← Beranda
Jeritan Hati Korban Karhutla, Dikepung Asap dan Masuk IGD Sekeluarga, Tidur pun Harus Pakai Masker
Kuswandi• Selasa, 13 Oktober 2026 | 22.44 WIB
Kejadian kebakaran hutan dan lahan di kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. (BPBD Sumsel)

 

 

JawaPos.com – Ugh…Ugh…Ughh…! suara batuk Reka Agni Maharani, 38, di ujung telepon tak berhenti-henti saat mengawali perbincangan dengan JawaPos.com Senin (12/10) malam. Usai mengambil nafas pelan-pelan, akhirnya perempuan yang karib disapa Reka ini, bisa lancar berkomunikasi ketika diajak berbincang.

“Sudah dari Kamis (1/10) pekan lalu kami sekeluarga batuk-batuk dan demam tinggi sampai masuk Instalansi Gawat Darurat (IGD) semua,” ungkap Reka menceritakan kondisi dirinya dan keluarganya akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Awal Oktober lalu Reka begitu gelisah. Musababnya, akibat indeks kualitas udara diambang batas maksimal alias berbahaya, Aika,6, anak keduanya mengalami batuk-batuk dan demam tinggi. Khawatir terjadi apa-apa, Jumat (2/10) malam, Reka bersama Syam ,49, suaminya pun secepat kilat membawa Aika ke RS RK Charitas, sebuah rumah sakit swasta di Kota Palembang.

Namun nahas, usai menunggu cukup lama, anaknya tak kebagian bed (ranjang) untuk masuk ke IGD karena kondisinya penuh. Tak mau menyia-nyiakan waktu, Reka dan suaminya pun langsung bergegas meningggalkan rumah sakit swasta tersebut dan pindah ke RS Bunda. 

Beruntung, di rumah sakit tersebut, akhirnya anaknya bisa masuk ke ruang IGD. Selanjutnya usai masuk IGD dan diobservasi selama kurang lebih empat jam, Aika bisa diperbolehkan pulang.

Reka sedikit lega usai anak keduanya bisa menjalani rawat jalan. Namun, keesok harinya, kepanikan kembali melanda dirinya. Ini karena Nobu,8, anak pertamanya bergantian batuk-batuk dan demam tinggi. Tak berpikir panjang, untuk menyelamatkakn nyawa anaknya, Reka dan Syam pun kembali membawa anaknya ke RS RK Charitas. Usai berhasil masuk IGD dan diobservasi, Nobu pun bisa dipulangkan.

Ancaman dampak Karhutla ternyata belum usai. Ini karena usai kedua anaknya masuk rumah sakit, giliran Eka,75, ibu kandungnya dan Reka sendiri bergantian juga masuk rumah sakit yang sama dengan Nobu.

“Saya mengalami batuk kering, demam tinggi, badan lemas. Kata dokter ada ISPA sama Influenza Tipe A,”  terangnya menjelaskan diagnosa dari dokter yang memeriksanya.

Selain itu, perempuan asal Pamulang, Tangerang Selatan ini juga kembali mengalami Anxiety Disorder (kecemasan berlebihan). Ini karena melihat kondisi situasi kualitas udara yang pekat berhari-hari tanpa ada perubahan, serta tak jelas ujung penanganannya. 

“Bahkan sampai tidur aja harus pakai masker karena udah gak bisa nafas sampai bolak balik terbangun,” ungkapnya kelu.

Lebih lanjut, sarjana jebolan FISIP Universitas Indonesia tersebut juga mengalami kerugian finansial. Hal ini karena berbagai kegiatan pelatihan pembuatan parfum yang biasanya dia lakukan batal digelar karena dirinya terkulai sakit dan kondisi udara yang tak memungkinkan untuk beraktivitas di luar ruangan. 

Segendang sepenarian. Apa yang dirasakan Reka juga dialami keluarga Virdya Elsya yang tinggal di Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.  

Kepada JawaPos.com, Virda mengaku jika dirinya, suami, Devri,36, dan anaknya, Belisa,(3,7) sudah merasakan sakit dari pekan lalu akibat dampak asap Karhutla di wilayah Riau dan provinsi sekitar. 

“Anak sejak Kamis (8/10) pekan lalu sakit batuk, demam, dan tenggorokan,” ujarnya dengan batuk-batuk.

