← Beranda
Defisit Migas kian Lebar, Ekonom UGM: Indonesia Harus Lepas dari Ketergantungan SDA
Djati WaluyoSelasa, 7 Juli 2026 | 03.10 WIB
Ilustrasi pabrik petrokimia. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai Indonesia tidak lagi dapat mengandalkan sektor minyak dan gas bumi (migas) sebagai sumber pemasukan untuk negara. Pasalnya, defisit di sektor migas sudah terjadi sejak Indonesia menjadi net importer pada awal 2000-an.

Sebagaimana diketahui, Defisit migas yang melebar hingga USD 3,76 miliar menyeret neraca perdagangan nasional ke zona negatif sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026.

“Sudah jadi net importer itu 2003 atau berapa itu ya. Nah sehingga kalau misalnya hanya mengacu pada migas itu pasti defisit. Nah, memang masih ada harapan lain itu,” ujar Fahmy kepada JawaPos.com, Senin (6/7).

Fahmy mengatakan, kontribusi ekspor migas semakin menurun seiring dengan terbatasnya produksi dalam negeri. Sementara itu, harga komoditas migas dan batu bara di pasar global juga dinilai tidak menunjukkan kenaikan signifikan, termasuk saat terjadi konflik global yang biasanya mendorong lonjakan harga energi.

Baca Juga: Neraca Dagang Defisit usai 72 Bulan Surplus, Ekonom CORE Soroti Masalah Struktural Migas

"Batu bara itu juga harga di pasar dunia itu memang tidak naik secara signifikan tadi. Nah itulah yang kemudian menyebabkan defisit di bidang migas tadi," ujarnya.

Ia memperkirakan kondisi tersebut diperkirakan akan terus berlanjut karena ketergantungan pada sumber daya alam (SDA) tidak dapat menjadi tumpuan jangka panjang bagi pendapatan negara.

Menurutnya, upaya yang selama ini dilakukan seperti pembatasan produksi komoditas tertentu tidak selalu efektif mendorong kenaikan harga global, bahkan dapat menimbulkan dampak lain di dalam negeri, seperti gangguan pasokan energi.

"Jadi, kalau kemarin pemadaman bergilir itu menurut saya masalah utamanya juga kekurangan pasokan batu bara tadi," ucapnya.

Lanjutnya, keterbatasan sektor SDA yang bersifat tidak terbarukan telah membuat produksi minyak nasional terus menurun dan sulit ditingkatkan meski telah dilakukan berbagai upaya optimalisasi.

Baca Juga: Setelah Surplus 72 Bulan Berturut-turut, Neraca Perdagangan Defisit USD 1,61 Miliar pada Era Prabowo

"Misalnya minyak, minyak itu kan menurun terus sampai tinggal 600 ribu barel per hari. Tapi kalau sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan produksi ya tidak naik sama sekali," ungkapnya.

Ia menilai satu-satunya arah yang dapat ditempuh Indonesia adalah memperkuat hilirisasi sumber daya alam agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Proses pengolahan dari hulu ke hilir dinilai dapat menciptakan ekosistem industri yang lebih kuat dan stabil.

"Kalau hanya dijual migas atau batu bara itu hasilnya rendah dan harganya unpredictable. Tapi kalau dilakukan hilirisasi, akan terbentuk ekosistem industrialisasi," pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati