JawaPos.com - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi tidak bisa langsung turun meski harga minyak dunia sudah lebih murah. Faktor biaya pengadaan, distribusi hingga nilai tukar rupiah menjadi faktor yang mempengaruhi harga BBM nonsubsidi.
Pakar Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, Yayan Satyaki mengatakan, perdamaian Amerika Serikat dan Iran akan menekan harga minyak dunia. Meski begitu, dia menyakini kembalinya harga Pertamax pada kisaran Rp 12.300 tidak akan terjadi dalam waktu singkat.
"Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp 12.300 lagi tidak akan secepat itu," kata Yayan saat dihubungi, Kamis (18/6).
Dia memperkirakan, harga minyak dapat terkoreksi sekitar 1 hingga 3 persen per hari dan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Kendati demikian, arah pergerakan harga energi global masih akan sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan tingkat keberhasilan implementasi perdamaian antara kedua negara.
Hal lain yang perlu dicermati adalah harga minyak Brent yang saat ini menunjukkan tren pelemahan. Kondisi ini dipercaya bisa terjadi hingga awal Juli 2026.
"Kita lihat harga Brent semakin turun, dan kemungkinannya akan terus diturunkan hingga awal Juli. Setelah itu berpotensi naik lagi pada awal Agustus hingga September ketika musim panas berakhir," imbuhnya.
Yayan menilai, kondisi minyak dunia saat ini belum berada dalam keseimbangan harga. Berdasarkan proyeksi Short Term Energy Outlook (STEO) yang diterbitkan Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, pasar masih berada dalam fase transisi.
Menurutnya, peningkatan produksi minyak AS yang diperkirakan mencapai 14 juta barel per hari akan menjadi salah satu faktor utama yang menahan kenaikan harga minyak dunia pascaperdamaian. Dengan asumsi konflik berakhir dan pasokan energi global kembali stabil, Yayan memperkirakan harga minyak dunia dapat bergerak pada rentang USD 80-90 per barel hingga akhir tahun. Selanjutnya, harga berpotensi turun lebih ke kisaran USD 75-85 per barel pada akhir tahun atau awal tahun depan.
Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, kembalinya harga Pertamax di kisaran yang sama sulit terjadi dalam waktu singkat. Sejumlah faktor mempengaruhi kondisi ini.
“Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung, karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata, melainkan merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak” kata Josua.
Dalam menentukan harga BBM non subsidi, pemerintah perlu menghitung semua faktor tersebut menggunakan rata-rata periode tertentu. Sehingga tidak terpaku pada harga harian.
Baca Juga: Eksekusi Eks Hotel Sultan Senayan Digelar Hari Ini, 3.161 Aparat TNI Polri Disiagakan
“Bukan langsung diteruskan sebagai penurunan harga di SPBU. Sementara untuk BBM non subsidi, penyesuaian lebih mengikuti mekanisme pasar, tetapi tetap tidak bergerak harian karena memakai formula resmi dan pengawasan pemerintah," tambahnya.
Atas dasar itu, pemerintah perlu bersikap transparan dalam menyampaikan komunikasi publik. Sehingga, harga BBM non subsidi yang turun tidak menjadi bahan politisasi.
"Berdasarkan perhitungannya, harga keekonomian ideal Pertamax saat ini berada di kisaran Rp 16.500 per liter, atau sekitar Rp250 lebih tinggi dibandingkan harga jual yang berlaku saat ini. Dengan harga jual baru Rp 16.250, Pertamax masih dijual di bawah harga keekonomian sekitar Rp250 per liter," ungkap Josua.