← Beranda
Transisi Energi Indonesia Masuk Fase Eksekusi, Kementerian ESDM Ungkap Capaian 17,3 Persen
Nanda PrayogaKamis, 3 September 2026 | 02.48 WIB
Pembukaan The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 di Convention Grand Ballroom, JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com - Pemerintah menyebut pengembangan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) di Indonesia telah memasuki tahap eksekusi, dengan implementasinya mencapai 17,3 persen pada semester ini.

Pemerintah kini fokus mempercepat realisasi berbagai proyek strategis untuk mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 30 persen pada 2034.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal EBTKE Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi dalam pembukaan The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 di Convention Grand Ballroom, JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9).

Eniya menegaskan bahwa pemerintah saat ini mulai mengarahkan perhatian dari tahap perencanaan menuju pelaksanaan proyek EBTKE secara langsung di lapangan.

“Implementasi pengembangan EBTKE telah mencapai 17,3 persen pada semester ini,” kata Eniya.

Lebih lanjut, Eniya mengatakan pemerintah terus mengupayakan percepatan pencapaian target bauran energi baru terbarukan sebesar 30 persen pada 2034.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri ESDM Yuliot menekankan pentingnya memperkuat kemandirian energi nasional melalui swasembada, hilirisasi, serta perluasan akses energi bagi masyarakat dan industri.

“Swasembada energi dan hilirisasi, perluasan akses dan jangkauan terhadap energi bagi masyarakat dan industry,” ungkap Yuliot.

Menurutnya, pengembangan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi juga menjadi bagian penting dari strategi memperkuat ketahanan energi Indonesia. Transisi energi dinilai tidak hanya berkaitan dengan komitmen global, tetapi juga kebutuhan nasional di tengah perubahan geopolitik.

“Transisi energi bukan sekadar upaya memenuhi komitmen global, melainkan strategi mendasar untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian pasokan energi fosil,” ungkapnya.

Adapun penyelenggaraan IndoEBTKE ConEx 2026 tahun ini juga menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya sembilan organisasi disatukan dalam satu forum.

Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bertindak sebagai tuan rumah utama, sementara Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) menjadi co-host. Forum ini turut melibatkan tujuh asosiasi mitra, yakni AESI, AEAI, API, MEBI, APPLTA, PJCI, dan Masyarakat Biometana Indonesia, serta Boston Consulting Group sebagai knowledge partner.

Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia Norman Ginting mengatakan, bergabungnya sembilan organisasi dalam satu forum mencerminkan pendekatan menyeluruh terhadap agenda transisi energi. Menurutnya, pengembangan energi bersih tidak lagi dapat dilihat berdasarkan satu jenis sumber energi, melainkan harus dibangun sebagai sebuah ekosistem.

Ekosistem tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari energi surya, angin, panas bumi, bangunan hijau, efisiensi energi, hingga manufaktur peralatan kelistrikan di dalam negeri. Seluruh sektor tersebut dinilai memiliki keterkaitan dalam mendukung percepatan transisi energi.

Rangkaian kegiatan hari pertama turut diisi dengan pembukaan area pameran yang menghadirkan lebih dari 20 perusahaan dari sektor energi terbarukan dan kelistrikan. Sesi pleno dan breakout session pertama juga mulai digelar, bersamaan dengan pembukaan Networking Hub.

Hari pertama penyelenggaraan juga ditandai dengan Signing Ceremony for EBTKE yang menghasilkan 12 penandatanganan dukungan terhadap program EBTKE. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dan mempercepat implementasi berbagai agenda energi bersih.

Dukungan kebijakan pemerintah, meningkatnya minat terhadap investasi hijau, serta penguatan kerja sama regional membuat IndoEBTKE ConEx menjadi salah satu momentum untuk mendorong percepatan proyek energi berkelanjutan di Indonesia dan kawasan ASEAN.

IndoEBTKE ConEx ke-12 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Energy & Engineering Series 2026. Dalam rangkaian Energy Week yang sama, Electric & Power Indonesia (EPI) ke-24 juga diselenggarakan untuk mempertemukan pelaku industri energi dan kelistrikan.

Baca Juga: Prabowo Targetkan Lifting 610 Ribu Barel per Hari, 3 Strategi Kementerian ESDM Dianggap Tepat

Sinergi kedua agenda tersebut diharapkan dapat memperluas peluang kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, dan akademisi. Pertemuan tersebut juga diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan pasar dengan inovasi dan solusi yang relevan bagi pengembangan sektor EBT di Indonesia. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan