← Beranda
2 Tahun Prabowo-Gibran, Industri Otomotif Masih Berat, Penjualan Mobil Belum Pulih
Nanda Prayoga• Selasa, 20 Oktober 2026 | 22.00 WIB
Suasana pameran otomotif di GAIKINDO Jakarta Auto Week (GJAW) 2025, di ICE BSD City Tangerang, Banten, Jumat (21/11/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Daya beli masyarakat menjadi salah satu persoalan yang masih membayangi perekonomian Indonesia. Di tengah aktivitas ekonomi yang terus berjalan, sebagian masyarakat, terutama kelompok menengah dan bawah, menghadapi tekanan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Kenaikan biaya hidup yang tidak selalu diimbangi pertumbuhan pendapatan membuat ruang belanja rumah tangga semakin terbatas.

Tekanan daya beli ini menjadi penting untuk dicermati karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional.

Dewan Ekonomi Nasional dalam laporan September 2026 menilai konsumsi rumah tangga masih tumbuh, tetapi tekanan terhadap daya beli masyarakat menengah ke bawah meningkat.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan mencapai 3,28 persen pada September 2026. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan masyarakat mempertahankan pola konsumsi di tengah tekanan biaya hidup.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa daya beli masyarakat menurun terlihat dari pertumbuhan kredit properti yang melemah, sementara gadai dan pinjaman online (pinjol) naik tajam. 

"Artinya untuk bertahan hidup masyarakat andalkan utang jangka pendek. Sebagian kelas menengah lakukan downgrade dengan membeli barang yang lebih murah, terjadi baik pada kendaraan bermotor dan kebutuhan pokok," ungkap Bhima kepada JawaPos.com.

Adapun tekanan daya beli juga dipengaruhi kebijakan pemerintah, terutama pungutan dan pajak yang dinilai semakin membebani masyarakat. Perubahan ketentuan PPh final bagi UMKM serta pengetatan penagihan pajak terhadap kelompok kelas menengah dinilai berpotensi mengurangi pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) masyarakat. 

"Prospek daya beli masih akan tertekan dan saya khawatir indonesia akan melewatkan Nataru dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang lebih rendah dibanding tahun lalu," jelasnya.

Dia pun mengungkapkan solusi untuk mengatasi daya beli masyarakat yang tengah menurun, yakni turunkan tarif PPN menjadi 8 persen, memberikan insentif pada UMKM, serta membatalkan kebijakan pph final yang baru. 

"Kemudian ciptakan lapangan kerja di sektor industri lebih besar lagi dan bansos tunai ke kelas menengah sebesar 30 persen dari upah minimum," jelasnya.

 

Penjualan di Sektor Otomotif Ikut Lesu

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) memang menargetkan penjualan mobil nasional sebanyak 850 ribu pada 2026. 

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, pihaknya masih optimistis terhadap pencapaian target tersebut. Namun, sisa waktu hingga akhir tahun akan menjadi periode penting untuk melihat sejauh mana pasar mampu mempertahankan pergerakannya.

"Kita ada sekian bulan yang tersisa. Mudah-mudahan ini terus bisa berjalan di 80 ribuan. Kalau itu tercapai, kita mencapai 850 (ribu). Kita harus bersyukur," kata Kukuh di sela-sela konferensi pers Gaikindo Auto Week (GAW) 2026 di Jakarta, dikutip Senin (19/10).

Adapun target ini masih jauh dari angka 1 juta. Terakhir kali penjualan otomotif tembus 1 juta terjadi tiga tahun lalu pada 2023.

Saat itu, penjualan wholesales (dari pabrik ke diler) mencapai 1.005.802 unit dan penjualan retail (dari diler ke konsumen) mencapai 998.059 unit.

Berdasarkan data Gaikindo yang diterima JawaPos.com, pada tahun ini sendiri total penjualan wholesales sepanjang Januari-September 2026 baru tercatat 679.020 unit.

Selaras dengan itu, penjualan retail di periode yang sama juga berada di angka 676.223 unit.

Sementara itu, Riyanto, Peneliti dan Pengamat Otomotif LPEM UI, turut pesimistis bahwa penjualan otomotif akan kembali berada di angka penjualan 1 juta seperti yang terjadi pada 2023.

"Kalau dilihat penjualan sampai September, pasar mobil kita memang lebih baik dari tahun lalu. Tapi untuk tembus 1 juta, prediksi saya belum. Mungkin 900 ribu unit akan dicapai, dengan demikian target 850 ribu dapat (dicapai)," jelasnya.

Dia juga menyoroti bahwa kapasitas produksi pabrikan masih jauh dari prediksi total produksi yang akan terjadi tahun ini.

"Yang penting juga ekspor. Tahun lalu ekspor mencapai 500 ribu lebih dikit. Kalau tahun ini bisa ekspor sama dengan tahun lalu maka produksi akan sekitar 1,4 juta unit.  Ini juga masih jauh dari kapasitas produksi  pabrikan kita yang mencapai sekitar 2,5 juta unit, jadi utilisasi kapasitas produksi baru sekitar 60 persen," jelasnya.

 

Instruksi Beli Produk Rakitan Lokal Dorong Kenaikan Penjualan Mobil Tahun Ini

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti, menjelaskan bahwa kenaikan penjualan mobil yang terjadi saat ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti masifnya belanja kendaraan yang dilakukan pemerintah itu sendiri.

"Sektor pengadaan armada dan kendaraan dinas oleh berbagai instansi/lembaga negara mengalami peningkatan signifikan pada periode ini. ⁠Adanya instruksi untuk mengutamakan pembelian produk hasil rakitan lokal memberikan porsi penyerapan pasar yang sangat besar bagi pabrikan dalam negeri," kata Esther kepada JawaPos.com.

Sementara itu, Esther tak memungkiri pesatnya adopsi kendaraan listrik atau EV. Berdasarkan data Gaikindo, wholesales mobil listrik mencapai 117.218 unit sepanjang Januari-September 2026. Jumlah tersebut meningkat signifikan dengan angka 112,25 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 55.225 unit.

Meski begitu, penjualan ini didorong oleh sejumlah fasilitas insentif fiskal yang diterapkan oleh  pemerintah.

"Seperti pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), yang membuat harga mobil listrik menjadi jauh lebih efisien dibandingkan kendaraan konvensional. Penjualan kelompok merek non-Astra melonjak hingga 30 persen. Kehadiran produsen baru seperti BYD dan Denza yang tumbuh 74 persen menjadi pemicu utama gairah pasar," ungkapnya.

Tak hanya itu, maraknya peluncuran model-model kendaraan baru dengan desain modern, teknologi canggih, dan harga kompetitif, menurutnya, turut berhasil menarik minat konsumen kelas menengah ke atas.

Bahkan, dia menegaskan kenaikan akumulatif ini sangat dipengaruhi oleh kesuksesan pameran besar seperti Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang mendongkrak pesanan kendaraan secara masif.

"Faktor teknis ekonomi juga berpengaruh; angka pertumbuhan tahunan yang tinggi ini terjadi karena perbandingan performa penjualan pada tahun sebelumnya (2025) berada di level yang relatif lebih rendah," ungkap dia.

EDITOR: Estu Suryowati