← Beranda
Harga Minyak Dunia Melemah, Pasar Cermati Potensi Pembukaan Selat Hormuz
Djati WaluyoKamis, 27 Agustus 2026 | 15.10 WIB
Harga minyak dunia (Istimewa)

JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kompak melemah pada perdagangan Kamis (27/8) pagi seiringdipicu harapan baru bahwa Selat Hormuz dapat kembali dibuka dan persediaan minyak Amerika Serikat (AS) yang naik.

Melansir Investing pada pukul 07:58 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun atau 0,01 poin atau 0,01 persen ke level 86,53 dollar per barel atau turun jika dibandingkan dengan perdagangan Rabu (26/8) pagi sebesar 86,54 dollar per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 0,33 poin atau 0,40 persen ke level 81,96 dollar per barel atau naik jika dibandingkan dengan perdagangan Rabu (26/8) pagi sebelumnya sebesar 80,57 dollar per barel.

Baca Juga: Demo Warga Pati di DPR Hari Ini, Cek Dua Tuntutan hingga Rekayasa Lalu Lintas

Melansir Reuters, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan dibukanya kembali sebagian jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dan adanya pengaturan pelayaran melalui kesepakatan.

"Pasar telah beralih dari memperkirakan kemungkinan besar terjadinya gangguan berkepanjangan dan eskalasi baru, menjadi memperkirakan pembukaan kembali sebagian jalur, negosiasi pengaturan pengiriman, dan risiko lebih rendah terjadinya konfrontasi militer baru," ujar Ole.

Menurutnya, kesepakatan yang kredibel dan dapat dengan cepat memulihkan lalu lintas melalui Selat Hormuz berpotensi menghilangkan sebagian premi risiko geopolitik dalam harga minyak.

Seorang sumber senior Iran mengatakan, Iran dan Oman tengah membahas rincian kesepakatan mengenai Selat Hormuz.

Baca Juga: I.League Naikkan Subsidi Klub Super League, dari Rp19 Miliar Jadi Rp 27 Miliar

Sementara itu, Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah naik 95.000 barrel menjadi 428,9 juta barrel pada pekan yang berakhir 21 Agustus 2026.

Angka itu lebih rendah dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memprediksi kenaikan persediaan sebesar 597.000 barrel.

EDITOR: Bintang Pradewo