← Beranda
Kakek Ushar Rela Berlayar 32 Jam Sendirian Demi Pulang ke Bulukumba dari Bangkalan, 3 Dekade Tak Absen Mudik Lebaran
Novia HerawatiSelasa, 17 Maret 2026 | 18.13 WIB
Kakek Ushar Hamid, salah satu pemudik asal Socah, Bangkalan, saat menunggu keberangkatan kapal tujuan Makassar di Pelabuhan Tanjung Perak, Senin (16/3/2026). (Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com - Usianya sudah tergolong senior, 66 tahun. Tapi itu tidak menghalangi Ushar Hamid untuk merasakan keriuhan mudik Lebaran.

Ushar tetap tampak bersemangat pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Untuk mudik lebaran ke ujung kaki Celebes, Ushar tidak lewat jalur udara. Ia memilih jalur yang ditempuh para leluhurnya, yakni jalur laut.

Di ruang tunggu penumpang Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Kakek Ushar duduk tenang di bangku besi berwarna biru. Ia mengenakan kemeja warna coklat susu yang digulung setengah, serta peci bermotif khas.

Baca Juga: Terserang GERD Saat Mudik, Tips Ini Bisa Dilakukan untuk Meredakan Gejala

Di sampingnya tersandar dua tas besar dan satu tas selempang hitam. Barang bawaan itu diletakkan rapi di dekat kakinya, seolah selalu siap dibawa ketika panggilan keberangkatan kapal sudah disiarkan.

Wajahnya tampak tenang namun penuh perhatian. Sesekali pandangannya berkeliling, menoleh ke kanan dan ke kiri, mengikuti lalu lalang penumpang yang datang dan pergi di ruang tunggu penumpang.

"Lagi nunggu kapal, mau mudik ke Makassar, silaturahmi," ucap Ushar kepada JawaPos.com, Senin (16/3).

Tubuhnya masih bugar, namun suaranya amat lirih. Penulis pun harus mendekat agar bisa mendengar ucapannya dengan jelas.

Mengadu Nasib di Madura, Bertemu Jodoh di Tanah Rantau

Ushar bercerita bahwa dirinya mulai merantau ke Pulau Madura sejak tahun 1988, saat usianya masih muda. Kala itu, ia datang dengan harapan sederhana: mencari pekerjaan dan memperbaiki nasib.

Baca Juga: Jaga Kelancaran Arus Mudik Lebaran, Polri IngatkanKeselamatan adalah Tanggung Jawab Bersama

Di pulau garam, Ushar bekerja di sebuah perusahaan swasta. Siapa sangka, niat hati ingin mengadu nasib, Ushar justru dipertemukan dengan pujaan hatinya di tanah rantau.

Dari perkenalan sederhana, keduanya kemudian menikah dan membangun rumah tangga bersama.

Mereka kini hidup sederhana di Kecamatan Socah, Bangkalan, sambil membesarkan ketiga anak mereka.

"Anak saya tiga, yang paling sulung usianya 32 tahun, kemudian anak kedua dan ketiga itu kembar, usianya 27 tahun. Anak-anak sudah pada berkeluarga," lanjut kakek berkacamata tebal itu.

Tak Pernah Absen Mudik Lebaran

Lebih dari tiga dekade menetap di Pulau Madura, Ushar tidak pernah melupakan kampung halamannya di Bulukumba. Setiap Lebaran, ia selalu melakukan perjalanan mudik.

Baca Juga: 5 Tips Mudik Sehat untuk Penderita Aritmia, Jangan Lupa Obat!

Tradisi mudik sudah menjadi bagian penting dalam hidup Ushar. Walau jarak yang ditempuh sangat jauh, ia tetap bertekad pulang demi menjaga hubungan kekeluargaan yang menurutnya tidak boleh terputus.

Meski seorang diri, tanpa istri maupun anak di sampingnya, Ushar tidak mengurungkan niatnya untuk bersilaturahmi. Kakek 66 tahun ini tetap siap mengarungi lautan lebih dari 800 mil, yang memakan waktu sekitar 32 jam.

"Setiap tahun saya pulang ke (Bulukamba via) Makasar, kadang sama keluarga, kadang sendiri. Tahun ini mudik sendiri karena posisinya istri lagi sakit," ucap Ushar sambil tersenyum simpul.

Selama bertahun-tahun mudik, Ushar hampir selalu memilih kapal laut sebagai moda transportasi.

Bukan tanpa alasan, selain biayanya yang ekonomis, ia merasa perjalanan kapal memberikan kenyamanan tersendiri.

Baca Juga: Mudik Gratis BUMN Bantu Warga Hadapi Tekanan Ekonomi Lebaran

Pada musim mudik tahun ini, Ushar berangkat menggunakan Kapal Penumpang KM Kencana Dharma VII dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar.

"Dari dulu selalu naik kapal, karena kalau pesawat ndak ada uangnya. Naik kapal juga nyaman, tinggal duduk, bisa tiduran juga, jadi berhari-hari di atas lautan sudah biasa, mbak," kelakar Ushar.

Setelah berlabuh di Makassar, perjalanan Ushar belum selesai. Ia masih harus menempuh perjalanan darat sekitar 170 kilometer ke arah Tenggara menuju kampungnya, demi satu tujuan sederhana: menjaga tali silaturahmi keluarga.

"Yang namanya silaturahmi keluarga itu penting. Saya ini jauh-jauh hari mengajukan cuti demi pulang. InsyaAllah kalau nggak ada halangan dan diberi kesehatan, tanggal 31 Maret 2026 saya berangkat dari Makasar," tutupnya. 

Baca Juga: Mudik Lebaran Picu Kekhawatiran Finansial Keluarga, Perlindungan Jiwa Jadi Bagian Perencanaan Ekonomi

EDITOR: Bayu Putra