JawaPos.com - Kebakaran hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia tidak hanya merugikan perusahaan penerbangan akibat tidak dapat mengoperasikan pesawat tetapi juga dapat merugikan masyarakat.
Pengamat penerbangan, Alvin Lie, mengatakan jumlah penerbangan yang batal akibat karhutla belum dapat dihitung secara pasti. Pasalnya, kondisi di sejumlah wilayah masih dinamis sehingga operasional penerbangan dapat dibuka dan ditutup kembali dalam waktu singkat.
“Kalau dari kebakaran hutan ini saya belum menghitung berapa banyak penerbangan yang batal. Karena sampai sekarang masih berlangsung dan masih sangat dinamis,” ujar Alvin kepada JawaPos.com, Minggu (18/10).
Alvin mencontohkan, operasional penerbangan di Palembang dan Batam dapat kembali dibuka, tetapi kemudian ditutup lagi akibat kondisi yang berubah.
Karena itu, ia belum meminta data pembatalan penerbangan dari Indonesia National Air Carriers Association (INACA) maupun Kementerian Perhubungan.
Meski demikian, Alvin menegaskan bahwa dampak ekonomi karhutla terhadap sektor penerbangan tidak hanya ditanggung maskapai.
Baca Juga: WALHI Desak Penegakan Hukum Karhutla Tak Hanya Sasar Pelaku di Lapangan
Penyelenggara bandara dan penyedia layanan navigasi penerbangan, AirNav Indonesia, juga berpotensi mengalami kerugian akibat terganggunya operasional.
Menurutnya, kerugian yang lebih besar juga perlu dilihat dari sisi pengguna jasa penerbangan. Pembatalan atau gangguan penerbangan dapat membuat masyarakat gagal menjalankan berbagai agenda, baik untuk kepentingan kedinasan, bisnis, maupun urusan keluarga.
“Kerugian paling besar tentunya adalah pengguna jasa penerbangan. Karena mereka tidak dapat melaksanakan rencana-rencana kegiatannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak tersebut dapat mencakup masyarakat yang hendak mengunjungi keluarga yang sakit, menghadiri pemakaman, hingga mengikuti tes penerimaan pekerja.
Kondisi itu menunjukkan bahwa kerugian akibat karhutla tidak cukup dihitung berdasarkan kerugian finansial perusahaan penerbangan dan pengelola bandara semata.
Selain penumpang, sektor angkutan kargo udara juga berpotensi terdampak. Alvin menyebut, kargo udara umumnya mencakup barang bernilai tinggi atau barang yang memiliki masa simpan pendek sehingga membutuhkan penanganan dan pengiriman tepat waktu.
Apabila pengiriman tertunda selama beberapa hari, barang yang mudah rusak atau memiliki masa kedaluwarsa singkat berisiko kehilangan nilai ekonominya.
“Ada juga, nah yang menarik adalah kargo udara. Itu umumnya adalah barang yang nilainya tinggi, atau umurnya pendek dan nilainya tinggi. Nah kalau yang umurnya pendek, begitu tidak bisa diangkut berhari-hari, barang itu bisa menjadi rusak, atau kedaluarsa, dan menjadi tidak berharga lagi,” ucapnya.
Karena itu, Alvin menilai kerugian ekonomi akibat gangguan penerbangan yang dipicu karhutla perlu turut memperhitungkan dampak terhadap distribusi barang dan aktivitas masyarakat. Meski begitu, ia mengaku belum dapat memperkirakan besaran total kerugian yang ditimbulkan.
Di luar dampak ekonomi, Alvin menyoroti risiko kesehatan masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak asap karhutla. Menurut dia, aspek kesehatan perlu menjadi perhatian utama pemerintah, terutama bagi warga yang berisiko mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Ia mengaku belum memperoleh informasi mengenai program mitigasi pemerintah untuk membantu masyarakat terdampak asap dalam memulihkan kondisi kesehatannya.
“Saya lebih khawatirkan adalah kerugian masyarakat yang terdampak asap kebakaran hutan, terutama adalah kesehatan mereka,” ungkapnya.