← Beranda
PLN Siapkan Sistem Kelistrikan Hadapi Lonjakan PLTS 100 GWp
Dimas Choirul• Kamis, 22 Oktober 2026 | 23.43 WIB
Pembangkit EBT Tenaga Surya/(Istimewa). 

JawaPos.com - PT PLN (Persero) memperkuat kesiapan sistem kelistrikan untuk mengantisipasi peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia.

Langkah ini dilakukan seiring program pembangunan PLTS berkapasitas total 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto.

Dari 14 proyek PLTS tahap awal, sebanyak 11 proyek berada di wilayah Jawa dan Bali.

Kondisi ini membuat kesiapan sistem kelistrikan di wilayah tersebut menjadi penting untuk mendukung peningkatan penggunaan energi baru terbarukan (EBT).

Melalui PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B JAMALI), PLN menyiapkan teknologi, pola operasi, serta kompetensi sumber daya manusia (SDM) agar sistem kelistrikan mampu mengakomodasi pertumbuhan pembangkit EBT.

General Manager PLN UIP2B JAMALI Munawwar Furqan mengatakan, sistem ketenagalistrikan saat ini menghadapi dinamika yang semakin kompleks.

Selain pertumbuhan kebutuhan listrik, perubahan pola pembangkitan dan digitalisasi operasi juga menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

"Transformasi energi bukan hanya soal menambah pembangkit EBT, tetapi juga memastikan sistem mampu mengelola karakteristik pembangkit yang semakin beragam," ujar Munawwar dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).

PLN Modernisasi Sistem Pengaturan Listrik

Salah satu tantangan dalam pengelolaan PLTS adalah produksi listrik yang bergantung pada intensitas sinar matahari dan kondisi cuaca.

Berbeda dengan pembangkit konvensional, pasokan listrik dari PLTS dapat berubah sepanjang waktu.

Perubahan tersebut perlu diperhitungkan agar keseimbangan antara pasokan listrik dan kebutuhan pelanggan tetap terjaga.

Untuk mengantisipasinya, PLN UIP2B JAMALI memodernisasi sistem Supervisory Control and Data Acquisition–Energy Management System (SCADA-EMS).

Teknologi ini digunakan untuk memantau dan mengendalikan sistem tenaga listrik secara real-time, sekaligus mendukung optimalisasi operasi kelistrikan.

Proses migrasi dari sistem lama ke sistem baru telah dilaksanakan pada 3 Juni 2026 dan kini memasuki tahap operasi paralel. Implementasi penuh ditargetkan selesai pada akhir 2026.

Modernisasi dilakukan secara bertahap dengan mitigasi risiko untuk menjaga kontinuitas pasokan listrik kepada pelanggan.

Selain pembaruan teknologi, PLN memperkuat kesiapan sistem melalui penyusunan dan evaluasi pola operasi. Langkah ini diperlukan agar pengatur sistem dapat menyesuaikan pengelolaan pembangkitan dengan kondisi jaringan dan kebutuhan listrik.

PLN juga meningkatkan kompetensi SDM melalui pelatihan, sertifikasi, serta kerja sama dengan berbagai lembaga internasional.

Upaya tersebut dilengkapi dengan kegiatan benchmarking bersama operator sistem tenaga listrik di Amerika Serikat, Denmark, Australia, dan Jerman untuk mempelajari praktik terbaik pengelolaan sistem kelistrikan modern.

Koordinasi antarunit, evaluasi kondisi operasi, dan simulasi berbagai skenario turut dilakukan untuk mengantisipasi perubahan pola pembangkitan.

Melalui langkah tersebut, PLN UIP2B JAMALI berupaya memastikan kesiapan sistem pengaturan seiring meningkatnya kapasitas energi terbarukan.

Dengan dukungan teknologi digital, pola operasi yang adaptif, dan SDM yang kompeten, sistem kelistrikan di Jawa, Madura, dan Bali diharapkan mampu mengakomodasi pertumbuhan PLTS tanpa mengabaikan keandalan pasokan listrik kepada pelanggan.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra