← Beranda
Target Ekonomi 8 Persen Prabowo-Gibran Dinilai Sulit Tercapai, Ini Penyebabnya
Djati Waluyo• Kamis, 15 Oktober 2026 | 00.00 WIB
Target Ekonomi 8 Persen Prabowo-Gibran Dinilai Sulit Tercapai, Ini Penyebabnya

 

JawaPos.com - Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dinilai sulit tercapai jika pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tetap mempertahankan arah kebijakan yang diterapkan selama dua tahun terakhir.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan potensi Indonesia untuk tumbuh sampai 8 persen masih terbuka lebar jika pemerintah dapat memaksimalkannya dengan sejumlah kebijakan yang tepat.

“Intinya begini, untuk sampai mencapai 8 persen itu hampir-hampir impossible, kalau saya bilang pada saat sekarang.  Dengan cara yang dengan melihat kacamata pada saat sekarang,” ujar Faisal dalam diskusi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo Gibran, Jakarta, Rabu (14/10).

Faisal menjelaskan, potensi pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen perlu dibedakan dari kemampuan untuk merealisasikannya. Menurut dia, pencapaian target tersebut sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi yang terbentuk hingga 2029.

Ia mengatakan, konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) merupakan dua komponen penting yang perlu diperhatikan karena memiliki porsi besar dalam produk domestik bruto (PDB).

Konsumsi rumah tangga memang menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan dua periode pemerintahan sebelumnya.

Namun, pertumbuhannya yang berada di kisaran 5,1 persen dinilai belum cukup untuk membawa ekonomi menuju pertumbuhan 8 persen, mengingat kontribusinya mencapai sekitar 55 persen terhadap PDB.

Menurutnya, salah satu persoalan utama terletak pada kondisi kelompok masyarakat kelas menengah. Sejak pandemi Covid-19 pada 2020, kondisi kelompok tersebut terus mengalami tekanan dan belum sepenuhnya pulih.

Di sisi lain, intervensi pemerintah dinilai lebih banyak menjangkau kelompok masyarakat berpendapatan rendah, sementara persoalan yang dihadapi kelas menengah belum tertangani secara memadai.

Padahal, kelompok menengah memiliki kontribusi besar terhadap konsumsi rumah tangga. Karena itu, selama daya beli dan kondisi ekonomi kelompok tersebut belum membaik, prospek pertumbuhan konsumsi rumah tangga ke depan dinilai masih terbatas.

“Sehingga maknanya adalah prospek ke depan kalau mau bagus konsumsi rumah tangganya, ini prospeknya kurang baik karena masalah yang di tengah yang mayoritas ini belum diatasi. Jadi penyakitnya belum diatasi,” ujarnya.

 

Investasi Swasta Perlu Digenjot

Selain konsumsi rumah tangga, Faisal menyoroti pertumbuhan investasi yang rata-rata berada di kisaran 5,5 persen. Meski berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, capaian tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan untuk mendekati target pertumbuhan 8 persen.

Dia menjelaskan, investasi yang tercermin dalam PMTB berasal dari sejumlah sumber, mulai dari pemerintah, BUMN, hingga sektor swasta.

Namun, pertumbuhan investasi saat ini dinilai lebih banyak ditopang oleh pemerintah dan BUMN, sedangkan investasi swasta masih relatif lemah.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena investasi swasta berperan penting dalam memperluas kegiatan usaha, menciptakan lapangan kerja formal, serta memperkuat konsumsi dan kinerja ekspor.

Faisal menilai, peningkatan investasi yang didorong pemerintah dan BUMN semestinya berjalan beriringan dengan ekspansi sektor swasta. Dengan begitu, pertumbuhan investasi tidak hanya bertumpu pada belanja negara dan perusahaan milik negara.

“Jadi, sekarang itu terjadi lagi bahwa pertumbuhan swastanya itu sangat kecil sekali. Jadi capital expenditure growth itu hampir stagnan,” ungkapnya.

EDITOR: Estu Suryowati