JawaPos.com - Proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatera pascagangguan transmisi interkoneksi menuntut penanganan yang super hati-hati. Langkah bertahap wajib diambil demi menjaga stabilitas pasokan listrik agar kembali normal tanpa memicu risiko fatal.
Mengingat jaringan interkoneksi Sumatera membentang hingga ribuan kilometer dan melibatkan banyak pembangkit, proses pemulihan yang relatif cepat ini dinilai menjadi bukti penanganan yang cukup berhasil di lapangan.
Mengapa Pemulihan Listrik Interkoneksi Tidak Bisa Instan?
Memulihkan sistem kelistrikan berskala besar ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M Kholid Syeirazi, menegaskan bahwa seluruh komponen sistem yang lumpuh harus disinkronkan kembali secara stabil.
"Pemulihan sistem kelistrikan skala besar memang harus dilakukan penuh kehati-hatian. Yang dikejar bukan sekadar cepat menyala, tetapi memastikan sistem kembali normal secara aman dan andal," ujar Kholid dalam keterangannya, Minggu (31/5).
Dalam sistem interkoneksi, indikator utama keseimbangan antara daya pembangkit dan beban pelanggan terletak pada kestabilan frekuensi. Jika gangguan besar membuat sejumlah pembangkit lepas dari sistem, frekuensi akan merosot tajam dan berpotensi memicu efek domino yang lebih parah.
"Kalau recovery dilakukan terlalu cepat tanpa sinkronisasi yang tepat, risikonya frekuensi kembali turun dan memicu pembangkit lepas lagi dari sistem. Itu yang harus dihindari," jelasnya.
Risiko Agresif: Ancaman Blackout Susulan
Oleh karena itu, petugas di lapangan harus melakukan pemulihan secara bertahap dan terukur. Langkah ini krusial agar sinkronisasi antar-pembangkit tetap terjaga, baik dari segi frekuensi, tegangan, hingga sudut fasa sistem.
Jika proses pemulihan dilakukan terlalu agresif, ketidakseimbangan antara pasokan listrik dan beban justru bisa berakibat fatal. Nyawa dari sistem interkoneksi Sumatera ini bertumpu pada stabilitasnya.
"Dalam sistem interkoneksi sebesar Sumatera, stabilitas sistem menjadi prioritas utama. Recovery bertahap justru diperlukan agar sistem benar-benar pulih secara aman," katanya.
Tantangan Teknis Pembangkit Listrik PLTU
Alasan lain di balik lamanya proses pemulihan adalah karakteristik dari pembangkit thermal seperti PLTU. Jenis pembangkit ini memerlukan waktu ekstra untuk bisa kembali masuk ke dalam sistem kelistrikan Sumatera.
Prosesnya harus melewati berbagai tahapan teknis yang rumit, mulai dari pemanasan boiler, pembentukan tekanan uap, sinkronisasi frekuensi, hingga stabilisasi beban.
Baca Juga: Pengembangnya Digugat Pemerintah Sebabkan Bencana Sumatera, tapi PLTA Batang Toru Tetap Beroperasi
"PLTU memang tidak bisa serentak masuk kembali ke sistem. Ada tahapan teknis yang harus dijalankan agar unit pembangkit tetap aman dan tidak mengalami gangguan saat sinkronisasi," ujarnya.
Melihat seluruh sistem kelistrikan Sumatera yang kini sudah kembali normal, penanganan gangguan interkoneksi skala besar ini dinilai sudah berjalan sangat terukur.
"Dalam penanganan gangguan sistem interkoneksi, kehati-hatian dan tahapan recovery yang terukur menjadi faktor utama agar pemulihan berjalan stabil dan tidak memicu blackout susulan. Saya melihat proses pemulihan yang dilakukan sudah cukup baik sehingga sistem bisa kembali normal dengan aman," imbuhnya.