← Beranda
Di Tengah Tantangan Geopolitik Global, Purbaya Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5,8–6,5% pada 2027
Djati WaluyoRabu, 10 Juni 2026 | 23.33 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2027 berada pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen sebagai trajektori menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.

Adapun target tersebut tercantum dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF). Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan arah kebijakan ekonomi dan fiskal tahun 2027 dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Melalui strategi pro-growth, pro-welfare, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus percepatan perbaikan kesejahteraan. Penguatan strategi tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tahun 2027 pada kisaran 5,8 sampai dengan 6,5 persen dengan trajektori menuju 8 persen pada tahun 2029,” ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (10/6).

Purbaya mengatakan, Pemerintah akan terus melakukan deregulasi dan debottlenecking untuk memperbaiki iklim investasi nasional melalui penyederhanaan perizinan, penguatan kepastian hukum, dan peningkatan koordinasi lintas sektor serta lembaga.

Baca Juga: Pertamax naik Jadi Rp 16.500 per Liter, Begini Penjelasan Pertamina

Selain itu, Pemerintah memastikan juga akan menjaga APBN tetap sehat, kredibel, dan berkelanjutan melalui optimalisasi pendapatan negara, peningkatan kualitas belanja, serta pengelolaan pembiayaan yang prudent guna menjaga stabilitas ekonomi dan mempercepat transformasi ekonomi nasional.

Optimisme terhadap pencapaian target tersebut didukung oleh resiliensi perekonomian nasional pada Triwulan I Tahun 2026.

Di mana, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen (year-on-year), didukung inflasi yang tetap terkendali pada level 3,08 persen, surplus neraca perdagangan yang berlanjut selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026, serta cadangan devisa yang mencapai USD 144,9 miliar atau setara 5,6 bulan impor.

“Di tengah berbagai tantangan global, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan resiliensi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi terjaga pada level tinggi, inflasi terkendali, sektor manufaktur kembali ekspansif, dan berbagai indikator domestik menunjukkan bahwa fondasi ekonomi kita tetap kokoh,” ujarnya.

Memasuki Triwulan II Tahun 2026, aktivitas ekonomi domestik juga menunjukkan tren perbaikan. Optimisme konsumen tetap terjaga, aktivitas belanja masyarakat meningkat, dan sejumlah indikator ekonomi seperti penjualan kendaraan bermotor, konsumsi listrik, konsumsi semen, serta aktivitas manufaktur menunjukkan perkembangan yang positif.

Purbaya melanjutkan, di tengah dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar keuangan, Pemerintah terus menjaga kebijakan fiskal agar responsif dan antisipatif.

Baca Juga: Bedah Spesifikasi Poco F8 Ultra: Snapdragon 8 Elite Gen 5 hingga Baterai 6.500 mAh

Berbagai langkah strategis ditempuh antara lain menjaga stabilitas harga pangan dan energi, memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, menjaga disiplin fiskal, meningkatkan kualitas belanja negara, mengoptimalkan penerimaan negara, serta memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter.

“APBN tidak hanya berfungsi sebagai shock absorber untuk menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan yang mampu melindungi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkualitas,” tutupnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan