← Beranda
3 Villain, 3 Pemikiran Ekstrem, 3 Kebenaran Pahit: Melihat Bobroknya Dunia dari Perspektif Joker, Thanos, dan Eren Yeager
Banu AdikaraSelasa, 5 Mei 2026 | 21.56 WIB
Joker, Eren Yeager, dan Thanos. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Dalam ranah pop culture modern, sosok antagonis tidak melulu soal penjahat tak bermoral yang harus kalah. Joker, Thanos, dan Eren Yeager adalah tiga nama villain yang justru hadir dengan gagasan yang terasa relevan dengan realitas yang dihadapi banyak orang.

Ketiganya berasal dari semesta yang berbeda: Eren Yeager adalah lakon utama dalam manga karya Hajime Isayama, Attack on Titan; Thanos adalah sosok super villain dari Marvel Comics; dan Joker adalah musuh bebuyutan Batman dalam DC Comics. Meski tidak punya benang merah secara origin, ketiganya punya satu kesamaan: mereka mempertanyakan fondasi moral yang selama ini dianggap stabil.

Tiga villain ini punya dampak yang begitu besar, bahkan mampu menggelitik pola pikir khalayak publik dan merangsang opini bahwa apa yang mereka lakukan sebetulnya bukanlah hal yang salah-salah amat, meski pada praktiknya mereka mengorbankan banyak orang.

Tanpa bermaksud meromantisasi sosok penjahat dan membenarkan perlakuan mereka, ada alasan kuat mengapa pemikiran dari Joker, Thanos dan Eren Yeager menjadi hal yang asyik untuk didiskusikan dan diperdebatkan.

Baca Juga: Robot Raksasa dan Cermin Gangguan Jiwa: Mengeksplorasi Mental Illness dalam 'Neon Genesis Evangelion'

Mari kita bahas satu per satu:

Joker: Sistem dan Moral = Ilusi Sosial

Dalam film The Dark Knight, Joker bukanlah sosok penjahat yang punya masterplan. Menjuluki dirinya sebagai agent of chaos, Joker punya pola pikir yang unik dalam beraksi: menelanjangi fakta bahwa moral tak lebih dari ilusi sosial.

Lebih dari sekadar 'orang jahat adalah orang baik yang tersakiti', Joker tidak mengacau demi uang, kekuasaan atau balas dendam belaka. Ia ingin membongkar keyakinan dasar manusia terhadap keteraturan dan moralitas dengan mendorong manusia ke titik di mana etika, akhlak dan integritas menjadi rapuh.

Meyakini bahwa dunia adalah tempat yang sangat kejam, Joker melihat bahwa dunia butuh ilusi kontrol bernama moralitas dan sistem agar manusia di dalamnya merasa aman. Ketika dua hal esensial itu diganggu oleh hal yang tidak terduga, maka orang sebaik malaikat pun bisa berubah menjadi iblis. 

Harvey Dent, yang kemudian menjadi Two-Face, adalah bukti konkrit bahwa teorinya benar.

Psikolog sosial Philip Zimbardo juga pernah mengutarakan bagaimana situasi bisa mengubah perilaku manusia secara drastis. “Tekanan situasional bisa punya dampak lebih kuat ketimbang kualitas kepribadian individu,” ujarnya seperti dikutip dari The Standford Review.

Apa yang disampaikan Zimbardo adalah eksperimen sosial yang dilakukan oleh Joker, tepatnya pada adegan dua kapal ferry dan rumah sakit yang ia ledakkan.

Joker yakin bahwa manusia hanya baik selama sistem berjalan normal. Namun, ketika tekanan muncul, nilai-nilai moral dan sistem dalam manusia bisa runtuh dengan begitu cepatnya. 

Bagi Joker, chaos bukanlah sebuah aksi menyimpang, melainkan sebuah kondisi asli yang selama ini disembunyikan oleh aturan sosial.

Tindakan Joker banyak memicu penonton bertanya-tanya: apakah kebaikan yang dilakukan orang-orang selama ini adalah suatu hal yang tulus, atau hanya kosmetik dari kondisi nyaman karena sistem yang baik?

Baca Juga: Memaknai Kehidupan Setelah Kematian Tuhan: 'NieR', Tragedi Nihilistik dan Tujuan Eksistensi Manusia

Thanos: Pengorbanan Massal = Keseimbangan Semesta

Thanos, salah satu penjahat termasyur dalam franchise Avengers dalam Marvel Cinematic Universe, percaya bahwa melenyapkan setengah populasi galaksi adalah tindakan rasional.

Dalam pandangannya, semesta sudah berjalan dengan tidak seimbang, sementara populasi makhluk hidup terus meningkat di tengah sumber daya yang kian terbatas dan gejolak konflik yang tak berkesudahan.

Untuk menciptakan balance, Thanos memutuskan mengambil langkah brutal: menghilangkan setengah kehidupan secara random.

Di ranah psikologi, pandangan Thanos ini mencerminkan dilema klasik dalam etika utilitarian, seperti yang dibahas oleh filsuf Inggris, Jeremy Bentham yang meyakini bahwa sebuah tindakan atau kebijakan dianggap benar jika menghasilkan manfaat, kegunaan, atau kebahagiaan maksimal bagi mayoritas orang. Pendeknya: Harus ada yang dikorbankan demi kebaikan bersama.

Prinsip ini jelas mendapat tentangan banyak orang karena dianggap problematik. Filsuf politik Hannah Arendt adalah salah satu nama yang secara terang-terangan menentang pemikiran ini dengan mengatakan bahwa kebanyakan tindak kejahatan justru dilakukan oleh orang-orang yang, sedihnya, tidak pernah berniat untuk menjadi baik atau jahat, tapi orang yang merasa tindakannya benar dan perlu.

Pandangan tersebut menjadi relevan dengan apa yang dilakukan Thanos: Ia tidak melihat bahwa menghilangkan penduduk alam semesta secara acak adalah tindakan yang jahat, melainkan sebuah tindakan yang harus dilakukan demi keseimbangan. 

Meski terdengar kejam dan tidak berperasaan, apa yang dilakukan Thanos sebetulnya sudah kerap terjadi dalam dunia nyata, di mana gagasan tentang pengorbanan demi kebaikan bersama sering muncul dalam berbagai bentuk, baik itu dari sisi kebijakan ekonomi, perang, hingga krisis lingkungan.

Thanos adalah pengejawantahan ekstrem dari pola pikir tersebut. Baginya, efisiensi dan hasil akhir lebih penting daripada nilai kehidupan.

Baca Juga: Kala Manusia Menolak Langit: Filosofi 'Membunuh Tuhan' dalam JRPG

Eren Yeager: Genosida = Kebebasan Absolut

Jika Joker adalah simbol chaos dan Thanos adalah simbol balance, Eren Yeager adalah perwakilan dari emosi manusia yang paling hakiki: freedom.

Trauma masa kecil dan ancaman pemusnahan ras akhirnya membawa Eren, yang sebetulnya diplot sebagai protagonis, menjadi pribadi kejam nan dingin yang sampai pada kesimpulan radikal bahwa satu-satunya cara melindungi kebebasan adalah dengan menghancurkan dunia.

Eren ingin me-reset dunia lewat genosida.

Psikolog moral Jonathan Haidt menjelaskan bahwa banyak keputusan moral manusia sebenarnya didorong oleh emosi. Berbeda dari Joker dan Thanos, motivasi Eren untuk melakukan Rumbling, yakni sebuah tindakan penghancuran besar-besaran yang mengerahkan Titan dalam skala massif, terasa paling relate dengan pengalaman manusia, khususnya mereka yang selama ini termarjinalkan.

Bagaimanapun, dorongan untuk melindungi kelompok sendiri yang dipicu oleh ketakutan dan amarah adalah emosi yang universal, walaupun secara output sangat jelas bahwa tindakan Eren sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Filsuf Jean-Paul Sartre pernah menyatakan bahwa manusia 'dikutuk' untuk menjadi makhluk yang bebas. Dalam konteks apa yang dialami Eren, quote ini bukan hanya relate, tapi juga tragis.

Sebagai sosok yang menjunjung tinggi kebebasan absolut, Eren menyadari bahwa freedom bukan semata-mata hak setiap manusia, tapi juga beban. Setiap kebebasan punya konsekuensi yang harus ditanggung. Di kasus Eren, ia memilih menjadi monster seutuhnya demi kebebasan tanpa batas. Eren memilih menjadi 'martir' dan dibenci oleh dunia, bahkan oleh dua teman terkasihnya, Mikasa Ackerman dan Armin Arlert, yang akhirnya mengakhiri nyawanya.

Pemikiran inilah yang membuat Eren Yeager menjadi sosok villain yang paling mudah dipahami secara emosional oleh para penggemarnya.

Baca Juga: 'Perfect Blue' dan Horor Fantasi Publik: Ramalan Mengerikan Tentang Kehancuran Identitas di Era Internet

Pembenaran yang Dianggap Kebenaran

Tindakan Joker, Thanos dan Eren Yeager mencerminkan tiga respons manusia terhadap dunia yang jahat dan kompleks. Joker mewakili mereka yang muak dengan moralitas semu, Thanos mewakili khalayak yang berprinsip 'demi kebaikan bersama', dan Eren mewakili dorongan emosional manusia yang tidak ingin ditindas.

Disadari atau tidak, pola pikir ketiga karakter itu kerap hadir dalam kehidupan manusia sehari-hari, walaupun dalam skala yang jauh lebih kecil.

Di sinilah batas tipis antara 'kebenaran' dan 'pembenaran' muncul: Joker ingin membongkar kemunafikan sistem yang korup, Thanos ingin dunia berjalan dalam harmoni dan Eren ingin memperjuangkan haknya untuk hidup. Walau secara tujuan tidak salah, landasan moral ketiganya yang begitu ekstrim pada akhirnya membuat tindakan mereka tak bisa dibenarkan.

Joker, Thanos, maupun Eren Yeager menjadi karakter fiksi yang menarik secara filosofis karena mereka membawa audiens melihat sisi gelap pemikiran manusia. Ketiganya berhasil menembus ruang dan waktu, di mana mereka bukan lagi sekadar sosok jahat dalam komik atau film, melainkan cerminan diri manusia yang paling kelam.

Pada akhirnya, setidaknya dari sudut pandang pribadi, baik Joker, Thanos, dan Eren Yeager bukan cuma antagonis semata. Mereka adalah representasi dari kebenaran pahit yang eksis di dunia, di mana moral manusia bisa rusak dengan cepat akibat tekanan lingkungan; kebaikan bersama dalam pandangan subjektif kerap kali mengorbankan individu tak bersalah; dan korban kekerasan bisa menjelma menjadi pelaku kekerasan yang lebih sadis.

Apa yang dilakukan Joker, Thanos dan Eren Yeager memunculkan satu pertanyaan besar yang kerap jadi perdebatan klasik: Apakah benar-salah dan baik-buruknya suatu tindakan selamanya selalu hitam-putih, atau semuanya cuma masalah perspektif?

EDITOR: Banu Adikara