JawaPos.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, seperti Pertalite hingga solar tidak ikut naik di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Sebagaimana diketahui, kontrak berjangka minyak mentah Brent menyentuh level USD 108,23 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melambung ke level USD 103,26 per barel.
Bahlil megatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk memantau dinamika global yang mengakibatkan gejolak harga minyak dunia.
“Khususnya menyangkut dengan harga minyak dunia yang tidak menentu. Tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, di Jakarta, Jumat (11/9).
Baca Juga: Pertamina Pastikan Distribusi BBM B50 capai 100 Persen pada Akhir September 2026
Bahlil mengatakan, keputusan menahan harga BBM subsidi bukan merupakan hal yang mudah.
Pasalnya, dengan menahan harga tersebut maka pemerintah secara otomatis harus menambah anggaran subsidi.
“Memang ini adalah sesuatu yang tidak ringan, ini sesuatu yang berat. Kenapa? Karena pasti penambahan subsidinya nambah,” ujarnya.
Ia mengatakan, penetapan untuk tidak menaikan harga BBM subsidi karena Presiden Prabowo Subianto berpandangan menjaga daya beli masyarakat lebih penting ditengah kondisi perekonomian dunia yang sedang bergejolak.
Bahlil mengatakan, penambahan anggaran subsidi menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan pemerintah untuk menjaga harga BBM tetap terjangkau masyarakat.
Baca Juga: Takut Tak Kebagian BBM, Warga di Makassar Antre di SPBU sejak Subuh
“Menambah anggaran subsidi saya pikir itu bagian daripada langkah yang kita lakukan,” ucapnya.
Harga minyak dunia saat ini telah berada di kisaran USD 106 sampai dengan USD 108 per barel.
Namun, rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sejak Januari hingga September 2026 masih berada pada kisaran USD 85-90 per barel.
Bahlil mengatakan, kondisi tersebut menjadi sedikit angin segar untuk harga BBM di dalam negeri.
“Rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan September sekarang itu kurang lebih di angka sekitar USD 85 sampai USD 90 per barel. Jadi masih overall masih oke,” ucapnya.
Baca Juga: Begini Cara Pertamina Deteksi Penyalahgunaan BBM Subsidi via QR Code