← Beranda
Berperang ala Gen Z Memaknai Pahlawan Baru: Bukan Angkat Senjata, Tapi Bertahan Hidup!  
Novia HerawatiSenin, 10 November 2025 | 22.00 WIB
Anak-anak muda Surabaya mementaskan drama insiden perobekan bendera Belanda, di Hotel Majapahit Jalan Tunjungan, Minggu (21/9/2025). (Riana Setiawan/ Jawa Pos)

JawaPos.com - Generasi Z memang tidak hidup di masa penjajahan. Mereka tak merasakan dentuman perang dan pengorbanan fisik, seperti yang dialami Kusno Wibowo dan Hariyono saat merayap diantara kerumunan perang dan merobek bendera Belanda di atap Hotel Yamato, Surabaya.

Di tengah gegap gempita dunia digital, Generasi Z lahir dan tumbuh di antara layar dan algoritma. Tak sedikit yang menyebutnya 'generasi tanpa sejarah'.

Namun, memberikan label untuk Gen Z sebagai generasi yang tak akrab sejarah dan tak mengenal kepahlawanan agaknya terlalu dini. Bagi mereka, dunia digital bukan sekadar ruang hiburan, melainkan ruang hidup.

Di sana lah generasi yang lahir di antara tahun 1997 hingga 2012 ini saling berbagi cerita, bertumbuh, dan menemukan perjuangan yang berbeda, yakni bertahan pada tekanan dan tantangan zaman yang lebih modern.

Di kota Surabaya, nadi kepahlawanan berdenyut sangat dekat. Setiap 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan, kota ini mengenang semangat arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 1945.

Makna Kepahlawanan bagi Generasi Z

Bagi Gen Z, kepahlawanan bukan lagi soal mengangkat senjata. Aprilia Devi (22 tahun), melihat perjuangan hadir dalam bentuk yang lebih sederhana dan personal. 


“Sekarang cari kerja susah, hidup juga naik turun," tutur Aprilia.


"Tetapi banyak anak muda tetap semangat buat berkembang. Itu juga bentuk kepahlawanan," lanjut jurnalis muda asal Sidoarjo tersebut kepada JawaPos.com, Jumat (7/11).

Berjuang di masa yang beda, namun dengan semangat yang sama, begitu kata Aprilia. Baginya, peringatan Hari Pahlawan bukan cuma tentang mengenang perang atau ngelawan penjajah saja.

"Semangat juang kita yang nggak pernah padam. Buat Gen Z, semangat itu bisa keliatan dari cara kita terus berusaha, entah lewat belajar, kerja, atau ngejar mimpi di tengah situasi yang kadang nggak gampang," imbuhnya. 

Senada dengan Aprilia, Anas Audah (15 tahun), pelajar SMA Muhammadiyah 10 Surabaya juga punya pandangan serupa. Ia sepakat bahwa Generasi Z tidak lahir di era penjajahan. Namun bukan berarti tak memiliki 'medan perang' sendiri.

"Hari Pahlawan itu bukan cuma tentang ngelawan penjajah. Bagaimana kita ngelawan rasa malas, berani ngomongin hal benar walaupun nggak populer," tutur remaja keturunan arab itu. 

Agar Hari Pahlawan Lebih Seru Ala Gen Z

Berbeda dengan Aprilia dan Anas, bagi Isnaini Lu'lu' Atim Muthoharoh, 26 tahun, asisten dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya, ia melihat ada kecenderungan peringatan Hari Pahlawan di kalangan Gen Z hanya menjadi formalitas. 

Banyak anak muda, dalam hal ini Gen Z mulai mengabaikan fakta historis dan menjadikan peringatan Hari Pahlawan hanya sekedar tuntutan dan ikut-ikutan, seperti halnya, upload story atau flayer sesuai dengan momentum hari. 

"Padahal Hari Pahlawan seharusnya bisa menjadi pengingat untuk anti 'menye-menye' di tengah arus modernisasi. Perlu menjadi catatan juga bahwa setiap individu memiliki cara berbeda dalam memaknai suatu peringatan," ujar perempuan asal Mojokerto itu.

Isnaini Lu
Isnaini Lu

Ia menilai kurikulum sejarah di lembaga pendidikan perlu dikemas lebih hidup, tidak hanya berhenti pada penyampaian teori yang membuat pusing, tetapi disampaikan dengan cara-cara yang menyenangkan. 

Aprilia menambahkan, agar lebih dekat dengan Generasi Z, peringatan Hari Pahlawan dapat diselenggarakan dengan cara-cara yang fun, seperti lewat festival, konten kreatif di media sosial, dan kampanye.

"Jadi semangat kepahlawanan-nya tetap dapat, tetapi dikemas dengan cara yang seru dan kekinian buat Generasi Z," tutur gadis berkacamata ini di salah satu cafe kawasan Gubeng, Surabaya.

