JawaPos.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan masih bergerak dalam tren pelemahan setelah ditutup anjlok 11,57 persen ke level 5.185,11 pada Jumat (16/10).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, mengatakan IHSG mengalami breakdown di bawah level support 5.342, yang merupakan level terendah pada 8 Juni 2026, sehingga mencetak level terendah baru sepanjang tahun ini.
Sebelumnya, IHSG telah menembus ke bawah (breakdown) level neckline 6.000 dari pola Head and Shoulders dan bergerak di bawah MA20. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tren pergerakan IHSG masih cenderung bearish.
Sementara itu, apabila terjadi penguatan kembali (rebound), area gap down pada rentang 5.404 hingga 5.863,78 berpotensi menjadi level resistance bagi IHSG.
“Penurunan yang dalam membuka peluang technical rebound, namun arah selanjutnya bergantung pada arus dana asing dan respons otoritas terhadap isu MSCI serta stabilitas harga minyak,” ujar Ardy dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (19/10).
Ardy mengatakan, Dalam skenario moderat, konsolidasi bottoming di rentang 5.180-5.450. Setelah koreksi tajam minus 11,57% dan trading halt, pasar membutuhkan waktu untuk mencerna isu MSCI.
Sementara itu, berdasarkan data asing masih menunjukkan net buy di BBCA Rp 473,3 miliar sepekan, indikasi awal bottom fishing. Strategi menunggu konfirmasi candle bullish dengan volume di atas 5.233.
Dalam skenario optimis, rebound menuju 5.600. Jika BEI berhasil memberikan klarifikasi meyakinkan ke MSCI, OJK melanjutkan reformasi, dan harga minyak stabil, peluang penutupan gap menuju 5.800-an terbuka.
Dalam skenario pesimis, breakdown lanjutan di bawah 5.000. hal tersebut bisa terjadi jika outflow terkait MSCI terealisasi dan eskalasi Hormuz mendorong Rupiah melewati Rp 18.100, IHSG berisiko menuju 4.950- 5.000.
“Pada skenario ini, aset defensif seperti emas dan cash menjadi pilihan. Adapun level penting yang wajib diperhatikan yakni Support 5.180, 5.000, 4.850 dan Resistance 5.350-5.404, 5.600, 5.864,” ujarnya.
Adapun, dalam analisisnya IPOT Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang menarik untuk diperdagangkan pada Senin (19/10), seperti PT Bank Central Asia (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), serta instrumen investasi berbasis emas.
IPOT merekomendasikan buy saham BBCA dengan level masuk (entry) di atas 5.950, target harga 6.225, dan batas kerugian (stop loss) di bawah 5.850.
Secara historis, saham perbankan berkapitalisasi besar cenderung mengalami rebound lebih cepat karena memiliki likuiditas yang dalam dan menjadi salah satu tujuan utama investor asing ketika kembali masuk ke pasar saham.
Selain itu, fundamental BBCA dinilai tetap terjaga, didukung pertumbuhan kredit yang berada di atas rata-rata industri.
IPOT juga merekomendasikan buy saham ASII dengan level entry di atas 4.490, target harga 5.200, dan stop loss di bawah 4.470.
Astra dinilai memiliki karakter defensif sebagai perusahaan konglomerasi dengan katalis pembagian dividen. Perseroan sebelumnya mengumumkan dividen interim sebesar Rp 98 per saham dengan imbal hasil dividen (dividend yield) 2,12 persen. Jadwal cum date ditetapkan pada 12 Oktober, sedangkan pembayaran dividen dilakukan pada 30 Oktober.
Katalis lainnya berasal dari rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp 8 triliun dalam periode 12 bulan, dengan target rasio pembagian dividen (payout ratio) sebesar 45–50 persen.
Agenda Investor Day pada November 2026 juga diharapkan memberikan kejelasan mengenai strategi daur ulang modal (capital recycling) perseroan.
Meski persaingan dengan produsen peralatan asli (original equipment manufacturer/OEM) asal China masih menjadi risiko, arus kas ASII dinilai stabil.
Selain itu, aksi beli bersih investor asing (net buy) sebesar Rp 134,4 miliar dalam sepekan menunjukkan adanya kepercayaan terhadap saham tersebut.
IPOT merekomendasikan buy saham EMAS dengan level entry di atas 7.620, target harga 8.500, dan stop loss di bawah 7.400.
Saham ini dinilai dapat menjadi pilihan lindung nilai (hedging) di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan harga emas global.
Pendapatan EMAS yang berkaitan dengan harga emas dunia dan nilai tukar dolar AS melalui Proyek Emas Pani dinilai berpotensi memperoleh keuntungan ketika rupiah melemah.
Koreksi harga saham akibat aksi jual panik (panic selling) di tengah anjloknya IHSG juga dinilai membuka peluang bagi investor untuk menerapkan strategi buy on weakness atau membeli saat harga terkoreksi, maupun buy on breakout ketika harga menembus level tertentu.
Selain saham, IPOT merekomendasikan Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD) sebagai alternatif investasi berbasis emas.
Instrumen tersebut dinilai dapat menjadi pilihan diversifikasi portofolio di tengah pelemahan rupiah yang telah menembus Rp 18.000 per dolar AS. Aset berbasis emas dipandang berpotensi berfungsi sebagai instrumen lindung nilai ketika pasar keuangan mengalami tekanan.
XGLD menawarkan fleksibilitas transaksi di bursa layaknya saham, dengan eksposur investasi pada emas dan tetap mengacu pada prinsip syariah.
Instrumen ini dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap emas tanpa harus bertransaksi emas fisik secara langsung.