JawaPos.com - Video game, apapun platformnya, biasanya memberikan misi dan tujuan default yang nyaris sama kepada para pemainnya: menyelamatkan dunia dan membasmi kejahatan. Namun, ada satu franchise game yang justru mengajak pemainnya tidak hanya bermain, tapi juga berpikir kritis tentang makna kehidupan: NieR.
Alih-alih menawarkan kisah heroisme klasik, seri karya Yoko Taro yang secara garis besar sudah hadir dalam 3 judul ini perlahan memaksa pemain menghadapi 1 pertanyaan yang reflektif, sunyi, namun sangat mengganggu:
"Bagaimana manusia hidup setelah Tuhan tidak lagi ada?"
Pertanyaan sederhana, namun sangat disturbing secara psikologis.
Bagi yang sudah memainkan setidaknya dua judul game ini, yakni NieR (yang memiliki dua versi alternatif berjudul NieR Gestalt dan NieR Replicant) serta NieR: Automata, tidak bisa dipungkiri bahwa pertanyaan di atas terus menerus menghantui alam bawah sadar para player-nya.
Dalam NieR: Automata, dikisahkan bahwa para android diberi perintah oleh manusia untuk terus berperang melawan bangsa mesin yang menginvasi bumi. Para protagonis utama di dalamnya, yakni Android 2B, 9S dan A2 harus susah payah menjalankan misi berbahaya, bahkan mengorbankan diri hanya untuk menemukan sebuah fakta mencengangkan yang sungguh-sungguh di luar nalar: Manusia, selaku entitas yang menciptakan para android, sebenarnya sudah lama punah.
Fakta ini pun akhirnya membuka pola pikir baru: Jika manusia yang merupakan 'Tuhan' dari para android sudah mati, lalu apa tujuan eksistensi para android tersebut?
Dunia tetap berputar. Perang terus berlanjut. Namun, dasar untuk mereka melakukan semua ini sebetulnya sudah tidak ada lagi.
Tidak penting lagi. Tidak relevan lagi.
God is Dead
Apa yang terjadi dalam NieR: Automata sangat bersangkutan dengan paham nihilisme modern. Filsuf Friedrich Nietzsche pernah mengeluarkan sebuah quote kontroversial yang sangat erat relasinya dengan apa yang terjadi di dunia NieR: “God is dead.”
Tuhan sudah mati.
Kalimat ini memang sering disalahpahami sebagai serangan terhadap agama. Padahal, dari sudut pandang lain, para akademisi dan peneliti melihatnya sebagai simbol kehancuran sumber makna absolut dalam eksistensi manusia.
Lewat quote tersebut, Nietzsche diyakini ingin menyampaikan bahwa saat manusia tidak lagi memiliki pusat spiritual atau moral yang pasti, mereka akan dipaksa menghadapi kekosongan yang menakutkan. Bisa jadi, hidup sejatinya memang tak punya tujuan bawaan.
Semesta NieR dibangun tepat di atas kehampaan tanpa tujuan itu.
Yang ironis, hal berbeda justru ditunjukkan oleh para bangsa mesin yang dikisahkan dikirim ke bumi oleh alien. Punya konsep setali tiga uang dengan android untuk berperang dan menghabisi musuh, para mesin yang merupakan robot tanpa emosi ini justru mulai berkelakuan layaknya manusia yang sudah punah.
Mereka berkeluarga, mencari cinta, menciptakan agama, bahkan memahami konsep takut mati dan bunuh diri.
Jika para android masih terus berkutat untuk membasmi para robot dari bumi sesuai dengan misi yang diberikan manusia, justru para mesin ini yang pada akhirnya mulai menciptakan makna kehidupan di tengah ketiadaan 'Tuhan'.
Fenomena ini terasa sangat dekat dengan pemikiran filsuf Prancis, Albert Camus yang percaya bahwa manusia hidup di dunia yang absurd dan tidak pernah memberikan jawaban pasti atas penderitaan, kematian, atau tujuan hidup.
Walau demikian, alih-alih menyerah pada kehampaan, manusia bisa memilih tetap terus hidup untuk mencari arti eksistensi mereka. "Perjuangan menuju tempat yang lebih tinggi sudah cukup untuk mengisi hati manusia," demikian kata Camus.
Kalimat Camus ini menjadi fondasi emosional seluruh seri NieR. Karakter-karakternya terus bergerak, bertarung dan membunuh meski mereka tidak benar-benar memahami alasannya. Beberapa dari mereka bahkan rela mati berkali-kali demi dunia yang tidak peduli dengan keberadaan mereka.