Siapa Pahlawan bagi Generasi Z?

Bagi Generasi Z, pahlawan tak selalu identik dengan tokoh yang tercantum di buku sejarah. Bukan soal siapa yang berani ikut perang, mengokang senjata atau menodongkan laras panjang ke pasukan musuh. 

Aprilia memandang pahlawan dari sosok-sosok di sekitar kita, seperti guru yang sabar, teman yang peduli, konten kreator kecil yang berani bersuara, hingga mahasiswa yang tak lelah turun ke jalan menyuarakan keadilan.

"Menurutku, semua anak muda yang berjuang buat dirinya sendiri, keluarga, itu juga sosok pahlawan yang menginspirasi. Mereka berjuang di masa sulit tetapi tetap nggak nyerah, itu semua keren," ucap Aprilia.

Aprilia Devi. (Novia Herawati/JawaPos.com)
Aprilia Devi. (Novia Herawati/JawaPos.com)

Alumni UPN Veteran Surabaya itu juga mengidolakan Kartini sebagai pahlawan yang gigih memperjuangkan emansipasi perempuan. Ia membuka jalan agar perempuan bisa punya kesempatan yang setara dalam kehidupan.

Sementara Anas mengagumi sosok Bung Tomo. Bagi pemuda yang aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), cara Bung Tomo membakar semangat arek-arek Suroboyo tanpa kenal lelah itu luar biasa.

"Aku paling kagum sama Bung Tomo, beliau keren banget. Aku juga kagum sama pahlawan zaman sekarang, mereka orang-orang yang berjuang lewat hal kecil, sesederhana menjadi diri sendiri di tengah tekanan sosial," ucapnya.

Nyi Ageng Serang, penasehat perempuan pertama di kesultanan sepuh (Sultan Hamengkubuwono II) menjadi sosok pahlawan nasional yang dikagumi oleh Isnaini.


"Bagi saya, Nyi Ageng Serang ini perempuan yang berintegritas tinggi, nasionalis dan religius. Sepak terjang hidupnya beliau diprioritaskan untuk kemerdekaan," ucap Isnaini.


Sementara Ali Zaenal Abidin, 20 tahun, Gen Z yang saat ini berkuliah di Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya mengagumi kecerdasan dari sosok BJ Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia.

Di titik ini, semangat kepahlawanan mungkin tidak lagi terdengar lantang seperti pekikan Bung Tomo di radio. Namun semangat itu belum padam, ia tetap hidup dalam jiwa anak-anak muda yang bertahan dari tuntutan zaman.

“Itu yang membuat saya bangga jadi bagian dari Surabaya. Kota itu punya semangat yang khas, keras tetapi tulus, ngasih contoh kalau berjuang itu nggak harus besar, bisa dari diri sendiri,” ucap pemuda yang lahir dan besar di Kenjeran, wilayah pesisir Surabaya. 

Ali Zaenal Abidin, mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. (Novia Herawati/JawaPos.com)
Ali Zaenal Abidin, mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. (Novia Herawati/JawaPos.com)

Pada akhirnya, menjadi pahlawan hari ini bukan lagi soal sorak peperangan atau nama yang diabadikan dalam buku  sejarah. Generasi Z memilih berjuang dengan cara yang lebih senyap: melawan rasa takut, berani bermimpi, dan tetap berdiri di tengah tekanan zaman.

Anak-anak muda Surabaya mementaskan drama insiden perobekan bendera Belanda, di Hotel Majapahit Jalan Tunjungan, Minggu (21/9/2025). (Riana Setiawan/ Jawa Pos)
Anak-anak muda Surabaya mementaskan drama insiden perobekan bendera Belanda, di Hotel Majapahit Jalan Tunjungan, Minggu (21/9/2025). (Riana Setiawan/ Jawa Pos)

(*) 

Artikel ini merupakan seri kedua dari lima tulisan Liputan Khusus JawaPos.com yang membahas peringatan Hari Pahlawan di Surabaya. Tulisan pertama dipublikasikan khas pada pukul 14.00 WIB, waktu yang sama saat terjadinya kontak senjata pertama kali antara pemuda Surabaya dan pasukan Inggris.

Selanjutnya, bagaimana cara Surabaya merajut ingatan perjuangan lewat rangkaian Hari Pahlawan 2025? Simak liputan selengkapnya di Topik Khusus JawaPos.com.


Tentang penulis:

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tahun 2019. Sejak mahasiswa, sudah aktif di dunia broadcasting. Mengawali karier sebagai wartawan pada 2018 di Humas Kampus. Saat ini, fokus menggarap isu politik dan kota Surabaya di JawaPos.com.

 
EDITOR: Hendra