JawaPos.com - Sadar atau tidak, setiap manusia punya dorongan untuk melihat sesuatu yang seharusnya tidak mereka lihat.
Kehancuran, penyiksaan, penghakiman massal, kejatuhan orang lain dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya.
Sisi gelap inilah yang mengambil alih pikiran dan tindakan manusia untuk memperlambat kendaraan ketika melihat kecelakaan, mencari video tragedi, memviralkan konten penganiayaan, sampai menghabiskan hari hanya untuk menonton keterpurukan orang lain lewat layar gawai.
Dalam ranah psikologi, keinginan seperti ini biasa disebut sebagai morbid curiousity. Dua psikolog yang mempopulerkan istilah ini, yakni Marvin Zuckerman dan Lawrence Litle, mendefinisikannya sebagai rasa penasaran yang memicu seseorang untuk mencari tahu dan mengamati kemalangan individu lainnya.
Namun, di derajat tertentu, rasa penasaran ini berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih mengerikan: voyeurisme terhadap penderitaan.
Di dunia animasi Jepang, tidak banyak karya yang cukup brutal untuk memperlihatkan sisi menjijikkan manusia selain Midori.
Film arahan Hiroshi Harada yang diadaptasi dari manga berjudul Shojo Tsubaki karya Suehiro Maruo ini tidak hanya memperlihatkan kesadisan biasa.
Apa yang ditampilkan dalam film animasi ini begitu bejat dan sangat sulit digambarkan lewat kata-kata.
Dunia sinema bahkan melabeli Midori sebagai anime terlarang karena dicekal hampir di semua negara. Bahkan, untuk standar anime underground Jepang, Midori dianggap terlalu disturbing untuk disaksikan.
Namun di balik seluruh reputasi buruknya, Midori menyiratkan sebuah realita yang jauh lebih mengusik jiwa: manusia ternyata senang menjadi penonton pasif atas penderitaan orang lain.
Film ini membongkar sisi paling nista dari manusia yang memandang segala bentuk kekejaman sebagai hiburan.
Baca Juga: 'Black Lagoon' dan Potret Budaya Korporat yang Tidak Lebih Mulia dari Penjahat
Parade Neraka Tanpa Harapan
Midori mengisahkan seorang gadis kecil bernama Midori yang menjalani hidup layaknya di neraka.
Seorang bocah penjual bunga yang miskin, cerita hidup Midori mulai memburuk setelah ia menemukan ibunya, yang sedang sakit keras, meninggal dunia dengan kondisi yang mengenaskan. Jenazahnya sudah membusuk dimakan tikus.
Kematian sang ibu membuat Midori kehilangan segala-galanya. Ia tidak punya keluarga, tidak punya uang, tidak punya makanan, tidak punya tempat lagi untuk pulang.
Penderitaan panjang Midori yang sesungguhnya dalam film ini berawal ketika ia dipungut oleh sebuah sirkus keliling.
Bukannya menjadi rumah baru, sirkus keliling ini justru jadi penjara berjalan baginya.
Midori diperlakukan lebih buruk dari hewan. Segala bentuk kekerasan fisik dan mental menghujaninya bertubi-tubi tanpa ampun.
Ia dipukul, dipermalukan, dihina, dieksploitasi, dimanipulasi, bahkan dilecehkan secara seksual.
Midori sempat menghadirkan sosok Masamitsu, seorang pesulap misterius yang awalnya digambarkan sebagai oasis di tengah padang pasir hidup Midori. Toh, pada akhirnya sosok tersebut malah membuat Midori semakin hancur.
Inilah yang membuat Midori berbeda dari banyak film disturbing lain. Anime ini sama sekali tidak memberi penontonnya ruang untuk berharap.
Jika kebanyakan kisah tragedi masih menyuguhkan penonton pelajaran dan penebusan, Midori tidak. Seluruh karakter yang ada di dalamnya egois, sadis dan manipulatif.
Bahkan sampai akhir kisah, Midori pun tidak kunjung mendapatkan kedamaian yang ia inginkan. Mentalnya hancur total. Dunia dalam sudut pandangnya berubah menjadi alam surealis yang absurd nan menakutkan.
Midori memandang dunianya yang hancur itu sembari tertawa histeris dalam guncangan psikosis manik.
Tidak ada happy ending. Tidak ada juru selamat. Tidak ada kemenangan moral. Tidak ada tragedi puitis. Tidak ada katarsis.
Midori betul-betul memperlihatkan wujud dunia yang rusak dan sudah kehilangan makna.