Saat ini, kondisi kualitas udara di wilayah Pekanbaru naik turun. Menurut Virda, jika kondisi kualtas udara sedikit membaik, maka proses belajar mengajar bagi siswa Paud-SMP akan dilakukan secara offline. Namun jika indek kualitas udara memburuk, maka proses Pendidikan akan dilakukan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) alias daring seperti pada Kamis (8/10)-Sabtu (10/10).

“Kalau sehari enggak turun hujan langsung pekat sekali udara,” ungkap pengacara muda ini.

Belum Merdeka dari Asap

Reka bercerita, sebenarnya kawasan hutan dan lahan di wilayah di Provinsi Sumatera Selatan, khususnya di dekat Kota Palembang, lebih dahulu terdampak kebakaran.

“Awal mula juli Karhutla sebenarnya tanggal 20 an. Cuma orang-orang Palembang dan sekitar masih menganggap masih aman.

Padahal, hampir saban tahun, wilayah tempat Reka tinggal tak pernah lepas dari cengkeraman asap Karhutla. 

“Tiap tahun belum merdeka dari asap. Kalau musim pancaroba pasti ada saja yang bakar lahan,” ujar perempuan yang tinggal di wilayah Sukarami, Kota Palembang.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Bukannya padam, asap Karhutla di wilayah Sumsel justru semakin menggila.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu menurut Reka, asap masih jauh dari Kota Palembang, yakni masih di sekitar wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Ogan Komering Ikir, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu. Namun, sekira Oktober sudah merambah ke radius tak jauh dari Kota Palembang, hingga ke dekat rumahnya. 

“Akhir Agustusan kondisi kualitas udara di level 200-280 (sangat tidak sehat) belum tahap berbahaya. Namun mulai awal oktober titik Indek kualtas udara di Palembang dan sekitarnya  masuk tahap bahaya,” jelas Reka.  

Atas kondisi ini, ratusan mahasiswa di Kota Palembang pun melakukan aksi demostrasi menuntut pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melakukan tindakan yang cepat untuk mengatasi kasus Karhutla. 

“Udara pekat sekali. Keluar buka pintu udah asap,” imbuh Reka.

 

Para prajurit TNI memadamkan api di lokasi karhutla. Belasan ribu personel dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di berbagai daerah Indonesia. (TNI)
Para prajurit TNI memadamkan api di lokasi karhutla. Belasan ribu personel dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di berbagai daerah Indonesia. (TNI)

Jangan Anak Tirikan Sumatera

Beberapa waktu lalu, WALHI Sumsel mengumumkan, ada sebanyak 22.690 titik api (hotspot) di wilayah konsesi 81 perusahaan, selama 1 September-2 Oktober. Namun kendati banyak sekali titik hotspot dan dampaknya, kasus Karhutla di Sumsel menurut Reka, seperti tak terdengar gaungnya di kancah nasional.

“Sumatera seperti dianak tirikan pemerintah pusat,” ucapnya heran. 

Lebih lanjut, Reka mengatakan, yang membuat dirinya sangat marah yakni, pola kepemimpinan Gubernur Sumsel Herman Deru yang dinilai kurang cepat tanggap dalam menangani kasus Karhutla. Padahal sudah ada dana bantuaan presiden sebesar Rp 100 miliar yang bisa digunakan untuk penanggulangan Karhutla.

“Ketika dana sudah dikucurin, katanya dana ini tidak perlu dipakai terburu-buru karena Karhutla belum tahap daurat. Dia seperti nggak lihat Indek kualitas udara sudah hazard (berbahaya),” ucapanya berapi-api.

Baca Juga: Titik Panas Karhutla Melonjak 2 Kali Lipat, Menhut Instruksikan 4 Operasi Penanganan 

“Dia malah memilih Warga Palembang berdoa minta hujan, padahal ada dana yang bisa dipakai untuk menanggulangi Karhutla loh,” imbuhnya. 

Terpisah, terkait penanganan kasus Karhutla, Herman Daru melalui jajaranya mengklaim telah puluhan kali melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca untuk membantu turunnya air hujan di titik-tik hotspot. Selain itu, pihaknya mengaku telah melakukan pemadaman lewa jalur udara dengan  mengerahkan helikopter pengebom air (water bombing).

EDITOR: Kuswandi