← Beranda
Jejak Warisan Nusantara di Georgetown, Pulau Penang, Malaysia (2-Habis)
Suryo Eko PrasetyoSenin, 6 Februari 2017 | 18.37 WIB
JADI JUJUKAN: Agus Salim (kiri) menunjukkan lauk ikan cencaru, salah satu lauk favorit di Restoran Nasi Padang Minang di Georgetown, Penang, Malaysia.

Meski kota kecil, Georgetown, ibu kota Penang, mempunyai ragam kuliner yang banyak. Salah satunya masakan padang. Sejak 1969, masyarakat Melayu akrab dengan masakan khas Nusantara itu.



DHIMAS GINANJAR, Penang



MENGUNJUNGI Georgetown belum lengkap bila tidak melahap aneka kulinernya. Tiga etnis yang hidup rukun di sana, yakni Melayu, Tionghoa, dan India, membuat kawasan berpenduduk 740 ribu jiwa tersebut kaya aneka makanan. Belum lagi kuliner Eropa yang ikut meramaikan jalanan kota itu.


Indonesia diwakili masakan padang. Ada beberapa rumah makan padang di sana. Namun, yang paling tua dan melegenda kelezatannya adalah Restoran Nasi Padang Minang yang terletak di pusat kota. Kedai makanan itu ada sejak 1969.


’’Keluarga kami berasal dari Batang Kapas, pesisir selatan Sumatera Barat. Makanya, saya punya nama Minang,’’ ujar Agus Salim, 65, Jumat (3/1). Dia adalah generasi kedua yang ikut menjaga kelangsungan hidup rumah makan padang yang berlokasi di persimpangan Jalan Transfer dan A.S. Mashoor itu.


Agus lupa pastinya. Yang jelas, saat Perang Dunia Kedua, banyak orang Sumatera yang pindah ke Malaysia. Biasanya melalui Medan. Termasuk keluarganya yang memilih tinggal di Kedah. Pada 7 September 1952, Agus Salim lahir di sana. ’’Tante saya lantas ke Penang sebelum 1969,’’ ucapnya.


Perempuan itu bernama Siti Hajar binti Hussein. Dia memilih tinggal di Penang bersama orang-orang Minang yang mengadu nasib di kota pelabuhan itu. Untuk menyambung hidup, dia membuka restoran. Lokasinya sama seperti 48 tahu lalu. Di bawah International Hotel.


Menurut Agus, awalnya makanan yang dijual rumah makannya bukan masakan padang. Sebab, orang Melayu tidak begitu suka pedas. Jadinya, menu yang dijual waktu itu mengikuti lidah orang Melayu yang kebanyakan sayur-sayuran. ’’Setelah itu, kami masukin sikit-sikit (sedikit-sedikit) makanan Minang di menu,’’ terangnya.


Agus bercerita, awalnya tidak mudah membuka restoran khusus makanan padang di Penang. Sebab, kebanyakan orang Melayu saat itu lebih suka memasak sendiri. Apalagi, masyarakat di kawasan utara Malaysia tersebut telanjur mengenal makanan khas di sana, nasi kandar. Yakni, hidangan nasi putih yang disajikan dengan banyak masakan kari khas Tamil India.


Namun, kata Agus, Siti Hajar tidak mau menyerah. Dia meyakini masakan padang bisa cocok di lidah orang Melayu dan pendatang. Untuk itu, dia perlu mendatangkan bumbunya dari tanah Sumatera. Hal itu ditujukan agar tetap bisa mendapatkan cita rasa khas Minang.


’’Dulu kami harus beli banyak dari Medan. Sekarang kapal feri susah ke sini. Jadinya mahal,’’ terangnya.


Untung, kini di Penang sudah banyak yang berjualan rempah-rempah yang dibutuhkan untuk membuat bumbu masakan Padang. Tinggal meracik sendiri. ’’Tidak ada yang berbeda, hanya tingkat pedasnya yang dikurangi,’’ ucapnya.


Begitu menemukan formulasi yang pas, terkait bumbu dan rasa pedasnya, rumah makan asli Tanah Minang itu jadi jujukan warga untuk makan pagi, siang, hingga malam. Lauk yang paling disukai adalah daging rendang.


’’Resep di tempat kami tak pernah dicampur. Makanan Minang ya Minang. Melayu ya Melayu,’’ urai pensiunan pegawai negeri yang mengurusi aset Kerajaan Malaysia itu.


Rumah makan tersebut kini memiliki delapan pekerja, termasuk seorang koki khusus yang didatangkan dari Tanah Minang. Mereka masih satu keluarga besar. ’’Makanan yang kami jual juga murah. Tak ambil untung banyak,’’ jelasnya.


Jika dibandingkan dengan restoran lain, harga yang dipatok Agus bisa lebih murah sekitar RM 3 (Rp 9 ribu) per porsi. Misalnya, nasi padang dengan lauk daging rendang saja dihargai Rp 12 ribu. Namun, bila ditambah sayur dan lauk lainnya, bisa Rp 21 ribu per porsi.


Komitmen untuk menghadirkan makanan Minang dan Melayu di restoran itu masih terjaga sampai saat ini. Dalam sehari, Agus selalu menyiapkan 30 menu yang dipajang di kaca etalase.


Buka mulai pukul 10.00, restoran padang tersebut mengalami puncak ramai saat jam makan siang, pukul 12.00–13.00. Biasanya menu favorit adalah ikan cencaru dan rendang. Dalam tiga jam, sedikitnya 200 orang makan di situ secara bergantian.


’’Buka hari-hari, (kalau) letih tutup. Masa pelancongan tidak bisa tutup karena jadi wang (uang, Red),’’ katanya.


Meski sudah banyak yang kenal, keluarga besar belum berencana membuka cabang. ’’Kami khawatir rasanya tidak sama. Juga, tidak ada tenaga,’’ terangnya.



Selain Agus, ada Zulkifli yang mendapat tugas sebagai kasir, mencatat menu pilihan pembeli, serta membungkus makanan yang akan dibawa pulang. Pria 30 tahun itu merupakan generasi ketiga yang setia bekerja di restoran tersebut. ’’Ibu meninggal empat tahun lalu. Saya tetap di sini,’’ ujarnya. (*/c5/ari/sep/JPG)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo