JawaPos.com - Rencana Pemerintah Indonesia yang menargetkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) dalam tiga tahun ke depan dinilai sebagai langkah realistis.
Ini untuk mempercepat transisi energi bersih. Meski demikian, realisasi target tersebut membutuhkan kepastian untuk menarik investasi.
Termasuk kepastian ketersediaan lahan, tahapan pengembangan proyek, rantai pasok, dan kontrak.
"Saya pikir PLTS benar-benar peluang yang belum dieksplorasi, teknologi ini mudah diimplementasikan dan memberikan dampak yang besar dalam waktu yang relatif cepat, proyek ini dapat diselesaikan dalam dua hingga tiga tahun," kata Konsultan Pembangunan Infrastruktur sekaligus Global Energy Leader Arup, John Ammentorp dalam temu media di Jakarta, Jumat (25/9).
John menjelaskan hal utama yang perlu diperhatikan dalam pembangunan PLTS.
Menurutnya, kesiapan jaringan listrik menjadi faktor penting untuk menampung tambahan pembangkit. Selain itu, penguatan jaringan juga harus mencakup interkoneksi antarpulau.
"Jadi sangat penting untuk memiliki itu," ungkapnya.
Selain itu, lanjut John, perencanaan jaringan perlu didukung data mengenai aliran energi sehingga pemerintah dan pelaku industri dapat mengetahui dampak penambahan pembangkit maupun permintaan listrik di setiap wilayah.
Data tersebut dapat digunakan untuk menentukan lokasi pembangkit surya, sekaligus mengidentifikasi wilayah yang paling memungkinkan untuk menempatkan beban listrik baru tanpa membebani jaringan yang ada.
Pemetaan aliran energi juga diperlukan untuk mengidentifikasi potensi hambatan atau bottleneck pada jaringan dan menentukan lokasi yang paling tepat untuk pengembangan jaringan maupun permintaan listrik baru.
"Saya pikir itu kunci untuk membuka hal tersebut, menyeimbangkan ini dengan cara memiliki jenis data, sehingga tahu bagaimana mendukung berbagai area dengan sebaik mungkin," katanya.
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program PLTS 100 GWp di PLTS Site Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, pada Selasa (25/8).
Pembangunan PLTS 100 GWp akan dilakukan secara bertahap. Pada Tahap I, pemerintah menargetkan pembangunan kapasitas sebesar 17 GWp.
Pada tahap awal tersebut, terdapat 14 proyek PLTS dengan total kapasitas 5.216 MWp yang berada dalam berbagai tahapan, mulai dari pembangunan, groundbreaking, peresmian, hingga persiapan tender.
Presiden menegaskan bahwa pemerintah serius merealisasikan program tersebut dan menargetkan pembangunan kapasitas PLTS nasional sebesar 100 GWp dalam waktu tiga tahun.
“Kita tidak main-main, target kita adalah 100 gigawatt dalam 3 tahun,” tegas Presiden.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, program ini merupakan program strategis yang berdampak positif secara signifikan pada sejumlah aspek.
Melalui program ini, pemerintah dapat melakukan penghematan APBN, penghematan diesel, penciptaan lapangan kerja, hingga penurunan emisi karbon.
Total investasi dari 100 gigawatt kurang lebih sekitar USD73 miliar atau setara dengan Rp1.140 triliun lebih.
"Dari total pekerjaan ini bisa kita melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun Rp73,9 triliun, bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja,” terang Bahlil.