← Beranda
Hasil Survei Bukan Indikator Ekonomi, Ekonom Muhammadiyah Ungkap Neraca Perdagangan hingga Cadangan Devisa Indonesia Stabil
Sabik Aji TaufanKamis, 30 Juli 2026 | 04.31 WIB
Ilustrasi rupiah. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vandiantara menilai, hasil survei tidak bisa dijadikan alat ukur tunggal untuk menilai kondisi riil perekonomian Indonesia. Menurutnya, kondisi ekonomi bangsa ini sekarang cukup baik berdasarkan beberapa data.

Hal itu disampaikan Surya menanggapi hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebut sebanyak 49,4 persen reponden menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk atau sangat buruk.

"Hasil survei SMRC tidak bisa dijadikan alat ukur untuk menilai kondisi riil perekonomian Indonesia, akan tetapi dari hasil survei SMRC kita dapat menyimpulkan bahwa penilaian masyarakat terhadap keberhasilan pemerintah di bidang ekonomi masih rendah," kata Surya, Rabu (29/7).

Dia menyampaikan, terdapat Perbedaan besar hasil survei tersebut dengan data lain. Seperti Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sepanjang satu tahun pemerintahan Prabowo akumulasi neraca perdagangan surplus hingga mencapai USD 41.052,2 juta.

Baca Juga: Fenomena El-Nino, CERAH Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Transisi Energi

Artinya, salah satu indikator fundamental perekonomian Indonesia menunjukkan sentimen positif adalah neraca perdagangan. 

"Surplus neraca perdagangan ini melanjutkan tren positif yang dicapai pada pada era pemerintahan sebelumnya di tahun 2023 sebesar USD 36.420,3 juta dan tahun 2024 sebesar USD 31.329,6 juta," jelasnya. 

Selain itu, Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencatatkan sentimen positif Sepanjang tahun 2025. Artinya pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan baik.

"BPS mencatatkan pertumbuhan ekonomi cumulative (C to C) tahun 2025 mencapai 5,11 persen. Bertumbuh dari tahun 2024 sebesar 5,03 persen dan tahun 2023 5,05 persen," ujarnya. 

Indikator fundamental lainnya yang menunjukkan sentimen positif adalah cadangan devisa. Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) cadangan devisa indonesia pada akhir juni 2026 terjaga pada angka USD 145,6 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir Mei 2026 sebesar USD 144,9 miliar.

"Ketiga indikator fundamental perekonomian ini baik Neraca Perdagangan, PDB, maupun Cadangan Devisa merupakan indikator utama yang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia stabil dan terus bergerak maju," jelasnya.

Dari data di atas, Surya menilai bahwa persoalan yang terjadi tidak pada perekonomian Indonesia, melainkan informasi yang tidak tersampaikan dengan maksimal kepada publik.

"Sehingga yang perlu dilakukan bukanlah menganulir hasil survei SMRC ataupun membuat survei tandingan, melainkan lebih proaktif dalam menyampaikan keberhasilan yang sebenarnya sudah dicapai," tandasnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan