JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kompak melemah hingga pada perdagangan Jumat (31/7) ditengah meluasnya konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Melansir Investing kontrak berjangka Brent turun 1,22 poin atau 1,40 persen, menjadi USD 86,00 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) turun1,20 poin atau 1,42 persen, menjadi USD 82,46 per barel.
Melansir Reuters, Pasar menilai usulan Arab Saudi untuk membentuk koalisi pertahanan maritim multinasional mampu meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak melalui jalur pelayaran strategis.
Inisiatif tersebut ditujukan untuk memperkuat keamanan di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden, serta telah memperoleh dukungan dari 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti.
Koalisi itu diusulkan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman pada pekan lalu mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, sehingga mengancam jalur ekspor minyak melalui Laut Merah yang menjadi alternatif ketika aktivitas di Selat Hormuz terganggu.
"Ada anggapan bahwa banyak pasokan yang siap masuk ke pasar begitu situasi ini terselesaikan, dan itu menjadi faktor yang menahan kenaikan harga secara drastis," ujar Mitra Again Capital John Kilduff dilansir Reuters, Jumat (31/7).
Sementara itu, Iran dan Oman melanjutkan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Sebelumnya, seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama jalur pelayaran tersebut oleh negara-negara di kawasan.
Ekonom senior bidang iklim dan komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, menilai perundingan tersebut dapat menjadi sinyal positif bagi pasar.
"Fakta bahwa Oman masih berdialog dengan Iran bisa menjadi indikasi adanya kemajuan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz," kata dia.
Selat Hormuz, yang setiap harinya dilalui sekitar seperlima arus perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, masih menjadi perhatian utama pasar sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Baca Juga: Status Pada Aplikasi SIKS-NG Berubah SI, Bansos BPNT Juli-September 2026 Siap Ditransfer
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan premi risiko pada harga minyak belum akan hilang selama keamanan pelayaran di Selat Hormuz belum benar-benar terjamin.
"Harapan terhadap diplomasi memang disambut baik, tetapi pasar tetap memperhitungkan kenyataan bahwa serangan masih terus berlangsung," kata Waterer.