← Beranda
Dirut Bank Mandiri Taspen Soroti Potensi Ekonomi Perak, Lansia Bisa Jadi Mesin Perekonomian Baru
Dimas ChoirulSabtu, 4 Juli 2026 | 22.29 WIB
Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan saat media gathering di Bali, Jumat (3/7) malam. (Istimewa)

JawaPos.com - Indonesia sedang berdiri di persimpangan jalan perubahan struktural. Narasi tentang bonus demografi yang selama ini diagung-agungkan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional mulai mendekati titik jenuhnya.

Fenomena baru yang tidak bisa dihindari kini tengah mengetuk pintu peradaban kita: penuaan penduduk (ageing population). Seiring melandainya angka kelahiran total dan meningkatnya usia harapan hidup, potret struktur populasi kita bergeser secara signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), proporsi penduduk lansia (60 tahun ke atas) di Indonesia telah menembus angka 11,97 persen. Sesuai standar demografi global, suatu negara resmi dikategorikan berstruktur tua jika rasionya melampaui ambang batas psikologis 10 persen.

Baca Juga: 4 Zodiak yang Mampu Membuat Anda Lebih Peka, Berani Terbuka Mengenai Kerentanan di Dalam Diri

Tren menua ini dipicu oleh peningkatan Angka Harapan Hidup (UHH) nasional yang kini menyentuh rata-rata 74,15 tahun, berbanding terbalik dengan angka kelahiran total (Total Fertility Rate) yang melandai ke angka 2,13. Pergeseran ini otomatis menaikkan rasio ketergantungan lansia.

Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan mengatakan, jika Indonesia tetap terjebak dalam pola pikir konvensional, fenomena ini akan memicu penyusutan produktivitas akibat menciutnya angkatan kerja muda.

"Kaum senior tidak boleh lagi diposisikan secara pasif sebagai beban ketergantungan ekonomi atau beban fiskal negara. Sebaliknya, momentum transisi ini merupakan fajar baru bagi lahirnya kekuatan ekonomi baru yang dikenal sebagai silver economy atau ekonomi perak," kata Panji kepada wartawan di Bali, Jumat (3/7).

Baca Juga: 4 Zodiak yang Mampu Membuat Anda Lebih Peka, Berani Terbuka Mengenai Kerentanan di Dalam Diri

Menurut Panji, ekonomi perak berkembang bukan lagi sekadar wacana utopis, melainkan ceruk pasar riil yang sangat masif. Pasalnya, kelompok penduduk berusia di atas 50 tahun saat ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari generasi pendahulunya.

"Lansia modern cenderung lebih mandiri, memiliki akumulasi aset finansial yang mapan hasil tabungan masa mudanya, serta adaptif terhadap teknologi," ungkap Panji.

Di sisi lain, kondisi ini memicu ledakan ekosistem bisnis baru di sektor domestik. Di antaranya muncul industri teknologi pendukung kesehatan, layanan pariwisata ramah lansia, produk nutrisi spesifik, hingga inovasi hunian terpadu.

"Dinamika pasar baru ini terbukti membuka keran investasi segar dan menghidupkan sektor UMKM yang jeli menangkap kebutuhan populasi senior. Jumlah mereka diproyeksikan terus merangkak naik menuju estimasi 65,82 juta jiwa pada momentum Indonesia Emas 2045," kata dia.

Di tengah menyempitnya proporsi penduduk usia muda, lanjut Panji, silver economy hadir sebagai penyelamat utama kesejahteraan para pensiunan. Program ekonomi ini mengedepankan konsep penuaan aktif (active ageing), di mana lansia tidak dipaksa berhenti total dari aktivitas sosial-ekonomi hanya karena melewati batas usia pensiun formal yang kaku.

Karena itu, lanjut Panji, kesejahteraan pensiunan diperkuat melalui dua jalur utama. Pertama, jalur produktivitas lanjutan yang membuka ruang bagi lansia sehat untuk bertindak sebagai konsultan, mentor, atau wirausahawan.

Baca Juga: Jaga Daya Beli, Tarif Listrik Juli–September 2026 Dipastikan Tetap

"Partisipasi kerja yang fleksibel ini memberikan mereka pendapatan tambahan yang menjaga ketahanan finansial di atas dana pensiun pokok," jelasnya.

Kedua, jalur kemandirian hidup. Menurutnya, ketersediaan ekosistem ekonomi perak memastikan para lansia mendapatkan akses perawatan, proteksi kesehatan preventif, dan komunitas sosial yang memadai.

Langkah ini dinilai Panji untuk menjaga kualitas hidup mereka sekaligus meminimalkan risiko isolasi sosial di hari tua. "Dengan demikian, lansia bertransformasi dari konsumen jaminan sosial menjadi aktor ekonomi yang berdaya," paparnya.

 

EDITOR: Bintang Pradewo