← Beranda
Harga Minyak Dunia Variatif Usai Serangan Rudal Houthi di Arab Saudi, Brent Tembus USD 106
Djati Waluyo• Jumat, 25 September 2026 | 14.21 WIB
Ilustrasi minyak mentah dunia.

 

JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia bergerak variatif pada perdagangan Jumat (25/9) setelah serangan rudal Houthi di Arab Saudi menghidupkan kembali kekhawatiran akan gangguan pasokan.

Melansir Investing pada pukul 06:35 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 3,69 poin atau 3,58 persen ke level 106,77 dollar per barel atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan perdagangan Kamis (24/9) pagi sebesar 102,48 dollar per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 0,56 poin atau 0,59 persen ke level 94,04 dollar per barel atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan perdagangan Rabu (24/9) pagi sebesar 91,86 dollar per barel.

Melansir Reuters, Arab Saudi menyebut telah mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh Houthi Yaman yang didukung Iran, menggagalkan serangan di provinsi selatan Taif dan daerah Yanbu di Laut Merah, kata koalisi pimpinan Saudi di Yaman.

Sementara itu, maskapai penerbangan Iran dilarang masuk ke negara-negara tetangga termasuk UEA dan Oman sebagai tanggapan terhadap sanksi baru AS, dampak besar pertama dari pergeseran kebijakan AS untuk menargetkan perusahaan di negara ketiga yang berbisnis dengan Iran.

Dengan perang AS-Israel melawan Iran yang sebagian besar buntu selama berbulan-bulan di medan perang, Washington telah mengumumkan perpanjangan sanksi keuangannya, yang menargetkan perusahaan dari negara ketiga yang berbisnis dengan perusahaan Iran, praktik yang dikenal sebagai "sanksi sekunder".

Pada hari Rabu, Iran mengancam akan membalas negara-negara tetangga yang mematuhi larangan AS terhadap penerbangannya, dengan membuat bandara mereka "tidak dapat digunakan".

Secara terpisah, Arab Saudi sedang meningkatkan volume pemompaan minyak mentah melalui Pipa East-West yang mengarah ke pusat ekspor Laut Merah di Yanbu, meskipun pemuatan kapal tanker minyak mentah belum dilanjutkan, menurut sumber industri, citra satelit, dan data pengiriman.

Disisi lain, negosiator AS dan Iran di New York sedang menjajaki jalur bertahap untuk keluar dari perang yang akan melibatkan Teheran membuka kembali Selat Hormuz dan Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran, kata sumber yang dekat dengan perundingan tersebut.

Selat tersebut telah menjadi alat tawar-menawar utama dalam upaya untuk mengakhiri konflik AS-Iran yang hampir berlangsung selama tujuh bulan. Iran menginginkan keringanan dari blokade AS yang mencekik ekonominya, dan Washington menginginkan jalur bebas bagi kapal-kapal di rute pasokan minyak global yang kini diblokir oleh Teheran.

Menurut komentar dua sumber Iran, dua pejabat regional, dan dua sumber diplomatik Barat kepada Reuters, kedua pihak tidak ingin menyerahkan pengaruhnya.

Dengan harga solar mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir karena gangguan pasokan, kontak tingkat tinggi terus berlanjut antara Uni Eropa dan AS. AS dilaporkan berencana untuk melarang ekspor solar, sebuah langkah yang diyakini Uni Eropa dapat merugikan kedua belah pihak.

 

EDITOR: Kuswandi