Objek Voyeurisme
Filsuf Georges Bataille pernah menulis bahwa manusia memiliki ketertarikan aneh terhadap kematian, erotisme, kekerasan dan hal-hal tabu lainnya.
Bukan karena manusia adalah makhluk yang jahat, tetapi karena menyaksikan hal-hal itu membuat manusia justru terasa lebih hidup.
Midori berhasil memainkan rasa penasaran itu dengan ganas. Film ini membuat penontonnya terguncang, jijik, trauma tapi di saat yang sama tetap penasaran.
Di sini lah Midori bukan lagi sekadar tontonan biasa, tapi bertransformasi menjadi objek voyeurisme.
Yang paling meresahkan, Midori juga membuat penonton di dunia nyata tidak hanya menaruh iba dan simpati pada Midori, tapi juga diam-diam menikmati horor dan siksaan demi siksaan yang ia alami.
Baca Juga: Mazmur Pembantaian dalam Liturgi Darah: 'Hellsing' dan Fetish Manusia dalam Menikmati Kekerasan
Tragedi Adalah Konsumsi
Teoritikus media Guy Debord menggambarkan masyarakat modern sebagai society of the spectacle, yakni dunia di mana tragedi, luka, dan kehancuran perlahan berubah menjadi tontonan massal untuk dikonsumsi.
Gagasan ini sebetulnya sudah menjadi kenyataan, apalagi di era digital sekarang.
Perang dipertontonkan lewat layar ponsel, tragedi dibagikan sebagai konten, video kecelakaan diviralkan, media sosial membuat manusia dapat menyaksikan penderitaan orang lain secara instan, berulang, bahkan tanpa benar-benar mengenal korbannya.
Midori adalah bentuk ekstrem dari seluruh hal di atas, di mana tragedi adalah konsumsi, trauma adalah hiburan, dan empati manusia yang hilang karena orang sudah terbiasa menyaksikan penderitaan di layar.
Dari sudut pandang lain, psikoanalis Julia Kristeva memiliki konsep abjection. Ini adalah kondisi ketika manusia merasa ijik, terganggu dan takut akan sesuatu, namun di saat yang bersamaan tidak kuasa untuk berhenti melihatnya.
Midori, lagi-lagi, bekerja persis seperti itu untuk para penontonnya. Film ini menimbulkan rasa mual dan ketidaknyamanan maksimal, bahkan di titik tertentu merasa sangat bersalah menontonnya.
Tapi, di momen yang sama, mereka juga menontonnya sampai habis. Layaknya menatap luka terbuka dan menikmati darah yang terus mengucur.
Baca Juga: Kala Manusia Menolak Langit: Filosofi 'Membunuh Tuhan' dalam JRPG
Jebakan Psikologis
Midori bukan sekadar film tentang penderitaan seorang gadis kecil. Film ini adalah sebuah jebakan psikologis untuk para penontonnya.
Midori memancing rasa penasaran penonton dengan reputasinya sebagai anime terlarang, film paling sadis dan karya yang terlalu eksplisit untuk disaksikan.
Semakin lama film berjalan, Midori perlahan mengungkap sebuah plot twist yang menembus realita: Film ini seakan menatap balik penontonnya sendiri yang sedang bergidik ngeri dan seolah bertanya, "Sebenarnya... Apa yang mau kamu lihat di sini?"
Sisi paling mengganggu dari Midori bukan pada adegan brutalnya. Bukan pada kekerasannya, bahkan bukan pula pada dunia sirkus grotesque yang dipenuhi manusia-manusia rusak dan freak show lainnya.
Melainkan, pada momen ketika penonton mulai sadar bahwa mereka tidak hanya sedang menyaksikan penderitaan manusia yang sangat tidak manusiawi. Mereka juga diam-diam menikmatinya.
Midori berhasil memaksa para penonton berhadapan dengan sisi paling gelap dalam diri mereka sendiri. Sisi yang, rupanya, penasaran terhadap rasa sakit, keputusasaan dan segala bentuk tragedi kemanusiaan yang terpampang di layar, bukan di kehidupan mereka sendiri.
Dan ketika film ini selesai, pertanyaan yang sangat mengganggu itu masih tertinggal dan, mungkin, membekas selama-lamanya di sudut terdalam kepala.
Kalau semua ini terasa begitu menjijikkan, kenapa kamu tetap menontonnya? Apakah untuk merasa iba? Atau justru untuk menikmati rasa tidak nyaman yang ada?