← Beranda
Dipengaruhi Geopolitik AS-Iran, Begini Proyeksi Nilai Tukar Rupiah 6 Juli 2026
Djati WaluyoSenin, 6 Juli 2026 | 15.07 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpotensi kembali menguat pada perdagangan Senin (6/7), setelah sebelummya ditutup melemah 34 poin menjadi Rp 17.963 per dollar AS pada perdagangan Jumat (3/7).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (6/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.910-Rp 17.970," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Senin (6/7).

Ibrahim mengatakan pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan optimistis bahwa Iran telah "menyetujui hampir semua yang dibutuhkan", sehingga memunculkan harapan bahwa pembicaraan berjalan ke arah positif.

Baca Juga: Bukan Cuma Infrastruktur, Komdigi Ungkap Talenta Digital Kini Jadi Kunci Kemenangan Indonesia

Namun demikian, Wall Street Journal melaporkan bahwa Teheran menolak proposal Washington yang meminta Iran melepaskan klaim atas Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencairan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan.

Pemerintah AS disebut menawarkan berbagai insentif keuangan, termasuk akses terhadap aset yang dibekukan, guna menjamin kelancaran pelayaran di jalur strategis tersebut. Penolakan Iran membuat risiko geopolitik masih menjadi perhatian pasar.

"Sentimen yang beragam tersebut membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap perkembangan negosiasi AS-Iran, kelancaran pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk, serta prospek pemulihan permintaan energi setelah libur panjang di Amerika Serikat," katanya.

Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat juga memberikan tekanan terhadap ekspektasi kebijakan moneter The Federal Reserve.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 57 ribu lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110 ribu. Sementara itu, data bulan Mei direvisi turun menjadi 129 ribu dari sebelumnya 172 ribu.

Di sisi lain, tingkat pengangguran justru turun tipis menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen. Rata-rata pendapatan per jam naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,5 persen secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar.

"Data Non Farm Payroll yang lebih lemah membantu meredakan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 51 persen dari sebelumnya 63 persen," jelasnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan