.
"Untuk perdagangan (20/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.040 - Rp 18.090,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Selasa (20/10).
Ibrahim mengatakan, sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berencana mengusulkan penurunan status pasar modal Indonesia masih akan mendominasi untuk pergerakan nilai tukar rupiah.
Ia mengatakan, meskipun perpindahan kelas tersebut masih berupa usulan dan pengkajian serta belum pasti akan terjadi serta lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka USD 110 per barel.
“Namun hal tersebut telah meningkatkan ketidakpastian di pasar modal Indonesia, sehingga membuat investor cenderung menghindari risiko,” ujarnya.
Ibrahim mengatakan, adanya upaya dari otoritas bursa untuk melakukan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap melakukan pelanggaran, dalam jangka pendek berpotensi meningkatkan volatilitas dan ketidakpercayaan.
Namun jika diimplementasikan dengan baik, dalam jangka panjang akan kembali meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Sementara itu, pihak bursa mengumumkan penurunan batas auto-rejection bawah (ARB) dari 15 persen menjadi 7 persen, yang berlaku mulai hari Senin hingga akhir tahun, dengan tujuan membantu investor dalam pengambilan keputusan.
Sebelumnya otoritas regulator menjatuhkan denda administratif dalam jumlah besar, dengan total mencapai Rp 2,1 triliun, terhadap pihak-pihak yang terkait dengan perdagangan serta penawaran umum perdana (IPO) dari tiga perusahaan besar.
Di sisi lain, ruang gerak Bank Indonesia (BI) juga jadi perhatian. Intervensi di pasar NDF dan Domestic NDF, serta instrumen lainnya diupayakan untuk meredam volatilitas.
Namun efektivitas intervensi itu akan sangat bergantung pada seberapa besar tekanan yang dihadapi dan seberapa cepat kepercayaan pulih. Dalam kondisi seperti ini, kenaikan suku bunga acuan berpotensi jadi pilihan BI untuk menjaga daya tarik aset rupiah.
“Bahkan BI diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan pada pertemuan Oktober ke 6 persen,” ucapnya.