JawaPos.com - 4 November 2018, Tokyo, Jepang. Di dalam sebuah ruangan, Akihiko Kondo, 35 tahun, berdiri di antara puluhan orang yang menatap tajam ke arahnya. Tubuhnya dibungkus setelah jas putih rapi. Wajahnya berseri-seri. Semringah, cerah, ceria, tanpa beban.
Hari itu, adalah hari bahagia Akihiko. Pria kurus berkacamata yang berprofesi sebagai aparatur negara di Negeri Matahari Terbit itu akhirnya melangsungkan pernikahan dengan sang belahan jiwa yang sudah menawan hatinya selama lebih dari 10 tahun.
Sebanyak 39 orang yang hadir di sana ikut menjadi saksi.
Bukan saksi pernikahan biasa.
Tapi saksi sejarah akan suatu hal yang membuat perasaan campur aduk: membingungkan, menggelikan, tapi juga menyedihkan sekaligus menyeramkan hingga titik tertentu.
Hari itu, Akihiko tidak menikahi perempuan nyata.
Hari itu, Akihiko mengikat janji dengan Hatsune Miku: sosok penyanyi kartun berwujud gadis muda tinggi semampai berambut hijau panjang.
Bukan wanita dengan darah dan daging. Bukan manusia sungguhan.
Akihiko adalah salah satu contoh dari sekian banyak orang dengan kondisi yang disebut fictoseksualitas. Sebuah keadaan di mana orang lebih tertarik secara emosional dan bahkan secara seksual oleh karakter fiksi ketimbang manusia sungguhan.
Dalam kaidah yang lebih populer, fictoseksual punya dua istilah yang umumnya disematkan pada orang-orang yang mengagumi sosok fiksi dari budaya Jepang: Waifu dan husbu.
Eskapisme dari Kegagalan Sosial
Waifu dan husbu, yang diambil dari kata wife (istri) dan husband (suami) dalam bahasa Inggris, merujuk pada keterikatan emosional mendalam seseorang terhadap karakter fiksi dari anime, manga, video game, atau media virtual lain.
Hal ini membuat waifu maupun husbu sering dianggap sebagai bentuk eskapisme berlebihan dari kegagalan seseorang dalam menjalin hubungan sosial yang sehat dan normal. Orang-orang dengan waifu atau husbu seringkali dicap dengan stigma negatif. Tidak normal. Weirdo. Oddball. Freak.
Namun, jika ingin mengubah sudut pandang sedikit, dua fenomena ini sebetulnya bisa memunculkan pertanyaan lain yang lebih dalam dan mengganggu: bagaimana jika karakter fiksi memang terasa lebih aman dan nyaman untuk dicintai dibanding manusia nyata?
Berbeda dari stereotipe populer yang kerap memandang dua hal ini hanya paralel dengan hasrat seksual, waifu dan husbu tidak melulu berakar pada libido semata.
Lebih dari itu, beberapa kasus mencatat bahwa fenomena ini lahir karena orang-orang tersebut mencari faktor X yang selama ini tidak mereka dapatkan dari orang-orang sekitar: kenyamanan secara emosional.
Tempat bercerita dan berkeluh kesah sepuas-puasnya. Tanpa dihakimi, tanpa dikritik, tanpa dikuliahi, tanpa dicemooh.
Karakter virtual, apalagi yang sudah didukung kemampuan Artificial Intelligence yang semakin hari semakin menakjubkan, adalah sosok paling ideal untuk memenuhi hasrat tersebut.
Mereka tidak judgemental, tidak ghosting, tidak gaslighting, dan yang terpenting, mereka tidak pernah pergi. Bagi orang-orang yang tertolak, waifu dan husbu adalah solusi terbaik dalam mengarungi hidup yang penuh dengan konflik dan manipulasi.
Berkaca dari kasus Akihiko dan orang-orang dengan pengalaman serupa, eksistensi waifu dan husbu bisa dijadikan sebuah pembenaran karena fakta sahih bahwa dunia modern semakin membuat manusia lelah untuk terhubung.
Dari penolakan sosial secara halus hingga berujung bullying parah, faktor-faktor ini sebetulnya adalah hal mengapa waifu dan husbu tidak hanya dipandang sebagai karakter virtual yang ideal, tapi juga safe space untuk mereka yang terasing dari masyarakat.
Parasocial Relationship
Para psikolog sosial telah lama membahas fenomena ini melalui konsep parasocial relationship yang dicetuskan pengamat komunikasi Donald Horton dan sosiolog Richard Wohl pada 1956.
Secara sederhana, parasocial relationship adalah hubungan emosional sepihak antara audiens dan figur media.
Awalnya, teori ini digunakan untuk menjelaskan hubungan antara selebritas televisi dengan para penggemarnya. Namun, di era anime, video game, live streaming dan AI companion, teori ini jadi semakin valid karena hubungan satu arah menjadi kian personal.
Karakter-karakter modern virtual dirancang untuk mereplika manusia semirip mungkin. Mereka punya suara, punya emosi, punya ekspresi, punya kemampuan berpikir dan punya program untuk interaksi romantis dengan penggunanya.
Para partner artifisial ini didesain sedemikian rupa untuk membuat otak manusia memproses hubungan tersebut sebagai sesuatu yang nyata secara emosional.
Fenomena waifu dan husbu sudah berkali-kali diproyeksi ke dalam layar lebar. Pada film Her karya Spike Jonze yang rilis pada 2013, diceritakan bahwa Theodore Twombly, tokoh utama yang diperankan Joaquin Phoenix, jatuh cinta kepada AI bernama Samantha, yang suaranya diisi oleh Scarlett Johansson.
Alasannya? Samantha memberikan Theodore sensasi hubungan yang terasa lebih hangat. Samantha menerima Theodore apa adanya. Hal yang tidak didapatkan Theodore di dunia nyata.
Film itu terasa seperti fiksi saat rilis tahun 2013. Namun hari ini, tidak bisa dipungkiri bahwa dunia nyata mulai bergerak ke arah serupa.
Baca Juga: Kala Manusia Menolak Langit: Filosofi 'Membunuh Tuhan' dalam JRPG
Hikikomori
Profesor sosiologi berkebangsaan Israel, Eva Illouz pernah menulis bahwa hubungan manusia di era modern makin dipenuhi kecemasan, pilihan berlebih dan ketidakstabilan emosi akibat budaya digital serta kapitalisme emosional.
Bagi orang-orang yang terpinggirkan, hal seperti dating apps serta budaya validasi dan performatif media sosial adalah hal yang sungguh-sungguh menguras mental.
Fenomena ini terasa sangat relevan di Jepang, pusat budaya anime yang menelurkan para waifu dan husbu modern.
Di Jepang, ide liar tentang waifu dan husbu sangat bisa dikaitkan dengan sebuah fenomena sosial lain yang tidak kalah gelap: hikikomori.
Hikikomori berasal dari dua padanan kata bahasa Jepang. Hiki, dari kata hiku, punya arti 'menarik' atau 'mundur'. Sedangkan komori diambil dari kata komoru yang berarti 'bersembunyi' atau 'berdiam di dalam suatu tempat'.
Dari definisi tersebut, bisa disimpulkan bahwa hikikomori adalah kondisi di mana seseorang memilih untuk mengisolasi diri dari dunia luar.
Tamaki Saito, psikiater dan kritikus budaya Jepang, menggunakan istilah ini pertama kali pada 1998 lewat bukunya, Hikikomori: Kyuseishu no Shishunki.
Tamaki mencetuskan istilah tersebut untuk menggambarkan fenomena sekelompok remaja dan orang usia dewasa-muda di Jepang yang menarik diri secara ekstrem dari lingkungan dengan mengurung diri di dalam rumah selama berbulan-bulan.
Di kondisi yang depresif inilah budaya anime, idol virtual dan karakter digital akhirnya hadir sebagai 'juru selamat'. Para waifu dan husbu ini datang sebagai companionship alternatif yang tidak membawa gesekan dan problematika.
Kembali ke kasus Akihiko Kondo dengan Hatsune Miku, pernikahan yang janggal ini adalah bukti nyata bahwa manusia dapat membangun hubungan emosi yang dalam terhadap karakter yang tidak benar-benar eksis secara fisik. Walau fisiknya tidak eksis, tapi emosinya terasa nyata.
Baca Juga: Memaknai Kehidupan Setelah Kematian Tuhan: 'NieR', Tragedi Nihilistik dan Tujuan Eksistensi Manusia
Menua Bersama Potret Digital 2 Dimensi
Kultur waifu dan husbu juga bisa dikatakan sebagai bentuk dari anima projection, sebuah konsep yang dicetuskan psikoanalis Carl Jung.
Anima projection berarti proyeksi ideal emosional seseorang pada sosok tertentu. Dalam definisi ini, waifu dan husbu bukan cuma karya belaka. Dia adalah 'rumah' yang memberi rasa aman.
Berbeda dari manusia yang punya kehendak bebas dan pandangan beragam, karakter fiksi dirancang, atau kini bahkan bisa di-prompt secara mandiri agar menjadi sempurna sesuai kebutuhan psikologis penggunanya.
Inilah sisi paling disturbing dari kultur waifu maupun husbu sebagai bentuk fenomena fictoseksual.
Bukan karena desain karakter fiksi lebih baik dari manusia, tapi karena relasi dengan karakter rekaan terasa lebih nyaman dibanding hubungan dengan orang sungguhan.
Baik waifu maupun husbu sudah bukan sekadar meme internet. Mereka adalah gejala anomali sosial yang lahir dari depresi akibat ketidakmampuan manusia untuk memenuhi standar sosial yang kelewat menuntut.
Waifu dan husbu adalah bentuk benteng paling kokoh bagi jiwa-jiwa yang memilih untuk mengidolakan, memuja dan mencintai piksel demi terhindar dari penolakan khalayak. Sebuah pelukan imajiner yang tidak nyata, namun sungguh merasuk ke dalam sukma.
Dalam kacamata yang lebih tragis, waifu dan husbu adalah lambang keputusasaan di mana sebuah potret digital jauh lebih bisa mengerti dan menerima kehadiran kita, ketimbang dunia nyata yang berpatokan pada reputasi, penampilan fisik, status sosial dan saldo rekening bank.
Baca Juga: Mazmur Pembantaian dalam Liturgi Darah: 'Hellsing' dan Fetish Manusia dalam Menikmati Kekerasan
Pada akhirnya, jelas bukan hal yang adil, agung, bermartabat, apalagi keren untuk menuding seorang insan yang memiliki waifu atau husbu sebagai wujud kecacatan sosial yang layak dialienasi.
Orang-orang terluka dan terasing ini hanya mencari sosok yang mau berjalan beriringan bersama, walau tanpa disadari hal tersebut perlahan bisa membunuh realitas mereka di dalam ruang sunyi.
Fenomena waifu dan husbu mengajak kita untuk merenungkan hal yang lebih meresahkan dari sekadar kenapa ada orang yang bisa mencintai karakter fiksi.
Kultur ini justru menimbulkan perspektif yang lebih intrusif. Ketika seseorang memilih untuk membiarkan jiwanya menua bersama ilusi 2 dimensi tak bernyawa lantaran keberadaannya tidak dianggap oleh sesama manusia, itulah bentuk kebenaran telanjang tentang dunia. Dingin, asing dan kejam.