← Beranda
Gejolak Timur Tengah dan Kenaikan Yield Obligasi AS Berpotensi Tekan Rupiah pada 9 Juli 2026
Djati WaluyoKamis, 9 Juli 2026 | 15.52 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakann akan kembali melemah pada perdagangan Kamis (9/7), setelah sebelummya ditutup melemah 34 poin menjadi Rp 18.014 per dollar AS pada perdagangan Rabu (8/7).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen negatif dari luar negeri.

"Untuk perdagangan (9/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.010-Rp 18.060," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Kamis (9/7).

Ibrahim mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengumumkan dimulainya serangkaian serangan terhadap Iran. Langkah tersebut disebut sebagai upaya memberikan "biaya berat" atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial.

ketegangan tersebut terjadi tidak lama setelah Amerika Serikat mencabut konsesi yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak ke pasar internasional.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat pada 9 Juli 2026, Cermati Rekomendasi Saham MNC Sekuritas

“Kebijakan itu diperkirakan akan memperketat pasokan minyak global dalam beberapa pekan ke depan,” ujarnya.

Laporan juga menyebutkan Iran menyerang sejumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada pekan ini. Insiden tersebut semakin meningkatkan ketegangan dengan Amerika Serikat dan menambah ketidakpastian terhadap keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.

Selain sentimen geopolitik, Ibrahim menilai penguatan dolar AS turut didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun tercatat naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen.

Meski demikian, pelaku pasar masih menilai peluang kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed pada pertemuan Juli relatif kecil. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga pada September mendekati 60 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.

Untuk itu, perhatian investor kini tertuju pada risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Juni yang dijadwalkan dirilis pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB.

“Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed, sementara komunikasi di bawah Ketua baru Kevin Warsh juga akan menjadi sorotan pasar,” ucapnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan