JawaPos.com - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menilai, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memiliki peran strategis dalam kegiatan riset kelapa sawit. BPDP tercatat sudah memberikan dukungan dana terhadap sekitar 400 judul penelitian.
Tungkot mengatakan, riset yang didukung BPDP meliputi aspek hulu hingga hilir industri kelapa sawit. Topik yang diangkat beraneka ragam, mulai dari pengembangan material baru berbasis sawit dan biomassa yang menghasilkan nilai tambah tinggi, hingga studi di lingkungan perkebunan dan kajian sertifikasi.
"Riset yang dibiayai BPDP mulai dari hulu hingga hilir sektor kelapa sawit. Dari sudut ini, komitmen BPDP dalam mendukung riset-riset sawit sangat jelas terlihat," kata Tungkot di Jakarta, Selasa (7/4).
Tungkot berharap dukungan semacam ini bisa terus berlanjut. Selain itu, perlu ada evaluasi untuk memperoleh masukan strategis dalam meningkatkan efektivitas peran lembaga tersebut di bidang riset.
Evaluasi ini bisa meliputi hasil riset tidak sebatas menjadi publikasi ilmiah. Ke depan perlu belum berlanjut ke tahap implementasi praktis di industri.
"Yang diperlukan industri sawit adalah inovasi bisnis. Agak ironi memang, riset-riset sawit semakin banyak tetapi produktivitas sawit stagnan bahkan menurun," imbuhnya.
Dia mencontohkan, banyak penelitian terkait penyakit ganoderma yang menyerang tanaman kelapa sawit, namun hingga saat ini belum terdapat kebijakan nasional yang solutif dalam penanggulangan penyakit tersebut di Tanah Air.
"Inilah tantangan ke depan yang harus dilakukan bagaimana mempercepat implementasi hasil riset (invensi) menjadi inovasi bisnis dan kebijakan," jelasnya.
Melihat kondisi ini, Tungkot menyakini perlu ada perubahan paradigma riset untuk industri sawit ke depan dari berdasarkan supply-driven menjadi ke market-driven. Dengan begitu, hasil riset bisa membantu menyelesaikan persoalan di lapangan.
"Secanggih apapun riset jika tidak bisa menghasilkan solusi bagi masalah riil yang dihadapi industri sawit, tidak banyak gunanya," ucapnya.
"Kalau persepsi masyarakat tentang sawit semakin jelek dan dibiarkan berlarut-larut maka secara perlahan akan menghancurkan masa depan sawit. Era informasi saat ini jangan anggap enteng tentang persepsi," pungkas Tungkot.