← Beranda
Upacara HUT ke-81 RI di Indramayu Heboh, Wanita ODGJ Nyaris Peluk Lucky Hakim
Abdul RahmanSelasa, 18 Agustus 2026 | 15.42 WIB
Artis Lucky Hakim yang kini menjabat sebagai Bupati Indramayu di momen perayaan HUT ke-81 RI. (istimewa)

 

JawaPos.com - Upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia yang berlangsung di Alun-alun Indramayu, Senin (17/8), diwarnai insiden tak terduga dan sempat heboh. Pasalnya, seorang perempuan diduga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tiba-tiba menerobos masuk ke area lapangan saat prosesi pengibaran bendera Merah Putih berlangsung.

Perempuan tersebut mendekati Bupati Indramayu Lucky Hakim dan nyaris memeluknya, yang ketika itu tengah mengikuti prosesi upacara bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah.

Beruntung, petugas gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, dan Satpol PP bergerak cepat mengadang perempuan tersebut. Ia kemudian diamankan dari area upacara dan dibawa ke RSUD Indramayu untuk mendapatkan penanganan.

Lucky Hakim mengatakan dirinya tidak mengetahui secara pasti dari mana perempuan tersebut datang. Sebab, lokasi upacara berada di lapangan terbuka dan dipenuhi masyarakat yang menyaksikan jalannya peringatan HUT ke-81 RI.

Baca Juga: Truk Tambang Parung Panjang Berulah Lagi, Anak ABG Jadi Korban

"Tadi saat prosesi pengibaran bendera, tiba-tiba ada ibu-ibu lari masuk ke arah tengah, histeris teriak, nggak tahu mau apa. Saya tidak tahu persis dari mana," kata Lucky Hakim saat dihubungi awak media, Senin (17/8).

Menurut Lucky, dirinya sama sekali tidak melihat langsung perempuan tersebut karena sedang dalam posisi memberikan penghormatan kepada bendera Merah Putih.

"Iya lalu diamankan ke arah belakang. Saya nggak bisa lihat karena lagi posisi hormat bendera bersama Kapolres dan Dandim," ujarnya.

Setelah upacara selesai, Lucky baru mengetahui bahwa perempuan tersebut diduga mengalami gangguan jiwa. Ia pun memilih menanggapi kejadian tersebut dengan santai dan tidak mau membesar-besarkannya.

Bagi Lucky, insiden tersebut merupakan bagian dari dinamika yang bisa terjadi dalam sebuah kegiatan yang melibatkan ribuan masyarakat.

"Saya sempat tanya setelah acara, katanya ODGJ. Saya kurang paham, tapi pastinya diamankan secara humanis," tutur Lucky.

Ia menegaskan, siapa pun warga yang berada dalam kondisi tersebut tetap harus diperlakukan secara manusiawi selama tidak membahayakan orang lain.

"Mau ODGJ atau tidak, selama tidak membahayakan, maka kita perlakukan dengan baik dan selayaknya. Ini ibarat kejutan unik saja," selorohnya.

Lucky Hakim Tiadakan Kursi dan Tenda Pejabat

Selain insiden perempuan yang menerobos lapangan, pelaksanaan upacara HUT ke-81 RI di Indramayu juga menjadi perhatian karena kebijakan Lucky Hakim yang tidak menyediakan kursi maupun tenda khusus bagi pejabat dan para tamu undangan.

Para pejabat, anggota DPRD, tamu undangan, hingga jajaran birokrasi diminta berdiri bersama peserta upacara dan masyarakat selama prosesi berlangsung.

Lucky bahkan menyampaikan permintaan maaf kepada para pejabat dan tamu undangan karena tidak menyediakan fasilitas khusus seperti tempat duduk, tenda peneduh, makanan, maupun minuman.

"Saya mohon maaf kepada para anggota Dewan, DPRD, para pejabat, para petinggi, para elit, juga para tamu undangan yang terhormat. Saya tidak menyediakan kursi, malah mengajak semuanya sama-sama berdiri dua jam di lapangan," ujarnya.

Menurut Lucky, keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Ia ingin para pejabat turut merasakan kondisi yang dialami masyarakat ketika harus beraktivitas di bawah terik matahari.

Baginya, pengalaman berdiri bersama masyarakat dalam kondisi yang sama dapat menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan ketika nantinya membuat keputusan untuk warga Indramayu.

"Ketika kita mengambil keputusan-keputusan penting untuk rakyat Indramayu di ruangan ber-AC, duduk di kursi yang nyaman dengan hidangan dan camilan nikmat, kita akan ingat momen upacara Agustusan ini," kata Lucky.

Baca Juga: Penertiban Truk Tambang Parung Panjang Hanya Bertahan 1 Hari, Netizen Sentil Keras Rudy Susmanto

Ia pun berharap para pejabat tidak melupakan masyarakat yang setiap hari bekerja di tengah panas matahari dan dalam kondisi yang tidak selalu mudah.

"Di luar sana masyarakat juga lelah berdiri dengan perut yang juga kadang masih lapar, tetapi harus bekerja di bawah terik matahari," pungkasnya.

EDITOR: Abdul Rahman