JawaPos.com - Pemanfaatan Compressed Biomethane Gas (CBG) dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dinilai punya potensi besar mendukung transisi energi nasional.
Selain menekan emisi gas rumah kaca, pengembangan CBG juga diyakini kurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG).
Pandangan itu disampaikan Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop Situngkir dalam forum Climate Policy Initiative (CPI) bertema Peluang dan Strategi Pembiayaan Kegiatan Pengurangan Emisi Metana untuk Sektor Industri di Indonesia yang digelar di Jakarta.
Menurut Hokkop, Indonesia punya peluang besar mengubah limbah industri kelapa sawit menjadi sumber energi bersih bernilai ekonomi tinggi.
Dengan bahan baku melimpah, dukungan teknologi, serta akses pembiayaan mulai terbuka, pengembangan biomethane siap memasuki tahap implementasi lebih luas.
"Kalau industri sawit ini bisa kita manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan," kata Hokkop.
Data PLN EPI menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah cair mencapai 130 juta meter kubik setiap tahun.
Namun, sebagian besar limbah tersebut masih belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber energi alternatif.
Di sisi lain, POME merupakan salah satu sumber emisi metana yang cukup besar. PLN EPI memperkirakan limbah sawit menyumbang emisi sekitar 20 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) setiap tahun.
"Kita melihat sumber emisi dari POME ini mencapai sekitar 20 juta ton karbon ekuivalen. Hampir 90 persen sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru," ujarnya.
Pemanfaatan biomethane dari limbah sawit dinilai sejalan dengan target pemerintah meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) hingga 44-48 persen pada 2030.
Ini sekaligus mendukung pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060.
Untuk percepat pengembangan sektor itu, PLN EPI tengah membangun ekosistem bisnis CBG yang terintegrasi.
Skema tersebut mencakup penyediaan bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, hingga pengembangan pasar dan distribusi.
Dalam ekosistem tersebut, PLN EPI berperan sebagai agregator dan offtaker yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan.
Mulai dari pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi, lembaga keuangan, pelaku industri, hingga sektor ketenagalistrikan.
"Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat," tutur Hokkop.
Salah satu proyek yang dipersiapkan adalah pemanfaatan Bio-CBG untuk skema cofiring di PLTGU Belawan.
Pada tahap awal, satu turbin gas berkapasitas 130 megawatt (MW) dengan porsi cofiring 2,5 persen memerlukan sekitar 450 MMBTUD Bio-CBG.
Jumlah itu dapat dipenuhi dari satu fasilitas pengolahan POME.
Jika diterapkan di empat turbin PLTGU Belawan, dibutuhkan empat fasilitas CBG dengan total investasi sekitar USD 20 juta.
Program tersebut diperkirakan bisa menekan emisi hingga sekitar 500 ribu ton CO2e.
Menurut Hokkop, proyek di Belawan akan menjadi model integrasi biomethane ke sistem kelistrikan nasional.
Pendekatan cofiring memungkinkan penggunaan infrastruktur pembangkit gas yang sudah ada sehingga peningkatan energi terbarukan dapat dilakukan lebih cepat.
Ini dilakukan tanpa memerlukan pembangunan pembangkit baru dalam jumlah besar.
Potensi pengembangan CBG secara nasional juga dinilai sangat menjanjikan.
Dari total kapasitas pembangkit gas mencapai 18,4 gigawatt (GW), kebutuhan biomethane untuk skema cofiring 2,5 persen diperkirakan sekitar 60.000 MMBTUD.
Ini melibatkan sekitar 200 pabrik kelapa sawit.
Jika skenario tersebut terealisasi, potensi pengurangan emisi bisa mencapai sekitar 14 juta ton CO2e.
Tak hanya bermanfaat lingkungan, bisnis biomethane juga memiliki nilai ekonomi menarik.
Berdasarkan simulasi PLN EPI, satu proyek CBG bisa menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun sekaligus mengurangi emisi sekitar 700 ribu ton CO2e.
PLN EPI telah menyusun peta jalan pengembangan bisnis CBG hingga 2030.
Kapasitas produksi ditargetkan meningkat dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030.
Target itu didukung pembangunan tiga fasilitas CBG yang ditujukan untuk memasok kebutuhan pembangkit listrik dan mendukung program dedieselisasi.
"Bioenergi menjadi jembatan antara transisi energi, ketahanan energi, dan ekonomi kerakyatan.
Limbah yang selama ini menjadi sumber emisi dapat diubah menjadi sumber energi yang bernilai tambah sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional," tukas Hokkop.