Tragedi Nihilistik
Tema nihilistik dari ketiadaan Tuhan tadi kian jadi premis yang menyayat dalam cerita NieR, game pertama dalam franchise ini.
Sepanjang permainan, protagonis tanpa nama yang jadi lakon utama NieR percaya dirinya adalah pahlawan yang berjuang menyembuhkan dunia. Namun, perlahan terungkap bahwa perspektifnya tidak pernah benar-benar utuh.
Di akhir petualangan, terungkap dengan pahit dan tragis bahwa sejumlah villain dan hero dalam NieR ternyata sama-sama berusaha melindungi sesuatu yang mereka cintai.
Tidak ada kebenaran absolut. Tidak ada kesalahan mutlak. Tidak ada kemenangan yang benar-benar bersih.
Tak cuma itu, fakta menyedihkan lainnya juga terkuak bahwa para protagonis di game ini tidak lebih dari sekadar replika dengan jiwa manusia di dalamnya, sedangkan para antagonisnya adalah jiwa manusia yang kehilangan tubuh mereka.
Protagonis meyakini bahwa yang ia lakukan adalah membasmi iblis dan monster. Padahal, yang ia lakukan adalah pembantaian massal yang keji terhadap umat manusia.
Di sinilah konsep nihilistik dalam NieR begitu kental. Dunia di dalamnya sama sekali tidak menjanjikan keadilan kosmik, keselamatan ilahi, atau jawaban besar di akhir perjalanan.
Sebaliknya, NieR terus menyajikan pertanyaan demi pertanyaan yang mengarah pada keputusasaan tak berujung. Kematian sering terasa sia-sia. Pengorbanan tak selalu punya arti. Yang lebih menyedihkan, banyak karakter terus menjalani hidup meski tidak lagi tahu mengapa mereka harus melakukannya.
Psikolog Carl Jung pernah mengatakan, “Manusia modern tidak menderita karena kegelapan, tetapi karena kehilangan makna.”.
Kutipan ini sangat bisa menggambarkan kondisi ringkas dunia NieR. Banyak karakter dalam game tersebut bukan cuma takut mati, melainkan takut bahwa hidup mereka tidak punya arti.
Hal ini juga yang, mungkin, jadi alasan kuat mengapa NieR terasa begitu relevan dengan kehidupan nyata. Ketika seorang individu mengalami pengasingan sosial, burnout untuk hal yang tak setimpal, hingga krisis identitas sampai harus menjelma jadi figur lain di dunia digital, pertanyaan tentang tujuan hidup pun nyaris tidak terelakkan.
Baik NieR maupun NieR: Automata mungkin bisa dibilang miniatur sisi gelap kehidupan modern yang terus bergerak, terus bekerja, terus mengulang rutinitas, namun sesungguhnya mempertanyakan apakah semua hal tersebut benar-benar memiliki arti.
Memaknai Eksistensi Diri Sendiri
Untungnya, franchise ini masih memberikan angin segar yang membuat player bisa bernapas lega. Yoko Taro, sang kreator, tidak sepenuhnya mengenyahkan harapan dari dunia dengan pesimisme yang begitu dominan.
Di balik seluruh absurditas dan kehampaannya, NieR masih menyuntikkan ide berpikir yang produktif: manusia bisa menentukan makna hidup mereka sendiri.
NieR mengajarkan bahwa makna kehidupan mungkin tidak cuma hanya datang dari pewahyuan Tuhan, sistem yang penuh keteraturan, atau tujuan besar alam semesta lainnya.
Sebaliknya, purpose of life bisa lahir dari hal-hal simpel. Memilih untuk tetap peduli pada orang lain di tengah lingkungan yang jahat, atau melakukan perbuatan-perbuatan baik dengan alasan sesederhana ingin berguna bagi sesama pun sudah cukup memberi manusia tujuan hidup, walaupun semesta tidak pernah meminta kita melakukan hal itu.
Dalam dunia yang direngkuh kehampaan dan ketidaknyamanan, NieR juga menyiratkan pesan bahwa momen-momen kecil tentang empati, pengorbanan tanpa syarat, dan koneksi manusia yang dinamis bisa jadi hal yang begitu menyejukkan, menyakitkan, sekaligus indah.
Pada akhirnya, NieR bukan sekadar kisah tentang android, tragedi kemanusiaan, perang tak berkesudahan, atau akhir dunia.
NieR adalah sebuah kontemplasi. Sebuah meditasi mendalam tentang kekosongan, kenihilan serta kevakuman yang diikuti sebuah pertanyaan mengerikan: Andai Tuhan tidak ada dan dunia kehilangan makna, apakah manusia masih punya alasan untuk terus hidup?