← Beranda
Era Baru Pembayaran Digital, Visa Indonesia Ungkap Tren Transaksi Tanpa Proses Manual
Djati WaluyoKamis, 13 Agustus 2026 | 06.00 WIB
Ilustrasi pembayaran digital. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Perkembangan pembayaran digital di Indonesia kini tak lagi sekadar mengubah transaksi tunai menjadi nontunai melainkan mengarah pada pengalaman transaksi yang semakin terintegrasi, mudah, dan minim proses manual.

Director and Commercial Solutions Lead Visa Indonesia, Gede Widhi, mengatakan pembayaran digital ke depan akan semakin menyatu dengan seluruh perjalanan atau journey konsumen.

Menurutnya, saat ini pembayaran tidak lagi dipandang sebagai proses yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari pengalaman konsumen ketika menggunakan suatu layanan.

“Tren yang berkesinambungan ke depannya adalah bagaimana pembayaran digital itu menjadi seamless dan embedded di masing-masing journey ataupun experience dari nasabah ataupun konsumen,” ujar Gede dalam UOB Media Editors Circle 2026, Jakarta, Rabu (12/8).

Baca Juga: Mark Zuckerberg: Bahaya Terbesar AI Bukan Teknologinya, Melainkan Siapa yang Menguasainya

Gede mengatakan, Gede, perubahan tersebut merupakan perkembangan lanjutan setelah masyarakat semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital. Adopsi QRIS dan penggunaan telepon seluler untuk transaksi membuat pembayaran nontunai semakin umum digunakan.

Namun, pengalaman pembayaran masih dapat dibuat lebih terintegrasi. Salah satunya dengan menghilangkan tahapan manual yang membuat perjalanan konsumen terputus.

“Kita tidak melihat pembayaran itu sebagai proses lepasan. Kita melihat itu menjadi satu kesatuan dalam experience mereka melakukan sesuatu. Contoh kalau saya dulu ya mau perpanjang SIM lah misalnya, atau melakukan pembayaran sesuatu ya terkait dengan government,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya tahapan yang terputus dalam perjalanan konsumen meskipun pembayaran sudah menggunakan kanal digital.

"Meskipun itu dibilang pembayaran digital yang menggunakan ATM atau mobile banking, tapi masih ada step yang terputus di situ di mana konsumen harus melakukan sebuah aksi manual," ungkapnya.

Ke depan, konsumen mengharapkan seluruh proses dapat berlangsung dalam satu platform dan satu rangkaian pengalaman. "Kalau sekarang ekspektasinya adalah semuanya itu bisa di-cover dalam satu platform, dalam satu kesatuan, dalam satu journey," ucapnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan