← Beranda
Ketegangan Geopolitik Bayangi Ekonomi Global, Menkeu Purbaya Beberkan Kondisi RI
Djati WaluyoRabu, 2 September 2026 | 04.32 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut kondisi geopolitik global sepanjang tahun 2026 cukup berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi global dan Indonesia.

Ia menjelaskan, saat ini perekonomian global masih dihadapkan pada tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi. Berbagai risiko eksternal, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan global, hingga proteksionisme yang semakin menguat, terus membayangi prospek perekonomian dunia.

“Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya rantai pasok, volatilitas harga komoditas, tegangan terhadap inflasi, suku bunga, dan nilai tukar yang pada kira-kiranya berdampak pada perlambatan ekonomi global, termasuk mempengaruhi Indonesia juga,” ujar Purbaya dalam Rapat dengan Komisi XI DPR RI, Selasa (1/9).

Purbaya mengatakan, situasi tersebut menciptakan tantangan yang tidak mudah bagi otoritas moneta dan fiskal di berbagai negara. Pasalnya, pemerintah harus menjaga inflasi di tingkat yang terkendali.

Baca Juga: Waspada Monkey Pox, Balai Karantina Jatim Perketat Pengawasan Lalu Lintas Monyet

“Namun di sisi lain, pengetatan kebijakan yang terlalu agresif, berisiko menahan aktivitas perekonomian dan memperlambat pertumbuhan,” ucapnya.

Selain itu, Ia menyebut juga terdapat risiko dari alam yang akan mempengaruhi kondisi fiskal di Indonesia. Purbaya menjelaskan, pemerintah juga mewaspadai dampak fenomena El Niño terhadap sektor pangan dan energi.

Gangguan terhadap produksi dan distribusi pangan serta pasokan energi berpotensi mendorong kenaikan harga hingga memerlukan langkah antisipatif yang tepat sejak dini.

“Namun, kita bersyukur di tengah keadaan pasca yang global saat ini, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat,” ucapnya.

Purbaya mengatakan, perekonomian Indonesia pada semester I 2026 tumbuh sebesar 5,46 persen dengan inflasi yang tetap terkendali. Likuiditas perbankan juga dinilai memadai untuk menopang penyaluran kredit dan mendukung aktivitas ekonomi.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 tetap mencatat surplus. Adapun cadangan devisa hingga Juli 2026 mencapai USD 145,3 miliar.

Sentimen positif di pasar keuangan domestik juga terus berlanjut. Hal tersebut tercermin dari pergerakan nilai tukar rupiah, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), serta perkembangan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang dinilai kondusif.

“Hal tersebut diperkuat oleh aliran modal masuk yang sampai dengan 28 Agustus 2026 mencapai Rp 140,6 triliun,” ungkapnya.

Baca Juga: Zidan Ungkap Alasan Ceraikan Raisya Bawazier Meski Baru 8 Bulan Menikah

Demikian pula dengan kinerja perekonomian nasional yang tetap solid. Hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara tumbuh 21,3 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Di sisi lain, belanja negara tetap tumbuh kuat dengan defisit anggaran yang masih terkendali pada level 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya menilai, solidnya kinerja perekonomian domestik tersebut berimplikasi terhadap terjaganya kepercayaan dunia terhadap Indonesia.

Hal itu tercermin dari keputusan Standard & Poor's (S&P) yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek (outlook) stabil.

Sementara itu, China Lianhe Ratings memberikan peringkat kredit Indonesia pada level AAA dengan prospek stabil.

EDITOR: Sabik Aji Taufan